Berapa Banyak Kebaikan yang Tidak Pernah Terjadi Hanya karena Kita Berkata, “Nanti”?
Ada satu kata yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam dapat mengubah banyak hal dalam hidup kita, nanti.
Nanti belajar.
Nanti meminta maaf.
Nanti membantu.
Nanti bersedekah.
Nanti memperbaiki diri.
Nanti mulai lebih dekat dengan Allah.
Tidak ada yang salah dengan menunda sesuatu sesekali. Kita memang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan keadaan. Tetapi masalah muncul ketika “nanti” tidak lagi menjadi keputusan sementara, melainkan berubah menjadi kebiasaan.
Sebab tidak semua kebaikan gagal dilakukan karena kita tidak mampu. Ada kebaikan yang tidak pernah terjadi karena kita terlalu lama menunggu waktu yang dianggap tepat.
Manusia memiliki alasan yang terdengar masuk akal untuk menunda.
“Kalau sudah punya lebih, saya akan membantu.”
“Kalau sudah selesai kuliah, saya akan belajar lebih serius.”
“Kalau keadaan sudah membaik, saya akan mulai bersedekah.”
“Kalau sudah tidak sibuk, saya akan memperbaiki ibadah.”
Masalahnya, kehidupan hampir tidak pernah benar-benar kosong dari kesibukan.
Selalu ada pekerjaan berikutnya. Ada kebutuhan lain. Ada target baru. Ada masalah yang harus diselesaikan.
Akhirnya, kita terus menunggu kondisi yang sempurna untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dimulai dari sekarang.
Di sinilah kita perlu bertanya tentang “apakah kita benar-benar belum mampu, atau sebenarnya hanya belum bersedia memulai?”
Pertanyaan ini penting karena keduanya sangat berbeda.
Dalam kehidupan modern, kita mengenal istilah procrastination yaitu sebuah kecenderungan menunda sesuatu meskipun kita tahu bahwa hal tersebut perlu dilakukan.
Namun ada bentuk penundaan yang lebih jarang kita bicarakan yakni menunda kebaikan.
Kita mengetahui ada seseorang yang membutuhkan bantuan, tetapi berpikir, “Nanti saja.”
Kita ingin menyisihkan sebagian rezeki, tetapi merasa bulan depan akan lebih memungkinkan.
Kita ingin belajar, tetapi terus menunggu motivasi.
Kita ingin berubah, tetapi merasa belum siap.
Yang berbahaya bukan hanya satu kebaikan yang tertunda.
Yang berbahaya adalah ketika penundaan berulang kali membuat kita terbiasa menjadi orang yang tidak bertindak.
Lama-kelamaan, hati dapat terbiasa dengan kalimat yang bilang bahwa “Saya sebenarnya ingin, hanya belum sekarang.”
Padahal, kita tidak pernah benar-benar dijanjikan akan memiliki “nanti”.

Allah SWT berfirman:
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan…”
(QS. Al-‘Asr: 1–3)
Menariknya, Allah bersumpah dengan waktu.
Bukan tanpa alasan.
Waktu adalah sesuatu yang terus berkurang meskipun kita tidak merasa sedang kehilangan apa pun.
Uang yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kesempatan tertentu mungkin masih dapat datang kembali. Tetapi satu jam yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah kita memiliki niat baik.
Niat yang terus-menerus tidak diwujudkan pada akhirnya hanya menjadi keinginan yang tidak pernah menghasilkan perubahan.
Sering kali kita membayangkan kebaikan dalam ukuran yang terlalu besar.
Kita berpikir membantu berarti harus memberikan banyak.
Belajar berarti harus memiliki waktu berjam-jam.
Berbagi berarti harus menunggu penghasilan meningkat.
Padahal kebaikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun…”
(HR. Muslim)
Pesannya sederhana: jangan meremehkan sesuatu hanya karena kecil.
Sebuah bantuan mungkin tidak menyelesaikan seluruh masalah seseorang, tetapi bisa membuatnya bertahan satu hari lagi.
Satu jam belajar mungkin tidak langsung mengubah masa depan, tetapi bisa menjadi awal dari kemampuan yang lebih besar.
Sedekah yang sederhana mungkin tidak mengubah dunia, tetapi dapat mengubah hari seseorang.
Kebaikan tidak selalu membutuhkan kita untuk menjadi luar biasa. Kadang ia hanya membutuhkan kita untuk berhenti menunda.
Di sinilah persoalan procrastination tidak lagi hanya menjadi masalah pribadi.
Bayangkan jika seseorang yang memiliki kemampuan terus menunda menggunakan kemampuannya untuk membantu orang lain. Potensi yang seharusnya menghasilkan manfaat akhirnya tidak pernah digunakan.
Karena itu, pendidikan bukan hanya tentang memberikan akses untuk belajar. Ada persoalan lain mengenai bagaimana memastikan kesempatan tersebut benar-benar dimanfaatkan.
Begitu pula dalam ekonomi dan kemanusiaan.
Bantuan dapat membuka peluang, tetapi keberlanjutan perubahan membutuhkan kemauan untuk bergerak. Kesempatan dapat diberikan, tetapi manusia tetap perlu mengambil langkah.
Melalui berbagai program pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan, BAZNAS menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kepedulian orang yang ingin memberi dengan kebutuhan orang yang membutuhkan dukungan.
Zakat, infak, dan sedekah kemudian tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang “nanti akan dilakukan ketika sudah lebih mampu”, tetapi sebagai bentuk nyata bahwa kebaikan memang perlu memiliki waktu untuk diwujudkan.
Kita sering mengatakan, “Nanti kalau ada waktu.”
Tetapi mungkin masalahnya bukan selalu kekurangan waktu.
Mungkin kita terlalu sering menunggu.
Menunggu kaya untuk berbagi.
Menunggu tenang untuk beribadah.
Menunggu siap untuk berubah.
Menunggu sempurna untuk berbuat baik.
Padahal hidup terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita.
Maka hari ini mungkin layak menjadi bahan renungan tentang, berapa banyak kebaikan yang sebenarnya bisa kita lakukan, tetapi sampai sekarang belum pernah terjadi hanya karena kita terus berkata, “nanti”?
Sebab bisa jadi, yang paling kita sesali suatu hari nanti bukan kebaikan yang pernah kita lakukan.
Melainkan kebaikan yang sebenarnya mampu kita lakukan, tetapi tidak pernah kita mulai.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :