Di Tengah Ramainya Media Sosial, Ada Tangisan yang Tak Pernah Masuk FYP
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap kali membuka ponsel, kita disuguhi berbagai konten yang silih berganti. Ada video lucu yang menghibur, kisah sukses yang menginspirasi, tren yang sedang viral, hingga momen-momen bahagia yang berhasil masuk ke halaman For You Page (FYP) .
Tidak sedikit orang yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menikmati semua itu. Kita tertawa bersama, ikut terharu, bahkan terkadang memberikan ikut komentar dan membagikan ulang konten yang sedang ramai diperbincangkan.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa di balik ramainya media sosial, ada banyak kisah pilu yang tidak pernah muncul di layar ponsel kita?
Ada tangisan seorang ibu yang bingung mencari biaya pengobatan anaknya.
Ada seorang ayah yang pulang dengan tangan kosong karena belum mendapatkan pekerjaan.
Ada lansia yang hidup sendiri tanpa keluarga yang menemani.
Ada anak-anak yatim yang tetap tersenyum meski tidak tahu apakah besok mereka masih bisa bersekolah.
Semua kisah itu nyata. Sayangnya, tidak semuanya berhasil masuk FYP.
Padahal, justru merekalah yang lebih membutuhkan perhatian kita.

Algoritma media sosial bekerja berdasarkan apa yang banyak ditonton, disukai, dan dibagikan. Semakin viral sebuah konten, semakin besar peluangnya muncul di beranda jutaan orang.
Sayangnya, penderitaan tidak selalu viral.
membantu hidup tidak selalu menarik perhatian algoritma.
Air mata orang-orang yang membutuhkan sering kali mengalir dalam diam, tanpa sorotan kamera dan tanpa ribuan tanda suka.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk memiliki hati yang peka terhadap kondisi sesama. Islam tidak mengajarkan kita menjadi orang yang menderita, namun mengajak kita menjadi bagian dari solusi.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ dan تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam melakukan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari perintah Allah SWT. Ketika kita membantu orang lain, kita sedang menjalankan salah satu nilai utama dalam ajaran Islam.
Mungkin kita tidak mampu membantu semua orang.
Namun kita selalu mampu membantu seseorang.
Satu paket sembako mungkin terlihat sederhana bagi kita, tetapi bisa menjadi penyelamat bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan hari itu.
Biaya sekolah yang kita bantu mungkin hanya sebagian kecil dari penghasilan kita, tetapi bisa menjadi alasan seorang anak tetap melanjutkan pendidikannya.
Infak yang kita sisihkan setiap hari mungkin terasa ringan, namun jika dilakukan bersama-sama, manfaatnya akan sangat besar bagi masyarakat.
Inilah indahnya zakat, infak, dan sedekah.
Kebaikan yang kita lakukan tidak berhenti pada satu orang, tetapi dapat terus mengalir menjadi manfaat bagi banyak kehidupan.
Rasulullah ﷺ Bersabda
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Artinya:
“Barang siapa yang meringankan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan satu kesulitannya pada hari berhenti.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap bantuan yang kita berikan tidak hanya memberikan manfaat bagi penerimanya, tetapi juga menjadi investasi akhirat bagi diri kita sendiri.
Sering kali kita merasa iba ketika melihat berita tentang kemiskinan atau bencana. Namun rasa iba saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan tindakan nyata.
Islam mengajarkan bahwa kepedulian harus diwujudkan dalam amal.
Tidak harus menunggu kaya.
Tidak harus menunggu memiliki harta berlimpah.
Bahkan sedekah yang kecil pun memiliki nilai besar jika dilakukan dengan ikhlas.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Artinya:
Sedekah tidak akan mengurangi harta.
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi penguat bahwa berbagi bukan berarti kehilangan. Justru Allah akan menggantinya dengan keberkahan, ketenangan hati, kemudahan urusan, dan rezeki dari arah yang tidak pernah kita duga.
Oleh karena itu, jangan biarkan rasa takut kehilangan menghalangi kita untuk membantu sesama.
Bayangkan jika sebanyak orang yang membagikan video viral juga ikut menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu sesama.
Bayangkan jika setiap kali membuka media sosial, kita juga tergerak untuk membuka hati.
Mungkin kita tidak bisa mengubah algoritma media sosial.
Namun kita bisa mengubah kehidupan seseorang.
Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat menghadirkan harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi , amanah yang Anda titipkan akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, dakwah, serta pemberdayaan umat secara tepat sasaran dan transparan.
Tidak semua tangisan berhasil masuk FYP.
Tetapi setiap tangisan layak mendapatkan perhatian.
Jangan hanya menjadi penonton di balik layar.
Mari menjadi orang yang menghapus air mata mereka dengan kepedulian yang nyata.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
👉 https://baznaskotasukabumi.com/zakat
https://baznaskotasukabumi.com/zakat/
Karena mungkin, bagi kita itu hanya beberapa klik di layar ponsel. Namun bagi mereka yang mendesak, bantuan itu bisa menjadi jawaban atas doa yang telah lama dipanjatkan.
Mari jadikan kepedulian lebih viral dari sekadar konten. Sebab di sisi Allah, bukan banyaknya penonton yang dinilai, melainkan banyaknya kebaikan yang kita berikan kepada sesama.
untuk melihat artikel lainnya klik disini