Kita Takut Donasi Salah Sasaran. Tapi Pernahkah Kita Takut Tidak Membantu Siapa-Siapa?
Ketika melihat berita tentang bencana, keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, atau kelompok rentan yang membutuhkan bantuan, biasanya rasa iba muncul lebih dulu.
Kita ingin membantu. Namun beberapa detik kemudian, muncul pertanyaan seperti “Benarkah bantuan ini sampai kepada orang yang membutuhkan?”, atau “Bagaimana kalau ternyata penggalangannya tidak aman?”, hingga “Kalau saya salah memilih tempat berdonasi bagaimana?”.
Pertanyaan tersebut sebenarnya wajar. Di tengah maraknya penggalangan dana digital, kehati-hatian justru diperlukan. Namun, ada satu persoalan yang jarang kita sadari yakni ketakutan untuk salah membantu terkadang membuat kita memilih untuk tidak membantu sama sekali.
Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih sensitif terhadap kemungkinan kehilangan dibandingkan memperoleh sesuatu yang nilainya setara. Dalam psikologi perilaku, kecenderungan ini dikenal sebagai loss aversion.
Dalam hal berdonasi, “kehilangan” tidak selalu berarti kehilangan uang. Kita bisa merasa takut kehilangan kepercayaan, rasa aman, kendali, atau keyakinan bahwa keputusan kita benar.
Misalnya, seseorang ingin berdonasi Rp100.000. Bukan nominalnya yang selalu menjadi persoalan. Ia mungkin justru berpikir, “Bagaimana kalau uang saya tidak digunakan sebagaimana mestinya?”
Akhirnya, daripada mengambil risiko salah memilih, keputusan yang paling aman terasa seperti tidak melakukan apa-apa.
Padahal, di sinilah muncul sebuah paradoks berupa kita begitu takut salah membantu sampai lupa bahwa tidak membantu juga merupakan sebuah pilihan.
Bukan berarti setiap orang harus memberikan bantuan kepada setiap penggalangan dana yang ditemuinya. Justru sebaliknya, kepedulian perlu disertai kehati-hatian. Persoalannya adalah ketika kehati-hatian tidak lagi menjadi alat untuk memilih bantuan yang tepat, tetapi berubah menjadi alasan untuk berhenti peduli.
Menariknya, keputusan untuk tidak berdonasi terkadang tidak hanya berkaitan dengan pertimbangan rasional.
Ada sisi emosional di dalamnya.
Melihat penderitaan orang lain dapat menghadirkan perasaan yang tidak nyaman seperti sedih, bersalah, takut, bahkan merasa tidak berdaya. Kita kemudian dihadapkan pada persoalan yang tidak mudah diselesaikan hanya dengan satu tindakan.
Berbeda dengan membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Kita dapat memilih makanan yang kita sukai, membeli barang yang diinginkan, atau melakukan self-reward. Hasil emosionalnya langsung terasa seperti merasakan perasaan senang, puas, hingga terhibur.
Sementara membantu orang lain berarti berhadapan dengan kenyataan bahwa masih ada masalah yang tidak dapat kita selesaikan sendirian.
Karena itu, terkadang kita bukan tidak peduli.
Kita hanya lebih nyaman menghindari perasaan tidak berdaya tersebut.
Di sinilah kita perlu membedakan antara merasakan penderitaan orang lain dan merespons penderitaan tersebut.
Rasa iba adalah awal dari kepedulian, tetapi ia belum menjadi pertolongan.
Kita bisa merasa sedih melihat korban bencana. Kita bisa terharu membaca kisah keluarga yang kesulitan. Kita bisa membagikan informasi tentang mereka.
Namun, jika semuanya berhenti pada perasaan, maka penderitaan tersebut tidak mengalami perubahan apa pun.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kebaikan bukan hanya sesuatu yang dirasakan dalam hati, tetapi juga sesuatu yang dilakukan bersama.
Persoalannya kemudian bukan “bisakah saya membantu semua orang?”, tentu tidak.
Pertanyaan yang lebih realistis adalah “ketika saya tidak mampu membantu semua orang, apakah saya tetap akan memilih untuk membantu seseorang?”
Di era digital, niat baik semakin mudah diwujudkan. Namun kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan nyata berupa masyarakat harus mampu menentukan saluran yang aman, terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah lembaga seperti BAZNAS memiliki peran penting.
Penghimpunan zakat, infak, dan sedekah bukan hanya tentang menyediakan tempat bagi masyarakat untuk menyalurkan dana. Ada tanggung jawab untuk memastikan dana yang dihimpun dapat dikelola dan disalurkan kepada pihak yang membutuhkan melalui program-program kemanusiaan.
Bantuan sosial, respons bencana, dukungan bagi kelompok rentan, layanan kesehatan, pendidikan, dan berbagai bentuk pemberdayaan merupakan contoh bagaimana dana yang dihimpun dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata.
Dengan demikian, persoalan digital fundraising bukan sekadar “bagaimana membuat orang mau berdonasi?”, tetapi juga “bagaimana memastikan niat baik masyarakat memiliki saluran yang dapat dipercaya?”

Kehati-hatian tetap penting. Kita memang perlu memastikan lembaga atau saluran yang dipilih memiliki kredibilitas dan pengelolaan yang jelas.
Namun, setelah menemukan saluran yang terpercaya, jangan sampai keraguan terus menjadi alasan untuk menunda kebaikan.
Sebab mungkin kita tidak pernah mampu membantu semua orang yang membutuhkan.
Tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk membantu seseorang.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kita mampu menyelesaikan seluruh persoalan kemanusiaan.
Melainkan, ketika hati kita sudah tergerak, apakah kita akan membiarkannya berhenti sebagai rasa iba, atau mengubahnya menjadi tindakan?
Melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS Kota Sukabumi, sebagian dari apa yang kita miliki dapat menjadi bagian dari ikhtiar membantu mereka yang membutuhkan.
Karena kebaikan tidak harus dimulai dari kemampuan untuk melakukan semuanya. Kadang, ia hanya membutuhkan keberanian untuk melakukan sesuatu.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :