BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini
  • ZAKAT
  • INFAK
  • ZAKAT Fitrah
  • FIDYAH
ZAKAT FITRAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Rajin Shalat Sunnah, Tapi Sering Menunda yang Wajib?

12 Nov 2025
Artikel
Rajin Shalat Sunnah, Tapi Sering Menunda yang Wajib?

Rajin Shalat Sunnah, Tapi Sering Menunda yang Wajib? Menurut Kalian Bagaimana?

Shalat sunnah memiliki keutamaan besar, namun shalat wajib tetap menjadi prioritas utama. Artikel ini membahas pentingnya menata prioritas ibadah agar tidak terjebak dalam keindahan amalan sunnah dan melupakan kewajiban utama.

Pendahuluan

Banyak dari kita yang bersemangat menunaikan ibadah sunnah — seperti shalat tahajud, dhuha, atau rawatib — namun justru sering kali tergelincir dalam hal-hal yang wajib, seperti menunda shalat fardhu atau bahkan melewatkannya. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita menata prioritas antara perkara wajib dan perkara sunnah dalam kehidupan beribadah?

Islam adalah agama yang penuh keseimbangan dan mengajarkan umatnya untuk mendahulukan apa yang Allah wajibkan sebelum mengejar amalan tambahan. Dalam konteks ini, memahami mana yang lebih utama antara ibadah wajib dan ibadah sunnah menjadi penting agar semangat beribadah tidak salah arah.

Hakikat Perkara Wajib dan Sunnah

Perkara wajib adalah segala perintah Allah SWT yang apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan mendapat dosa. Contohnya shalat lima waktu, zakat, puasa Ramadan, dan haji bagi yang mampu.

Sedangkan sunnah adalah amalan yang jika dikerjakan mendapat pahala, namun jika ditinggalkan tidak berdosa. Ia merupakan penyempurna dan pelengkap dari kewajiban, seperti shalat tahajud, sedekah sunnah, atau puasa Senin-Kamis.

Namun, dalam praktiknya, sebagian orang lebih bersemangat mengejar sunnah karena terlihat lebih “indah” atau menenangkan, sementara kewajiban sering dianggap rutinitas yang bisa ditunda. Padahal, tanpa pondasi wajib, ibadah sunnah tidak memiliki kekuatan yang berarti di sisi Allah.

BAZNAS Kota Sukabumi

Ketika Sunnah Mendahului Wajib

Bayangkan seseorang yang sangat rajin melaksanakan shalat malam setiap hari, tetapi sering menunda shalat Subuh hingga matahari hampir terbit. Atau seseorang yang sangat dermawan dalam sedekah sunnah, namun menunda-nunda pembayaran zakat wajib. Dalam pandangan syariat, tindakan seperti ini menunjukkan kekeliruan dalam memahami prioritas ibadah.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Tidak ada amalan yang paling Aku cintai yang dilakukan oleh hamba-Ku untuk mendekat kepada-Ku selain amalan yang Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini dengan jelas menunjukkan urutan prioritas. Amalan wajib adalah jalan utama mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan amalan sunnah adalah tahapan penyempurna setelahnya. Artinya, sunnah akan bernilai tinggi apabila kewajiban telah dijaga dengan baik.

Mengapa Perkara Wajib Harus Didahulukan

  1. Perintah Langsung dari Allah SWT
    Ibadah wajib datang langsung dari perintah Allah yang mengikat. Menunda atau meninggalkannya berarti menentang perintah-Nya, sesuatu yang berpotensi mendatangkan murka Allah. Sedangkan sunnah hanyalah tambahan bagi yang ingin lebih dekat dan lebih dicintai-Nya.

  2. Wajib adalah Pondasi Agama
    Jika diibaratkan rumah, perkara wajib adalah fondasi. Tanpa fondasi, hiasan atau ornamen (amal sunnah) tidak akan kokoh. Shalat sunnah sebanyak apa pun tidak bisa menutupi kelalaian dalam shalat wajib.

  3. Sunnah Tidak Bisa Mengganti Wajib
    Tidak ada amal sunnah yang dapat menggantikan pahala amal wajib. Seseorang tidak bisa berharap bahwa shalat malamnya akan menutupi dosanya karena menunda shalat Isya atau Subuh.

  4. Kedisiplinan dalam Wajib Membentuk Kualitas Sunnah
    Orang yang menjaga shalat wajib tepat waktu akan memiliki semangat dan keistiqamahan yang lebih baik ketika melaksanakan amalan sunnah. Sebaliknya, jika kewajiban saja sering diabaikan, amalan sunnah biasanya hanya menjadi rutinitas sesaat.

Menata Hati dalam Beribadah

Islam mengajarkan keseimbangan antara kualitas dan prioritas ibadah. Melaksanakan sunnah tentu sangat dianjurkan, tapi bukan berarti boleh mengabaikan yang wajib. Dalam tatanan iman, mendahulukan yang wajib menunjukkan kedewasaan spiritual dan pemahaman mendalam terhadap syariat.

Kita perlu menata niat dan menumbuhkan kesadaran bahwa amalan sunnah menjadi bermakna justru ketika kewajiban telah dijalankan dengan sempurna. Shalat tahajud yang khusyuk tidak akan berarti jika Subuh selalu terlewat. Sedekah besar tidak akan bernilai tinggi jika zakat belum ditunaikan.

BAZNAS Kota Sukabumi

Menjaga Keseimbangan Amal

Kunci dari semua ini adalah keseimbangan. Jangan meninggalkan sunnah karena alasan sibuk mengejar yang wajib, dan jangan pula mendahulukan sunnah sampai mengorbankan yang wajib. Seorang muslim ideal adalah yang menegakkan kewajiban dengan sempurna lalu menghiasinya dengan sunnah.

Rasulullah SAW sendiri adalah contoh terbaik. Beliau tidak pernah meninggalkan yang wajib, dan selalu menambahnya dengan sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa jalan menuju ridha Allah dimulai dari kewajiban, lalu disempurnakan dengan sunnah.

Penutup

Rajin beribadah adalah tanda cinta kepada Allah, tetapi cinta sejati ditunjukkan dengan menaati perintah-Nya secara berurutan dan penuh kesadaran. Amalan wajib adalah bukti ketaatan, sementara sunnah adalah bukti cinta. Maka, jangan sampai semangat mengejar sunnah membuat kita lalai pada kewajiban yang menjadi dasar diterimanya amal.

Mari kita tata ulang prioritas ibadah kita: sempurnakan yang wajib, kemudian perindah dengan yang sunnah. Dengan begitu, kehidupan spiritual kita akan menjadi lebih seimbang, bernilai, dan diterima di sisi Allah SWT.

Mari sempurnakan rasa syukur dan kepedulian kita dengan berbagi melalui zakat, infak, dan fidyah.
Salurkan amal terbaikmu melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk membantu mereka yang membutuhkan dan menebar keberkahan di tengah masyarakat.

Untuk referensi bacaan singkat lainnya mengenai Rajin Shalat Sunnah, Tapi Sering Menunda yang Wajib melalui BAZNAS Kota Sukabumi dengan tema Rajin Shalat Sunnah, Tapi Sering Menunda yang Wajib?

BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
MENGHADAPI KELUARGA TOXIC,TRAUMA,EMOTIONAL ABOUSE : BERKACA DARI KISAH PARA NABI
13 Aug 2025
Artikel
Antara Impian dan Kenyataan, Ada Konsistensi yang Sering Ditinggalkan
04 Dec 2025
Artikel
INGAT! Di Balik Lelahmu Ada Versi Dirimu yang Lebih Kuat
04 Dec 2025
Artikel
Bukan Menyerah, Hanya Memberi Diri Ruang untuk Bernapas
04 Dec 2025
Artikel
Hidup: Bukan Tentang Seberapa Cepat, Tapi Seberapa Sungguh Kita Menjalani
04 Dec 2025
Artikel
Kadang Melepas Lebih Menenangkan daripada Mempertahankan
04 Dec 2025
Artikel
Dalam Setiap Sujudmu, Ada Jawaban yang Diam-Diam Allah Titipkan
03 Dec 2025
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2025 - Baznas Kota Sukabumi