Utamakan amalan wajib sebelum sunnah. Pelajari cara menata prioritas ibadah agar seimbang antara kewajiban dan penyempurnaannya menurut ajaran Islam.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak di antara kita yang begitu semangat melakukan amalan sunnah seperti shalat tahajud, dhuha, atau puasa Senin-Kamis. Namun ironisnya, ada yang masih lalai dalam menunaikan kewajiban seperti shalat lima waktu atau membayar zakat. Padahal dalam Islam, ada urutan prioritas yang tidak boleh terbalik. Ibadah yang menjadi keharusan harus menjadi pondasi utama, sedangkan ibadah sunnah berfungsi sebagai penyempurna dan pelengkap.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa menjalankan perintah Allah adalah cara paling dicintai-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Amalan sunnah memang memiliki nilai besar, tetapi tidak akan bermakna jika yang utama masih diabaikan. Maka, dalam perjalanan menuju ketakwaan, kuncinya adalah mendahulukan yang diperintahkan Allah, lalu menyempurnakan dengan sunnah.
Dalam ajaran Islam, hal yang diwajibkan adalah segala perintah Allah yang jika dilakukan mendapat pahala dan jika ditinggalkan berdosa. Sedangkan sunnah adalah amalan yang jika dilakukan mendapat pahala, namun jika ditinggalkan tidak berdosa. Keduanya memiliki nilai dan tempat masing-masing dalam ibadah seorang Muslim.
Ibadah yang menjadi keharusan ibarat pondasi bangunan. Ia menentukan kuat atau rapuhnya bangunan keimanan seseorang. Tanpa pondasi itu, seindah apa pun amalan sunnah yang dikerjakan, akan mudah runtuh karena tidak berdiri di atas dasar yang kokoh.
Sebaliknya, amalan sunnah ibarat hiasan yang memperindah rumah. Ia menambah nilai, melengkapi kekurangan, dan menunjukkan kesungguhan hati seorang hamba dalam mencintai Tuhannya. Inilah keseimbangan yang indah dalam Islam — antara ketaatan karena perintah dan ketulusan karena cinta.

Para ulama menjelaskan bahwa amalan yang diwajibkan memiliki derajat tertinggi dalam urutan ibadah. Sebab, ia merupakan bentuk ketaatan yang menunjukkan penyerahan total kepada Allah. Seseorang yang menunaikan perintah utama berarti telah menjalankan syariat Allah secara langsung dan menjauhi larangan-Nya.
Nabi ﷺ juga menegaskan dalam sebuah hadis:
“Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjelaskan bahwa kualitas ibadah seseorang diukur dari pelaksanaan kewajiban yang menjadi fondasi, bukan dari banyaknya amalan tambahan. Maka, seseorang yang rajin melakukan amalan sunnah tetapi masih mengabaikan perintah utama, berarti belum menempatkan prioritas pada tempatnya.
Selain itu, ibadah yang diperintahkan secara tegas menjadi sebab datangnya ampunan dan rahmat Allah. Misalnya, shalat lima waktu menghapus dosa, zakat menyucikan harta, dan puasa Ramadhan menghapus kesalahan. Ketika semua itu dilakukan dengan ikhlas dan benar, barulah amalan sunnah berfungsi sebagai penyempurna yang menambah pahala serta menguatkan keimanan.
Meski perintah utama lebih diutamakan, bukan berarti ibadah sunnah bisa diremehkan. Amalan tambahan memiliki peran penting dalam menyempurnakan kekurangan dari ibadah yang sudah menjadi kewajiban seorang hamba. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah akan melengkapi amalan seseorang melalui amal-amal sunnah yang ia kerjakan dengan tulus.
Contohnya, shalat sunnah rawatib menjadi pelengkap bagi shalat fardhu yang mungkin kurang khusyuk. Puasa Senin-Kamis menambah pahala setelah seseorang menunaikan Ramadhan. Sedekah di luar zakat memperluas keberkahan dan menunjukkan kemurahan hati seorang mukmin.
Seseorang yang gemar melakukan ibadah tambahan menunjukkan cinta dan kerinduan kepada Tuhannya. Ia tidak hanya beribadah karena kewajiban, tetapi juga karena syukur dan cinta. Dengan begitu, amalan sunnah menjadi tanda kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang keliru dalam menyusun urutan ibadah. Ada yang begitu antusias dengan amal sunnah, tetapi masih menunda-nunda hal yang utama. Misalnya, rajin tahajud tetapi sering meninggalkan Subuh, atau gemar bersedekah namun belum menunaikan zakat yang seharusnya.
Kesalahan seperti ini perlu disadari dan segera diperbaiki. Ibarat membangun rumah tanpa pondasi, amalan sunnah tanpa dasar kewajiban akan rapuh. Allah tidak akan menerima amal yang dibangun di atas kelalaian terhadap perintah inti. Karena itu, memperbaiki yang utama adalah langkah pertama sebelum memperbanyak amalan tambahan.
Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal keseimbangan ini. Beliau melaksanakan ibadah yang diperintahkan dengan sempurna, lalu memperbanyak amal sunnah. Shalat malam beliau dilakukan hingga kakinya bengkak, namun tidak pernah meninggalkan shalat fardhu satu kali pun. Hal ini menunjukkan bahwa sunnah sejati adalah penyempurna, bukan pengganti.

Untuk menata prioritas, langkah pertama adalah memastikan kewajiban telah ditunaikan dengan baik. Hal ini menjadi fondasi agar amalan lain memiliki nilai di sisi Allah. Berikut beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari:
Ketika urutan ini dijaga, ibadah kita menjadi lebih seimbang antara perintah utama dan amalan penyempurna. Hati pun terasa lebih tenang karena dasar ketaatan telah kokoh, sementara cinta kepada Allah tumbuh melalui amal yang dilakukan dengan keikhlasan. Dengan cara ini, seseorang tidak hanya menjalankan perintah karena kewajiban, tetapi juga karena cinta dan kerinduan untuk selalu dekat dengan-Nya.
Islam adalah agama yang menuntun umatnya agar beribadah dengan prioritas yang benar. Amalan wajib adalah bukti ketaatan, sedangkan sunnah adalah wujud cinta. Tidak mungkin seseorang dicintai Allah jika ia masih lalai terhadap kewajiban. Namun ketika kewajiban sudah ditunaikan dengan sungguh-sungguh, lalu ditambah dengan sunnah, maka Allah akan mencintainya.
Dalam hadis qudsi disebutkan:
“Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat…” (HR. Bukhari)
Inilah puncak keimanan yang hakiki. Seorang hamba yang mendahulukan kewajiban, kemudian menghiasinya dengan sunnah, akan mencapai kedekatan dan kecintaan sejati kepada Allah SWT.
Mari sempurnakan rasa syukur dan kepedulian kita dengan berbagi melalui zakat, infak, dan fidyah.
Salurkan amal terbaikmu melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk membantu mereka yang membutuhkan dan menebar keberkahan di tengah masyarakat.
Untuk referensi bacaan singkat lainnya mengenai Mengutamakan Kewajiban dan Menyempurnakan Sunnah, Tapi Sering Menunda yang Wajib melalui BAZNAS Kota Sukabumi dengan tema Mendahulukan yang Wajib, Menyempurnakan dengan Sunnah
