Oleh: A. Zaki Mubarak
Pelajari cara mengukur fakir miskin secara kuantitatif dan pahami perbedaan mental miskin vs mental kaya menurut Islam. Jangan terjebak mental miskin!
Hal yang sering menjadi polemik di tengah masyarakat adalah menentukan asnaf fakir miskin. Tidak jarang, kategori ini sulit diukur karena banyaknya alat ukur. Apalagi banyak di masyarakat kita yang tidak miskin ekonominya tapi miskin mental atau memiliki mental miskin. Pingin dikategori miskin padahal tidak termasuk miskin. Saat pembagian zakat fitrah misalnya, sering marah dan mengumpat amil karena tak kebagian padahal tahun kemarin kebagian. Amil jadi sasaran, padahal hasil hitungan amil, dirinya tak masuk kategori miskin. Itulah mental miskin, sehingga dirinya ingin dimiskinkan padahal sudah diukur tidak miskin secara ekonomi.
Fenomena ini terjadi akibat alat ukurnya kualitatif. Namanya kualitatif pasti berdasar ukuran rasa, subjektif dan tidak bisa digeneralisir untuk setiap tempat. Sulit distandarkan sehingga definisi fakir miskin sering tak menemui batasan yang jelas dan tegas. Oleh karenanya, pemerintah saat ini telah menentukan alat ukur kemiskinan dengan kuantitatif. Dengan angka bukan dengan rasa. Angka pendapatan bruto setiap bulan dan kemudian dihitung had kifayahnya (angka batas kecukupan) dari sisi jumlah anggota keluarga dan situasi pembiayaan yang jadi bebannya. Maka munculah kesimpulan dia miskin dan berhak mendapat zakat atau bansos. Jika penghasilannya besar tapi karena beban besar, maka bisa jadi dia berhak zakat walau tak berhak bansos. Cara menghitungnya sudah ada di had kifayah.
Baca Juga: “SEJUK” Sedekah Jariyah untuk Kedua Orang Tua
Ada empat mustahik zakat dari sepuluh kategori pendapatan masyarakat. Karena sepuluh maka disebut “Desil”. Dari desil 1 hingga desil 10. “Fakir” dalam istilah Islam diistilahkan oleh negara bernama “Miskin Ekstrim”.
Jadi selama jumlah kuantitatif pendapatan sampai 3.4 juta perbulan mereka dikategorikan miskin dan berhak mendapatkan zakat.
Baca Juga: Malam Lailatul Qadar 2025: Jangan Sampai Kelewatan, Ini Tanda & Waktu Mustajabnya!
Tentu penghasilan itu dihitung bruto. Seluruh penghitungan dijumlah dan diputuskan rata-ratanya. Jika serabutan atau pekerja yang tidak menentu penghasilannya, maka satu tahun penghasilan total di bagi dua belas dan angka rerata itu yang jadi acuan. Angka itu pun sejatinya bisa berubah sesuai inflasi karena mata uang sering mengalami penurunan nilai sehingga ukurannya sering berubah. Misal tahun 2022, nishab muzakki itu jika penghasilannya dibatas 6.5 juta perbulan. Karena 85 gram emas saat itu kira-kira dikonversi menjadi 76 juta dengan harga per gram sekitar 900 ribu. Saat emas naik jadi 1 juta pergram dengan total 85 juta, maka perkiraan nisab menjadi 7.1 juta di tahun 2025. Di bawah 7 juta penghasilan perbulan belum nishab zakat. Artinya nilai uang ke emas selalu berubah sehingga desil pun bisa berubah.
Agar tidak ada kebingungan amil di lapangan, maka fakir miskin telah diputuskan datanya oleh pemerintah. Dulu, ada ragam data dari masing-masing lembaga. BPS punya data, Dinsos punya data, Disdukcapil pun punya data. Ada data Regsosek, ada data P3KE ada pula data BPS. Ragam data ini pun pasti membingungkan karena standar dan instrumen surveynya beragam. Oleh karena mulai tahun ini data diintegrasikan dalam satu manajemen “Sepakat” sehingga hanya satu data yang benar-benar menjadi acuan. Tapi sayang, karena data ini rahasia dan bisa menyebar aib warga, maka hanya otoritas tertentu saja yang boleh akses. Tak semua amil bisa tahu data fakir miskin di wilayah kerjanya. Solusinya bisa bersurat ke litbangda asal tujuannya jelas: zakat harus tepat sasaran. Jika tak punya data, ikuti saja desil tadi walau kadang cara hitungnya sering tidak valid karena para mustahiq sering mengaku pendapatan dengan dibumbui drama dan kebohongan. Emang sulit kalau sudah mental miskin mah, Le.
Dalam perspektif Islam, mental miskin sering dikaitkan dengan sikap tidak bersyukur, sulit berbagi, dan selalu merasa kekurangan meski sudah berkecukupan. Berbeda dengan mental kaya yang senantiasa bersyukur, optimis, dan berusaha berbagi walau sedikit. Inilah perbedaan utama antara mental miskin vs mental kaya yang perlu dipahami agar tidak terjebak dalam pola pikir yang merugikan.