Program Bantuan Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB) merupakan bentuk kepedulian nyata bagi keluarga miskin yang hidup dalam hunian tidak layak. Program ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi upaya memulihkan martabat manusia. Artikel ini membahas dampak rumah layak terhadap kesehatan, ekonomi, psikologis, tantangan implementasi, kriteria mustahik, serta solusi agar program benar-benar tepat sasaran.
Rumah layak adalah ruang aman tempat seseorang kembali, membina keluarga, melindungi dari cuaca, sekaligus menjadi simbol keberadaban. Namun, ribuan keluarga di Indonesia—termasuk Sukabumi—masih tinggal di bangunan rapuh: atap bocor, dinding berlubang, ventilasi buruk, hingga sanitasi yang tidak manusiawi. Di sinilah program RLHB hadir sebagai investasi kemanusiaan.
Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB) bukan hanya membangun dinding baru. Ia menyalakan kembali harapan, mengangkat martabat, memberikan napas baru bagi keluarga yang hampir menyerah.
Rumah yang lembap, gelap, dan berventilasi buruk adalah tempat lahirnya penyakit. Anak-anak yang tidur di lantai tanah rentan infeksi kulit, diare, atau demam. Dinding berjamur memicu asma, sementara atap bocor meningkatkan kelembapan. Ketika rumah diperbaiki, risiko penyakit menurun drastis. Biaya berobat berkurang, kualitas hidup meningkat.
Tidak sedikit kepala keluarga merasa rendah diri karena kondisi rumah. Ketika RLHB hadir, rasa malu berubah menjadi percaya diri. Anak-anak tidak lagi takut mengundang teman karena rumah “tidak pantas”. Orang tua memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha.
Rumah layak meningkatkan integrasi sosial dalam komunitas. Warga lebih percaya diri bergaul, menerima tamu, mengikuti kegiatan RT/RW, hingga berpartisipasi dalam pembangunan lingkungan. Rumah layak menghapus stigma “miskin” dan mengangkat harga diri keluarga.

Rumah tidak layak huni adalah hunian yang tidak memenuhi standar kesehatan, keamanan, dan kenyamanan dasar bagi penghuninya. Menurut beberapa pedoman pemerintah dan lembaga sosial, kriteria utama meliputi:
Atap bocor atau rusak: Air hujan mudah masuk, menyebabkan kelembapan tinggi dan risiko kerusakan bangunan.
Dinding lapuk atau retak: Mengurangi kekuatan rumah dan berisiko roboh, terutama saat angin kencang atau hujan lebat.
Lantai tanah atau rusak: Lantai tidak rata, retak, atau tanah lembap memicu penyakit kulit, diare, dan infeksi parasit.
Pondasi lemah: Rumah rawan runtuh atau tidak stabil.
Ruangan terlalu gelap atau pengap, tidak ada cukup jendela atau ventilasi.
Sirkulasi udara buruk meningkatkan kelembapan dan pertumbuhan jamur, memicu penyakit pernapasan.
Tidak memiliki jamban atau toilet sehat.
Air bersih sulit diakses atau tidak tersedia.
Sistem pembuangan limbah rumah tangga tidak memadai.
Ruangan terlalu sempit untuk jumlah penghuni.
Tidak ada ruang tidur yang layak untuk anak-anak, orang tua, atau penyandang disabilitas.
Instalasi listrik berisiko konsleting atau korsleting.
Rumah mudah terbakar atau roboh saat terkena bencana ringan.
Tidak ada akses keluar-masuk yang aman, misalnya tangga atau pintu yang rusak.
Terletak di area rawan banjir, longsor, atau rawan kriminal.
Akses ke fasilitas umum seperti sekolah, pasar, dan fasilitas kesehatan sulit dijangkau.

Rumah yang memiliki sirkulasi baik, pencahayaan, air bersih, dan sanitasi membuat anggota keluarga jarang sakit. Anak dapat tidur dengan nyenyak tanpa takut air hujan menetes dari atap.
Sebuah rumah yang nyaman menciptakan ruang belajar stabil. Anak lebih fokus belajar, jarang absen sekolah, dan punya peluang untuk meraih masa depan lebih cerah.
Program RLHB tidak berhenti di konstruksi. Banyak penerima bantuan yang kembali bangkit: membuka warung kecil, usaha laundry, atau jasa rumahan. Material yang dibeli dari toko lokal pun menggerakkan ekonomi masyarakat.
Pembangunan rumah sering melibatkan gotong royong. Tetangga ikut membantu, membawa makanan, mengecat, atau sekadar menjaga material. Ikatan komunitas pun lebih kuat.
Agar tepat sasaran, penerima RLHB harus memenuhi kriteria objektif sebagai berikut:
Kepala keluarga berpenghasilan tidak tetap atau jauh di bawah standar penghidupan wajar. Tidak memiliki sumber pendapatan stabil.
Rumah dalam kondisi berbahaya:
Atap bocor
Dinding lapuk atau berlubang
Lantai tanah atau semen retak
Risiko roboh
Ventilasi buruk
Tidak ada sanitasi atau jamban layak
Prioritas utama diberikan kepada:
Lansia yang tinggal sendiri
Perempuan kepala keluarga
Keluarga dengan anak kecil berisiko kesehatan
Penyandang disabilitas
Yatim / piatu atau keluarga dengan tanggungan berat
Penerima belum pernah mendapatkan bantuan program rumah sebelumnya dari pemerintah / LSM.
Calon penerima menunjukkan kesiapan menjaga, merawat, dan tidak menjual rumah bantuan.
Pendataan berbasis teknologi
Survei digital, foto rumah, GPS lokasi untuk mencegah penerima fiktif dan meningkatkan transparansi.
Skema kolaboratif
Dana tidak hanya dari BAZNAS; bisa dikombinasikan dengan CSR, wakaf, komunitas, dan relawan pertukangan.
Edukasi pemeliharaan rumah
Workshop sederhana mengenai kebersihan, ventilasi, sanitasi, dan perawatan struktur.
Prioritas kelompok rentan
Pemberian bantuan tidak sekadar atas dasar ekonomi, tetapi perlindungan sosial.
Monitoring pascabangun
Evaluasi 6–12 bulan untuk memastikan rumah tetap layak, termasuk jalur perbaikan min
Banyak warga penerima RLHB (Rumah Layak Huni BAZNAS) berbagi cerita bagaimana hidup mereka berubah. Seorang ibu di daerah pesisir menceritakan bahwa sebelum bantuan datang, rumah kayu miliknya sering bocor ketika musim hujan. Ia harus memindahkan kasur anak-anak ke area yang lebih kering di malam hari, dan mereka sering sakit. Setelah renovasi, anak-anak jarang demam, dan ibu itu mulai membuka usaha sembako kecil dari dalam rumah. Keberanian untuk memulai usaha datang dari rasa aman bahwa rumahnya tidak akan roboh.
Di desa lain, seorang lansia hidup sendirian dengan dinding bambu reyot. Ketika mendapat bantuan RLHB, ia menangis karena baginya bantuan tersebut bukan sekadar materi, melainkan bentuk kepedulian masyarakat terhadap hidupnya.
Program Rumah Layak Huni BAZNAS Kota Sukabumi bukan sekadar perbaikan fisik. Ia menyentuh dimensi moral, sosial, kesehatan, ekonomi, bahkan spiritual. Dari rumah yang dulu rapuh, lahirlah keluarga yang kembali percaya diri, anak yang belajar lebih tenang, orang tua yang berani membangun usaha, dan lansia yang merasakan dihargai.
Rumah layak bukan hadiah—itu hak manusia. Ketika kita membantu satu rumah, sebenarnya kita sedang membangun masa depan satu keluarga.
Dari dinding rapuh, lahir harapan baru.
Dan dari harapan itu, lahir kehidupan yang lebih bermartabat.
Setiap amal akan kembali kepada pemiliknya.
Jika engkau memberi karena Allah, maka Allah yang akan membalasmu.
Jika engkau memberi karena manusia, maka manusia-lah yang menjadi “ganjaranmu”—dan itu tidak sebanding dengan pahala Allah.
Yuk, berinfak dan menjadi muzaki cerdas melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Infak Anda akan menjadi ladang amal yang terus mengalir, meski Anda sedang tidur, bekerja, atau beribadah.
Di tangan lembaga yang amanah, yang Anda keluarkan tak hanya menjadi angka—ia menjadi doa, manfaat, dan kehidupan baru.
Untuk referensi bacaan singkat lainnya mengenai dampak program Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB) melalui BAZNAS Kota Sukabumi dengan tema Dari Dinding Rapuh ke Harapan Baru: Dampak Program Bantuan Rumah Layak Huni BAZNAS
