Kemiskinan masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia hingga saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per tahun 2023, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 26,36 juta jiwa atau sekitar 9,36% dari total populasi. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 27,54 juta jiwa (9,71%). Namun, ancaman kemiskinan kembali meningkat di beberapa daerah akibat dampak pandemi dan ketidakstabilan ekonomi global.
Di sisi lain, Islam menawarkan solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan melalui instrumen zakat. Zakat bukan hanya sekadar kewajiban bagi umat Muslim, tetapi juga bentuk solidaritas sosial yang dapat membantu memberdayakan masyarakat kurang mampu. Lalu, apakah zakat benar-benar bisa mengatasi kemiskinan yang semakin meningkat di Indonesia? Mari kita telusuri lebih dalam!
Baca Juga: Berbagi Kebahagiaan Ramadhan (BERKAH) ✨
Zakat terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah wajib dibayarkan setiap tahun menjelang Idul Fitri, sedangkan zakat maal dapat diberikan kapan saja selama mencapai nisab atau batas minimal harta.
Menurut data BAZNAS, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 327,6 triliun per tahun. Namun, realisasi pengumpulan zakat baru sekitar Rp 26,5 triliun pada tahun 2022 atau hanya sekitar 8,1% dari potensinya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat, kendala aksesibilitas, serta rendahnya kesadaran akan pentingnya zakat dalam membantu mengatasi kemiskinan.
Studi dari World Bank menyebutkan bahwa distribusi zakat yang tepat sasaran dapat membantu memperbaiki kesejahteraan masyarakat miskin secara berkelanjutan. Contoh nyata adalah program pemberdayaan ekonomi BAZNAS yang memberikan modal usaha bagi masyarakat miskin. Berdasarkan evaluasi internal BAZNAS, program ini mampu meningkatkan pendapatan keluarga penerima manfaat hingga 30% dalam waktu satu tahun.
Zakat tidak hanya memberikan bantuan konsumtif, tetapi juga bantuan produktif yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi. Bantuan konsumtif seperti pembagian sembako dan kebutuhan pokok memang penting, tetapi pemberdayaan ekonomi jangka panjang seperti pelatihan keterampilan, modal usaha, dan pendampingan bisnis mampu menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat miskin.
Baca Juga: Diskriminasi dalam Berbagi? Islam Mengajarkan Zakat untuk Keadilan Sosial!
Namun, implementasi zakat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan tidak selalu mulus. Tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya tingkat literasi zakat, kurangnya transparansi pengelolaan, dan distribusi yang belum optimal. Menurut survei INDEF, sekitar 43% masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya memahami konsep zakat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan.
Untuk mengatasi hal ini, BAZNAS Kota Sukabumi terus berupaya meningkatkan literasi zakat melalui kampanye digital, penyuluhan, dan sosialisasi. Selain itu, transparansi dalam pengelolaan zakat juga diperkuat untuk memastikan dana zakat disalurkan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Meskipun zakat bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi kemiskinan, peranannya dalam membantu masyarakat miskin tidak dapat diabaikan. Zakat memiliki potensi besar untuk memberdayakan masyarakat miskin, meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi ketimpangan sosial. Dengan pengelolaan yang lebih baik, edukasi yang tepat, dan distribusi yang tepat sasaran, zakat dapat menjadi salah satu instrumen yang efektif dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Mari kita tingkatkan kepedulian dan kepekaan terhadap sesama dengan menunaikan zakat melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS Kota Sukabumi. Bersama kita bisa membantu mengurangi kemiskinan dan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera.
Tunaikan Zakat Anda Sekarang di BAZNAS Kota Sukabumi!