Tim Juara Bukan Cuma yang Menang di Lapangan, Tapi yang Menang dalam Berbagi. Mengaitkan Euforia Piala Dunia 2026 dengan Semangat Zakat, Infak, dan Sedekah
Piala Dunia 2026 kembali menjadi perhatian dunia. Selama beberapa pekan, jutaan pasang mata diatur pada setiap pertandingan. Sorak sorai memenuhi stadion, media sosial memenuhi prediksi skor, analisis pertandingan, hingga perayaan kemenangan tim favorit. Orang-orang rela begadang demi menyaksikan pertandingan, mengenakan jersey kebanggaan, bahkan berkumpul bersama keluarga dan sahabat untuk menikmati setiap detik pertandingan.
Sepak bola memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia mampu menyatukan berbagai bangsa, bahasa, dan budaya dalam satu semangat yang sama. Ketika sebuah tim mencetak gol, jutaan orang ikut membongkar. Ketika tim kesayangannya kalah, jutaan hati ikut bersedih. Itulah indahnya sebuah pertandingan.
Namun, di balik gegap gempita Piala Dunia, ada pertandingan lain yang berlangsung setiap hari. Pertandingan yang mungkin tidak disiarkan televisi, tidak menjadi trending topic, dan tidak mendapat sorotan kamera. Pertandingan itu adalah perjuangan hidup jutaan saudara kita yang berusaha bertahan menghadapi kerasnya kehidupan.
Ada seorang ayah yang setiap hari berjuang mencari nafkah demi anak-anaknya. Ada seorang ibu yang harus menghemat uang belanja agar keluarganya tetap bisa makan. Ada anak-anak yang tetap semangat belajar meski harus berjalan jauh atau belajar dengan fasilitas yang sangat terbatas. Ada pula lansia yang berharap ada yang peduli terhadap kondisi mereka.
Mereka sedang memainkan pertandingan hidup yang sesungguhnya.
Dan di pertandingan itulah, kami memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari kemenangan mereka.
Dalam Islam, kemenangan sejati bukan hanya tentang mengangkat trofi atau mendapatkan tepuk tangan manusia. Kemenangan terbesar adalah ketika hidup kita mampu menjadi manfaat bagi orang lain. Ketika Allah menjadikan kita sebagai perantara hadirnya kebahagiaan, harapan, dan pertolongan bagi sesama.
Salah satu jalan menuju kemenangan itu adalah melalui zakat, infak, dan sedekah .
Setiap orang memiliki pertandingan hidup yang berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan sakit, kehilangan pekerjaan, biaya pendidikan, hingga kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
Sementara itu, sebagian dari kita mungkin berada dalam kondisi yang lebih baik. Masih memiliki pekerjaan, masih bisa makan dengan layak, masih dapat berkumpul bersama keluarga, bahkan masih memiliki kesempatan menikmati hiburan seperti menonton pertandingan sepak bola.
Semua nikmat itu patut disyukuri.
Namun rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Salah satu bentuk syukur terbaik adalah berbagi kepada mereka yang sedang membutuhkan.
Ketika kita mengeluarkan sebagian rezeki untuk membantu sesama, sesungguhnya kita sedang memperkuat “tim kemanusiaan”. Kita membantu agar semakin banyak orang yang mampu bangkit dari kesulitan hidupnya.
Bisa jadi, uang yang bagi kita hanya setara dengan harga secangkir kopi atau camilan, bagi orang lain adalah harapan untuk makan hari itu. Bisa jadi, infak yang kita anggap kecil justru menjadi karena seorang anak dapat kembali bersekolah atau seorang pasien memperoleh pengobatan.
Itulah mengapa zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar memberi aktivitas. Ia adalah bentuk kasih sayang, kepedulian, sekaligus investasi amal yang dampaknya jauh melampaui nilai nominalnya.
Allah SWT berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat yang indah ini memberikan harapan kepada setiap Muslim bahwa tidak ada sedekah yang sia-sia. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, Allah mampu melipatgandakannya berkali-kali lipat.
