Lebaran Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinantikan oleh seluruh umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Perayaan yang penuh suka cita ini menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, di mana umat Islam kembali ke fitrah dan merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Namun, di Indonesia sering terjadi perbedaan dalam penetapan 1 Syawal, terutama antara pemerintah dan organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah, yaitu hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung terhadap hilal/bulan sabit pertama).
Artikel ini akan membahas kapan Lebaran Idul Fitri 2025 menurut Muhammadiyah dan pemerintah, bagaimana perbedaannya, serta bagaimana sebaiknya kita menyikapi perbedaan ini dengan bijak.
Baca Juga: Mau tahu ke mana zakatmu mengalir? BAZNAS bukan sekadar amanah, tapi juga terbuka! Ini buktinya!
Saat ini, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa Idul Fitri 1446 H jatuh pada Senin, 31 Maret 2025 berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama belum mengumumkan secara resmi kapan Idul Fitri 2025 akan jatuh. Namun, jika mengacu pada data astronomi, ada kemungkinan besar bahwa Idul Fitri versi pemerintah juga akan jatuh pada 31 Maret 2025, karena posisi hilal diperkirakan sudah cukup tinggi untuk bisa terlihat.
Namun, kepastian dari pemerintah tetap harus menunggu hasil Sidang Isbat, yang biasanya digelar sehari sebelum Lebaran.
Perbedaan dalam penetapan Idul Fitri di Indonesia disebabkan oleh metode yang digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriah. Berikut adalah perbedaan utama antara Muhammadiyah dan pemerintah:
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu metode perhitungan astronomi yang memastikan kapan bulan baru sudah lahir (wujud) setelah konjungsi (ijtimak).
Kriteria Muhammadiyah:
Dengan metode ini, Muhammadiyah dapat menentukan tanggal Idul Fitri jauh-jauh hari sebelumnya.
Baca Juga: Bayar Zakat Fitrah di Shopee, Emang Bisa? Ini Cara Mudah dan Keuntungannya!
Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu melihat hilal secara langsung pada tanggal 29 bulan Hijriah setelah matahari terbenam.
Kriteria Pemerintah:
Oleh karena itu, tanggal Idul Fitri versi pemerintah sering kali baru ditetapkan dalam Sidang Isbat yang dilaksanakan menjelang hari raya.
Perbedaan dalam penetapan Idul Fitri bukanlah hal baru di Indonesia. Sudah sejak lama ada perbedaan antara Muhammadiyah dan pemerintah dalam menetapkan 1 Syawal. Lantas, bagaimana kita harus menyikapinya?
Baca Juga: Bisa Enggak Sih Zakat Mengatasi Kemiskinan yang Kian Meningkat di Indonesia?
Idul Fitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama mereka yang kurang mampu. Salah satu kewajiban sebelum merayakan Idul Fitri adalah membayar zakat fitrah, yang bertujuan untuk menyucikan diri dan membantu fakir miskin agar mereka juga bisa menikmati hari raya.
Zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk makanan pokok, seperti beras, dengan takaran 2,5 kg atau 3,5 liter per orang. Jika dikonversikan ke dalam uang, jumlahnya menyesuaikan dengan harga beras di daerah masing-masing.
Di Indonesia, kisaran zakat fitrah biasanya Rp30.000 – Rp50.000 per orang, tergantung harga beras.
✔ Tersalurkan kepada yang berhak – BAZNAS menjamin zakat Anda sampai kepada mustahik (penerima zakat) yang berhak.
✔ Amanah dan transparan – Penyaluran dana dilakukan dengan sistem yang transparan dan akuntabel.
✔ Mudah dan praktis – Bisa dibayarkan secara online tanpa harus keluar rumah.
Sempurnakan ibadah Ramadan dan sambut Idul Fitri dengan menunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
📌 Klik tombol di bawah ini untuk berdonasi!
Artikel ini sudah lebih panjang, informatif, dan menggunakan teknik SEO dengan kata kunci yang sesuai. Semoga bisa membantu meningkatkan trafik dan awareness masyarakat tentang zakat di BAZNAS Kota Sukabumi! 🚀