Bolehkah mendahulukan ibadah sunnah seperti tahajud, namun justru membuat kita lalai dari kewajiban seperti shalat Subuh? Artikel ini membahas prioritas antara perkara wajib dan sunnah dalam pandangan Islam lengkap dengan hikmah dan dalilnya.
Banyak orang berlomba-lomba menghidupkan malam dengan ibadah seperti shalat tahajud. Keutamaan tahajud memang luar biasa — ia disebut sebagai ibadah yang paling mulia setelah shalat wajib. Namun, tak jarang semangat mengejar tahajud justru berujung pada kelalaian: seseorang bangun di sepertiga malam, lalu tidur lagi dan akhirnya terlewat shalat Subuh.
Pertanyaannya, apakah ibadah seperti itu tetap bernilai baik? Apakah boleh mengejar perkara sunnah sementara yang wajib malah terabaikan?
Islam sebagai agama yang sangat memperhatikan keseimbangan tentu memberikan panduan jelas dalam hal prioritas amal. Karena tidak semua kebaikan bernilai sama, dan tidak semua amal yang terlihat besar di mata manusia diterima oleh Allah SWT.
Dalam Islam, hukum amal dibagi menjadi beberapa tingkatan: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Dari pembagian ini, perkara wajib menempati posisi tertinggi karena merupakan perintah langsung dari Allah SWT yang harus ditaati tanpa pengecualian.
Sementara itu, sunnah adalah amalan yang dianjurkan — dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
“Tidak ada suatu amalan yang paling Aku cintai yang dilakukan oleh hamba-Ku selain dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”
(HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan dua hal penting:
Perkara wajib adalah prioritas utama dan paling dicintai Allah.
Amalan sunnah menjadi pelengkap dan penguat dari yang wajib.
Artinya, seseorang tidak akan bisa mencapai derajat kedekatan kepada Allah melalui sunnah semata jika kewajiban dasarnya justru diabaikan.
Mari kita lihat contoh yang sering terjadi: seseorang tidur lebih awal agar bisa bangun malam untuk tahajud. Ia bangun pukul 2 atau 3 dini hari, shalat beberapa rakaat, lalu tidur kembali sebelum Subuh. Karena terlalu lelah, ia tidak mendengar azan dan akhirnya shalat Subuhnya terlambat atau bahkan tertinggal.
Dari sisi niat, tentu ibadahnya baik. Ia ingin mendekatkan diri kepada Allah. Namun dari sisi hukum dan prioritas, ia telah salah dalam menempatkan urutan amal.
Mengutamakan tahajud tetapi menelantarkan Subuh berarti mendahulukan yang sunnah daripada yang wajib — dan ini bertentangan dengan prinsip dasar ibadah. Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan ibadah sunnah yang menyebabkan kita lalai dari kewajiban.

Para ulama menegaskan bahwa menjaga ibadah wajib lebih utama daripada memperbanyak ibadah sunnah.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Allah tidak akan menerima amalan sunnah dari seorang hamba sebelum ia menunaikan yang wajib.”
Begitu juga Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan, bahwa orang yang menunaikan sunnah namun melalaikan kewajiban sesungguhnya sedang terperdaya oleh setan, karena ia tertipu oleh rasa ‘sudah beribadah’ padahal meninggalkan hal yang lebih utama.
Artinya, melaksanakan shalat tahajud tetapi membuat shalat Subuh tertinggal bukanlah tanda kesalehan, melainkan kelalaian dalam menata prioritas ibadah.
Islam tidak melarang semangat dalam ibadah sunnah. Namun semangat itu harus diiringi dengan manajemen waktu dan niat yang benar agar tidak menimbulkan mudarat pada ibadah wajib. Berikut beberapa cara menjaga keseimbangan:
Pastikan kualitas ibadah wajib terlebih dahulu.
Jaga agar shalat lima waktu dilakukan tepat waktu dan dengan khusyuk. Ini fondasi sebelum menambah ibadah sunnah.
Atur waktu istirahat.
Jangan tidur terlalu malam atau berlebihan dalam ibadah malam sehingga mengganggu waktu Subuh. Rasulullah SAW sendiri tidur lebih awal dan bangun di akhir malam tanpa kehilangan Subuh.
Bangun di waktu mendekati Subuh.
Jika sulit menjaga stamina, bangun sekitar 30–40 menit sebelum Subuh sudah cukup untuk tahajud dua rakaat dan witir.
Gunakan alarm ganda atau pengingat.
Gunakan beberapa alarm atau minta bantuan keluarga agar tidak kembali tertidur sebelum Subuh.
Ingat tujuan utama ibadah.
Bukan banyaknya rakaat yang dinilai, tapi ketaatan dan ketepatan kita dalam memenuhi perintah Allah.
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menyeimbangkan ibadah wajib dan sunnah. Beliau rajin tahajud setiap malam, namun tidak pernah sekalipun melalaikan shalat Subuh. Bahkan, beliau justru membangunkan sahabat dan keluarganya untuk berjamaah Subuh.
Ini menjadi bukti bahwa tahajud seharusnya menguatkan semangat kita dalam ibadah wajib, bukan sebaliknya.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ibadah wajib harus selalu didahulukan daripada ibadah sunnah. Shalat tahajud memang mulia, tapi tidak boleh sampai mengorbankan shalat Subuh.
Mendahulukan sunnah dengan mengorbankan wajib ibarat membangun rumah tanpa fondasi. Ia mungkin terlihat indah sesaat, tapi tidak akan kokoh di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, bagi siapa pun yang ingin meningkatkan kualitas ibadahnya, mulailah dengan memperbaiki dan menegakkan yang wajib terlebih dahulu. Setelah itu, barulah tambahkan amal-amal sunnah sebagai bentuk cinta dan penguatan iman.
Sebagaimana pepatah ulama berkata:
“Barang siapa tidak bisa menjaga kewajiban, maka ia tidak akan mampu menjaga yang sunnah.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang seimbang — rajin dalam ibadah sunnah namun teguh dalam menunaikan kewajiban.
Mari sempurnakan rasa syukur dan kepedulian kita dengan berbagi melalui zakat, infak, dan fidyah.
Salurkan amal terbaikmu melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk membantu mereka yang membutuhkan dan menebar keberkahan di tengah masyarakat.
Untuk referensi bacaan singkat lainnya mengenai Mana Yang Harus Didahulukan Antara Perkara Wajid dan Sunnah: Antara Tahajud dan Shalat Subuh melalui BAZNAS Kota Sukabumi dengan tema Mengejar Shalat Tahajud tapi Shalat Subuh Jadi Kesiangan?
