Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Rasulullah di Dunia yang Tidak Pernah Diam?
Ponsel baru saja diletakkan, lalu berbunyi lagi.
Satu pesan masuk. Sebuah notifikasi muncul. Berita buruk berganti dengan berita berikutnya. Media sosial menawarkan kehidupan orang lain untuk kita lihat, bandingkan, lalu pikirkan kembali kehidupan kita sendiri. Di tengah semua itu, dunia juga terus meminta sesuatu yaitu lebih cepat, lebih produktif, lebih berhasil, dan jangan sampai tertinggal.
Kita hidup pada zaman ketika diam justru terasa asing.
Tubuh mungkin sedang beristirahat, tetapi pikiran tetap bekerja. Kita memikirkan pekerjaan yang belum selesai, masa depan yang belum jelas, kabar yang belum dibalas, dan kehidupan yang tampaknya terus bergerak tanpa mau menunggu siapa pun.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yaitu bagaimana manusia dapat tetap tenang ketika dunia seolah tidak pernah memberi kesempatan untuk berhenti?
Kita tentu tidak dapat mengatakan apa yang akan Rasulullah SAW lakukan terhadap setiap persoalan modern yang tidak pernah beliau alami. Namun, kita dapat belajar dari Al-Qur’an dan keteladanan beliau tentang cara menghadapi tekanan, memperlakukan manusia, dan menjaga arah hidup ketika keadaan tidak selalu sesuai dengan keinginan.
Salah satu kelelahan terbesar manusia hari ini adalah perasaan bahwa semua hal harus segera direspons.
Pesan harus dibalas. Berita harus diketahui. Perdebatan harus diikuti. Tren harus dipahami. Kesempatan tidak boleh dilewatkan.
Akhirnya, perhatian kita menjadi sesuatu yang terus diperebutkan.
Padahal, memiliki banyak informasi tidak selalu berarti memiliki banyak pemahaman. Mengetahui banyak hal juga tidak otomatis membuat kita lebih bijaksana.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan yang dimaksud bukan berarti kehidupan akan berhenti menghadirkan masalah. Namun ayat ini mengingatkan bahwa manusia membutuhkan tempat untuk kembali ketika terlalu banyak hal menariknya ke berbagai arah.
Mungkin yang membuat kita lelah bukan hanya karena terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena terlalu sedikit kesempatan untuk benar-benar hadir dalam kehidupan yang sedang kita jalani.

Dunia digital membuat manusia semakin mudah bereaksi.
Seseorang berkata kasar, kita ingin membalas. Sebuah pendapat berbeda muncul, kita ingin memenangkan perdebatan. Kesalahan orang lain tersebar, kita ikut berkomentar.
Semua terasa harus segera ditanggapi.
Namun, kekuatan tidak selalu terletak pada kemampuan untuk memberikan respons paling cepat.
Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang mampu menahan diri, seperti yang telah tertera dalam surat QS. Ali ‘Imran: 134:
“…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Menahan diri bukan berarti membiarkan ketidakadilan. Memaafkan juga bukan berarti membenarkan semua kesalahan.
Tetapi ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak harus menyerahkan kendali diri kepada setiap emosi yang datang.
Di tengah dunia yang mendorong kita untuk selalu memiliki reaksi, menjaga diri agar tidak terburu-buru justru dapat menjadi bentuk kekuatan.
Ada hal lain yang sering membuat manusia modern lelah yaitu masa depan.
Kita membuat rencana, menghitung kemungkinan, mempersiapkan berbagai jalan. Semua itu penting. Namun, ada titik ketika perencanaan berubah menjadi kecemasan yang tidak pernah selesai.
Kita ingin mengetahui apa yang akan terjadi satu tahun dari sekarang. Kita ingin memastikan semua keputusan menghasilkan sesuatu yang baik. Kita ingin hidup berjalan sesuai dengan rencana.
Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali kita.
Di sinilah tawakal sering disalahpahami. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha dan menyerahkan semuanya kepada keadaan. Justru Al-Qur’an mengajarkan dalam Al-Qur’an bahwa:
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Ada usaha, ada keputusan, lalu ada kesadaran bahwa manusia tidak menguasai seluruh hasil.
Mungkin tawakal adalah cara untuk tetap bekerja tanpa merasa harus mengendalikan seluruh kehidupan.
Dunia yang penuh tekanan dapat membuat manusia berubah.
Orang yang lelah menjadi mudah marah. Orang yang takut menjadi mudah curiga. Orang yang merasa terancam bisa kehilangan kemampuan untuk melihat manusia lain dengan kasih sayang.
Namun, justru di tengah keadaan seperti itulah nilai rahmat menjadi semakin penting.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Rasulullah SAW hadir sebagai pembawa rahmat. Keteladanan ini mengajarkan bahwa kerasnya dunia tidak harus selalu dibalas dengan kekerasan.
Kita mungkin tidak dapat mengendalikan seluruh berita buruk yang muncul. Kita tidak bisa menghentikan semua konflik. Kita juga tidak mampu menyelesaikan seluruh masalah manusia.
Tetapi kita masih dapat memilih bagaimana keberadaan kita memengaruhi dunia di sekitar kita.
Apakah kita menambah kemarahan atau mengurangi ketegangan?
Apakah kita memperpanjang kebencian atau berusaha menjaga kemanusiaan?
Apakah keberadaan kita hanya mengambil perhatian, atau juga memberikan manfaat?
Mungkin masalah terbesar manusia hari ini bukan hanya dunia yang bergerak terlalu cepat.
Tetapi kita yang terlalu sibuk mengikuti gerakannya hingga lupa bertanya tentang sebenarnya, kita sedang menuju ke mana?
Keteladanan Rasulullah SAW tidak harus dipahami sebagai cerita masa lalu yang hanya dikenang pada waktu tertentu. Ia dapat menjadi cermin untuk melihat kembali kehidupan kita hari ini.
Kesabaran mengajarkan kita agar tidak dikendalikan oleh setiap tekanan. Tawakal mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu berada dalam kendali kita. Menjaga lisan mengajarkan bahwa tidak semua hal harus ditanggapi. Sementara rahmat mengingatkan bahwa sekeras apa pun dunia, kita masih memiliki pilihan untuk tidak ikut menjadi keras.
Di tengah notifikasi yang tidak berhenti, tuntutan yang terus bertambah, dan masa depan yang sering membuat cemas, mungkin kita memang tidak bisa membuat dunia menjadi lebih sunyi.
Tetapi kita dapat menciptakan ruang di dalam diri agar dunia tidak mengambil seluruh kendali atas hidup kita.
Dan mungkin, di situlah keteladanan Rasulullah SAW terasa begitu dekat yang bukan karena beliau hidup dalam dunia yang sama dengan kita, tetapi karena nilai-nilai yang beliau bawa tetap dapat membantu manusia menjaga dirinya agar tidak hilang di tengah dunia yang tidak pernah diam.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :