Mengapa Kita Lebih Cepat Menghukum daripada Memahami?
Hari ini, seseorang bisa kehilangan penilaian publik hanya dalam hitungan menit.
Satu potongan video beredar. Satu kalimat dipisahkan dari konteksnya. Sebuah kesalahan ditemukan. Setelah itu, orang-orang mulai memberikan kesimpulan.
“Dia memang seperti itu.”
“Orang seperti dia pantas dihukum.”
“Jangan beri kesempatan lagi.”
Kita mungkin tidak mengenal orang tersebut. Tidak mengetahui cerita lengkapnya. Bahkan tidak selalu tahu apakah informasi yang kita terima benar.
Namun kita sudah merasa cukup yakin untuk menghakimi.
Di sinilah ada sesuatu yang perlu kita renungkan tentang mengapa memberikan penilaian terasa jauh lebih mudah daripada berusaha memahami?
Ketika seseorang melakukan kesalahan, perhatian kita sering langsung tertuju pada kesalahannya.
Ia berbohong, lalu kita menyebutnya pembohong.
Ia gagal menjalankan tanggung jawab, lalu kita menganggapnya tidak bertanggung jawab.
Ia melakukan satu tindakan buruk, lalu seluruh dirinya seolah-olah menjadi buruk.
Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada satu kesalahan.
Seseorang dapat melakukan kesalahan tanpa seluruh hidupnya dapat diringkas oleh kesalahan tersebut.
Persoalannya, otak manusia menyukai kesimpulan yang sederhana. Memberi label membuat kita tidak perlu berpikir terlalu panjang.
Lebih mudah mengatakan “dia orang jahat” daripada bertanya hal seperti apa yang sebenarnya terjadi?, mengapa ia melakukan itu?, apakah ia menyadari kesalahannya?, dan apakah ia masih mungkin berubah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan sesuatu yang lebih mahal daripada kemarahan yakni kesediaan untuk memahami.

Kemunculan media sosial membuat persoalan ini semakin rumit.
Kita dapat bereaksi sebelum memahami. Membagikan sebelum memeriksa. Mengomentari sebelum mengetahui konteks.
Kemarahan bahkan dapat terasa seperti sebuah bentuk keberanian moral.
Kita merasa sedang membela kebenaran ketika mengecam seseorang.
Tentu, kesalahan tetap perlu dikritik. Perbuatan yang merugikan orang lain tidak boleh dibenarkan hanya atas nama empati.
Tetapi ada perbedaan besar antara mengoreksi kesalahan dan menghancurkan seseorang karena kesalahannya.
Keadilan membutuhkan ketegasan.
Tetapi kemanusiaan mengingatkan kita bahwa orang yang melakukan kesalahan tetaplah manusia.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat relevan dengan kehidupan hari ini.
Islam tidak mengajarkan kita untuk menerima setiap informasi hanya karena informasi tersebut sesuai dengan emosi kita.
Periksa terlebih dahulu.
Karena satu informasi yang tidak diperiksa dapat melahirkan satu penilaian. Satu penilaian dapat berubah menjadi tuduhan. Dan tuduhan dapat melukai seseorang yang mungkin bahkan tidak pernah kita kenal.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain…”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Artinya, menjaga kehormatan manusia bukan perkara kecil dalam Islam.
Ada anggapan bahwa memaafkan berarti lemah.
Padahal Rasulullah SAW justru mengajarkan kekuatan yang berbeda.
Beliau bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan: yang disebut kuat bukan orang yang paling keras membalas.
Tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki alasan untuk marah.
Ini penting karena kemarahan sering membuat kita merasa sedang memegang kendali, padahal justru sebaliknya.
Ketika marah, kita dapat mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali. Menyebarkan sesuatu yang tidak dapat dihapus sepenuhnya. Atau menghukum seseorang dengan kata-kata yang mungkin jauh lebih lama membekas daripada kesalahan yang ia lakukan.
Menahan diri bukan berarti kehilangan keberanian untuk menegakkan kebenaran.
Menahan diri berarti memastikan bahwa keberanian kita tidak berubah menjadi kezaliman.
Ketika berbicara tentang kemanusiaan, kita sering langsung membayangkan bantuan makanan, bantuan kesehatan, pendidikan, atau bantuan bagi korban bencana.
Semua itu penting.
Tetapi kemanusiaan memiliki bentuk yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu tentang bagaimana kita memperlakukan manusia ketika mereka sedang salah.
Apakah kita masih mampu melihat manusia di balik kesalahannya?
Apakah kita memberikan ruang untuk memperbaiki diri?
Apakah kita mampu membedakan antara menghentikan perbuatan yang salah dengan membenci orang yang melakukannya?
Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat program kemanusiaan dan keagamaan BAZNAS. Kepedulian kepada sesama bukan hanya persoalan memberi sesuatu kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga membangun cara pandang yang membuat manusia tetap diperlakukan dengan martabat.
Zakat, infak, dan sedekah pun pada akhirnya lahir dari kesadaran bahwa orang lain bukan sekadar angka, penerima bantuan, atau objek belas kasihan. Mereka adalah manusia yang memiliki kehormatan.
Kita mungkin tidak bisa mengubah cara seluruh dunia bereaksi.
Tetapi kita dapat mengubah satu hal tentang cara kita sendiri memperlakukan kesalahan orang lain.
Lain kali ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, mungkin kita tidak harus langsung bertanya tentang “hukuman apa yang pantas dia terima?”. Cobalah bertanya dalam hal “apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang bisa saya lakukan agar keadaan menjadi lebih baik?”
Sebab tidak setiap kesalahan membutuhkan kebencian.
Tidak setiap perbedaan membutuhkan permusuhan.
Dan tidak setiap orang yang pernah jatuh harus selamanya dipandang sebagai orang yang gagal.
Mungkin menjadi manusia yang lebih baik bukan berarti kita tidak pernah marah, tetapi kita belajar memastikan bahwa kemarahan tidak mengambil alih kemanusiaan kita.
Di dunia yang semakin cepat memberikan penilaian, barangkali kemampuan untuk berhenti, memeriksa, memahami, lalu bertindak dengan adil adalah salah satu bentuk kebaikan yang semakin mahal.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :