Setiap hari kita bekerja, mengejar target, membangun usaha, mencari pelanggan, dan berusaha meningkatkan penghasilan. Semua itu tentu baik. Islam bahkan mendorong umatnya untuk berusaha dan mencari rezeki yang halal.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita mencari rezeki?
Jangan-jangan kita terlalu sibuk mengejar rezeki sampai lupa bahwa sebagian dari rezeki yang Allah titipkan kepada kita juga memiliki hak untuk dibagikan kepada orang lain.
Memiliki penghasilan yang cukup tentu menjadi nikmat. Kita bisa memenuhi kebutuhan keluarga, membayar pendidikan anak, memiliki rumah, menabung, dan mempersiapkan masa depan.
Tetapi dalam Islam, harta bukan hanya tentang apa yang kita miliki. Harta juga merupakan amanah dan ujian.
Allah SWT berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’”
(QS. Al-Munafiqun: 10)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbagi adalah nikmat yang jangan ditunda.
Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan bersedekah lebih banyak.”
Padahal, sedekah bukan tentang menunggu kaya. Yang lebih penting adalah kemauan untuk berbagi dari apa yang kita miliki.
Bahkan Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa sedekah tidak selalu harus berupa harta dalam jumlah besar. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban bersedekah, dan ketika seseorang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, ia tetap dapat melakukan kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan.
Allah SWT memberikan gambaran yang sangat indah tentang pahala orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya.
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Bayangkan, sesuatu yang kita keluarkan dengan ikhlas tidak berhenti sebagai pemberian. Di sisi Allah, kebaikan tersebut dapat berkembang menjadi pahala yang berlipat ganda.

Berbagi bukan berarti mengabaikan kebutuhan keluarga. Islam mengajarkan keseimbangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.”
(HR. Bukhari)
Artinya, kita tetap bertanggung jawab terhadap keluarga, tetapi jangan sampai seluruh rezeki hanya berputar untuk kepentingan diri sendiri.
Ada orang yang mungkin hanya membutuhkan bantuan untuk membeli makanan.
Ada anak yang ingin terus belajar tetapi terkendala biaya.
Ada keluarga yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.
Ada pula saudara kita yang membutuhkan modal agar dapat kembali berdiri dan mandiri.
Bagi kita, mungkin jumlah yang diberikan terasa kecil. Namun bagi mereka, bantuan tersebut bisa menjadi harapan baru.
Di sinilah indahnya zakat, infak, dan sedekah. Harta yang kita bagikan dapat berubah menjadi makanan, pendidikan, kesehatan, modal usaha, dan berbagai bentuk manfaat lainnya.
Kadang kita begitu teliti menghitung uang yang kita keluarkan, tetapi lupa menghitung berapa banyak manfaat yang lahir dari pemberian tersebut.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar seseorang tidak menahan hartanya dengan cara menimbun dan enggan mengeluarkannya untuk kebaikan.
Maka, pertanyaannya bukan hanya:
“Berapa banyak yang bisa saya kumpulkan?”
Tetapi juga:
“Berapa banyak kebaikan yang bisa saya hadirkan dari rezeki yang Allah titipkan?”
Mencari rezeki adalah bagian dari ikhtiar. Tetapi membagikannya kepada yang membutuhkan adalah bagian dari rasa syukur.
Tidak harus menunggu penghasilan besar.
Tidak harus menunggu menjadi kaya.
Tidak harus menunggu ada kelebihan yang sangat banyak.
Mulailah dari apa yang kita mampu hari ini.
Sisihkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah. Salurkan melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.
Jika hari ini Allah memberikan kita rezeki, mungkin ada bagian dari rezeki itu yang Allah titipkan agar menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain.
Jangan biarkan kesibukan mencari rezeki membuat kita lupa berbagi.
Karena pada akhirnya, bukan hanya berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan yang akan menjadi kenangan, tetapi berapa banyak kehidupan yang pernah kita bantu melalui harta tersebut.
Mari tunaikan zakat dan berbagi melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Semoga setiap rupiah yang kita keluarkan menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya, sekaligus menjadi bukti syukur atas rezeki yang Allah titipkan.
Mari berbagi hari ini. Karena mungkin, rezeki yang kita sisihkan adalah harapan yang sedang ditunggu seseorang.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :