
Banyak yang beranggapan bahwa ketenangan akan datang ketika memiliki banyak harta, jabatan tinggi, atau segala keinginan terpenuhi. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang bergelimang kemewahan justru masih merasa gelisah dan kurang bahagia.
Dalam Islam, keberkahan dan ketenangan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya materi yang dimiliki, tetapi dari kedekatan seseorang dengan Allah SWT. Hati yang dekat kepada Allah akan lebih mudah menerima setiap keadaan, baik saat lapang maupun sempit. Lalu, bagaimana cara agar hidup menjadi lebih berkah dan tenang? Berikut lima langkah yang dapat kita lakukan.
Shalat adalah tiang agama sekaligus sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika seorang Muslim menjaga shalatnya, ia sedang membangun hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta.
Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Shalat yang dilakukan dengan khusyuk dapat menenangkan hati dan mengurangi beban pikiran. Dalam setiap rakaat, kita mengadu kepada Allah, memohon pertolongan, serta menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Oleh karena itu, menjaga shalat tepat waktu merupakan salah satu kunci utama untuk memperoleh ketenangan hidup.
Di tengah kesibukan dunia, banyak orang lupa memberikan waktu untuk menenangkan hati dengan mengingat Allah. Padahal, dzikir adalah obat bagi kegelisahan dan kecemasan.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. At-Talaq: 2-3)
Membaca Al-Qur’an, mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar secara rutin akan membuat hati lebih damai. Selain itu, dzikir juga menjadi pengingat bahwa segala sesuatu berada dalam kendali Allah SWT. Ketika hati selalu terhubung dengan-Nya, berbagai masalah hidup terasa lebih ringan untuk dihadapi.
Sebagian orang takut bersedekah karena khawatir hartanya berkurang. Padahal, Islam mengajarkan bahwa sedekah justru menjadi jalan datangnya keberkahan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena sifat pemaaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Sedekah bukan hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi pemberinya. Dengan membantu sesama, hati menjadi lebih lapang dan terhindar dari sifat kikir. Selain itu, sedekah juga menjadi salah satu sebab datangnya pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.
Tidak harus dalam jumlah besar. Senyum yang tulus, membantu tetangga, atau memberikan makanan kepada yang membutuhkan juga termasuk bentuk sedekah yang bernilai di sisi Allah.
Salah satu penyebab hati tidak tenang adalah terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki. Kita sering membandingkan hidup dengan orang lain hingga lupa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.
Padahal Allah SWT telah menjanjikan:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui sikap dan perbuatan. Orang yang bersyukur akan lebih mudah merasa cukup dan menikmati hidup. Ia tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain karena menyadari bahwa setiap orang memiliki rezeki dan ujian yang berbeda.
Ketika rasa syukur tumbuh dalam hati, ketenangan pun akan mengikuti.
Manusia sering merasa cemas karena ingin mengendalikan segala sesuatu. Padahal tidak semua hal berada dalam kemampuan kita. Setelah melakukan usaha terbaik, seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
(QS. At-Talaq: 3)
Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Ketika seseorang bertawakal, ia tidak lagi terbebani oleh ketakutan yang berlebihan terhadap masa depan. Ia yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai dengan hikmah dan kasih sayang-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi No. 2344, Ibnu Majah No. 4164)
Mari jadikan hidup lebih bermakna dengan memperbanyak amal kebaikan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi melalui program-program kebaikan bersama BAZNAS Kota Sukabumi .
Mari sempurnakan ikhtiar meraih keberkahan dengan menunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. BAZNAS Kota Sukabumi merupakan lembaga resmi pengelola zakat yang menghimpun dan menyalurkan ZIS kepada masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai program pemberdayaan dan kemanusiaan.
Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah Anda dengan mudah dan aman melalui:
BAZNAS Kota Sukabumi – Bayar Zakat Online
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Satu kebaikan yang Anda tunaikan hari ini dapat menjadi sebab hadirnya keberkahan, ketenangan, dan kebahagiaan bagi banyak orang.
BAZNAS Kota Sukabumi
Melayani umat, menebar manfaat, menguatkan keberkahan.