Manusia mungkin hanya melihat nominal yang kita keluarkan, namun Allah melihat keikhlasan yang ada di dalam hati.
Dalam pertandingan sepak bola, kemenangan hanya dirasakan oleh satu tim. Namun dalam berbagi, semua orang bisa menjadi pemenang.
Penerima bantuan mendapatkan harapan baru.
Pemberi bantuan mendapatkan pahala, keberkahan, dan ketenangan hati.
Masyarakat memperoleh manfaat.
Dan yang paling utama, Allah meridhai setiap langkah kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.
Banyak orang yang beranggapan bahwa berbagi akan mengurangi harta. Padahal Islam mengajarkan hal yang sebaliknya. Rezeki yang dikeluarkan di jalan Allah justru menjadi sebab datangnya keberkahan yang sering kali tidak dapat dihitung dengan logika manusia.
Bisa jadi Allah menggantinya dengan kesehatan, keluarga yang harmonis, usaha yang semakin berkembang, atau hati yang jauh lebih tenang.
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Artinya:
Sedekah tidak akan mengurangi harta.
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa harta yang kita sedekahkan sebenarnya tidak hilang. Ia berpindah menjadi investasi akhirat yang menghasilkan jauh lebih besar daripada apa pun yang kita simpan di dunia.
Tidak semua orang bisa mencetak gol di stadion.
Tidak semua orang bisa mengangkat trofi Piala Dunia.
Tidak semua orang akan dikenal oleh jutaan orang.
Namun setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemenang di hadapan Allah.
Pemenang itu adalah tangan mereka yang ringan membantu orang lain.
Mereka yang tetap menyisihkan sebagian rezekinya meski tidak berlebihan.
Mereka yang diam-diam membantu tanpa mengharap pujian.
Bayangkan jika zakat yang Anda tunaikan menjadi jalan seorang anak yatim melanjutkan sekolahnya.
Bayangkan jika infak yang Anda berikan membantu menghadirkan layanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Bayangkan jika sedekah Anda menjadi sebab sebuah keluarga dapat kembali tersenyum setelah sekian lama hidup dalam kesulitan.
Bukankah kemenangan itu jauh lebih bermakna daripada sekedar memenangkan sebuah pertandingan?
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya:
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ath-Thabrani)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa ukuran kemewahan seseorang bukan pada banyaknya harta, jabatan, ataupun popularitas. Kemuliaan sejati adalah ketika keberadaan kita membawa manfaat bagi sebanyak mungkin orang.
Piala Dunia suatu saat akan berakhir.
Trofi akan berpindah tangan.
Sorak sorai akan perlahan menghilang.
Namun amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap tercatat hingga hari kiamat.
Hari ini kita mungkin ikut merayakan kemenangan tim favorit. Tapi jangan lupa, masih ada saudara-saudara kita yang sedang berjuang memenangkan pertandingan hidup mereka.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi , zakat, infak, dan sedekah yang Anda titipkan akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, dakwah, hingga berbagai program pemberdayaan umat.

Tidak semua orang bisa menjadi juara dunia.
Tetapi semua orang bisa menjadi juara dalam berbagi.
Jangan biarkan euforia Piala Dunia hanya menjadi hiburan sesaat. Jadikan semangat kebersamaan dan kepedulian yang ditunjukkan dalam olahraga sebagai inspirasi untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Karena setiap rupiah yang Anda keluarkan hari ini bisa menjadi gol kemenangan bagi kehidupan orang lain.
Mari jadilah bagian dari tim terbaik—tim yang tidak hanya mengejar kemenangan di dunia, tetapi juga kemenangan di akhirat.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Klik: https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat , https://baznaskotasukabumi.com/zakat/
Faktanya, tim juara bukan hanya menang di lapangan, tapi mereka menang dalam kepedulian, keikhlasan, dan berbagi kepada sesama.
#Untuk membaca artikel seru lainnya klik : Artikel