FOMO Sama Dunia? 7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
Pernah merasa tertinggal ketika melihat teman membeli barang baru, traveling ke tempat impian, memiliki karier cemerlang, atau menjalani kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial? Perasaan takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out) semakin mudah muncul ketika kita terus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Masalahnya bukan sekadar ingin mengikuti tren. Jika tidak dikendalikan, FOMO sama dunia dapat membuat kita terlalu sibuk mengejar pengakuan hingga lupa mempersiapkan akhirat.
Islam tidak melarang seseorang menikmati kehidupan dunia. Namun, dunia tidak boleh menjadi tujuan utama. Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara.
Media sosial membuat kita mudah melihat pencapaian orang lain setiap hari. Ada yang membeli rumah, mendapatkan pekerjaan baru, memiliki kendaraan impian, hingga menikmati liburan mewah.
Tanpa disadari, muncul pikiran, “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?”
Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang mengejar sesuatu bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin terlihat berhasil. Padahal, kebahagiaan tidak selalu diukur dari apa yang terlihat di dunia.
Allah SWT berfirman:
اِعْلَمُوْۤا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Pesannya adalah jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita lupa bahwa ada kehidupan yang lebih kekal.
Setiap orang memiliki jalan hidup berbeda. Berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran harga diri.
Syukuri apa yang Allah berikan dan gunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.
Tidak semua yang terlihat di media sosial menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Berikan waktu bagi hati untuk beristirahat dari budaya membandingkan diri.
Ketika dunia terasa semakin bising, ibadah menjadi ruang untuk kembali mengingat tujuan hidup. Jangan biarkan kesibukan mengejar dunia membuat salat menjadi sesuatu yang dikesampingkan.
Rasulullah SAW bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Artinya: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari No. 6416)
Hadis ini mengajarkan agar kita tidak menjadikan dunia sebagai tempat bergantung sepenuhnya.
Saat melihat keberhasilan orang lain, biasakan berkata, “Masya Allah, semoga Allah memberkahinya.” Kemudian tanyakan kepada diri sendiri, “Nikmat apa yang sudah Allah berikan kepadaku?”
Rasa syukur membantu hati melihat apa yang dimiliki, bukan terus mengejar apa yang belum ada.
Salah satu cara terbaik melawan keterikatan berlebihan pada dunia adalah berbagi.
Ketika sebagian rezeki kita diberikan kepada orang yang membutuhkan, kita belajar bahwa harta bukan sekadar sesuatu untuk dinikmati sendiri, tetapi juga amanah yang dapat menjadi jalan kebaikan.
Bayangkan jika sebagian uang yang biasanya digunakan untuk mengikuti tren dialihkan menjadi makanan bagi keluarga dhuafa, beasiswa anak yatim, bantuan kesehatan, atau pemberdayaan masyarakat.
Sedekah hari ini mungkin tidak membuat kita terlihat lebih kaya di mata manusia, tetapi dapat menjadi bekal berharga di hadapan Allah.
Miliki cita-cita dunia, tetapi jangan kehilangan arah akhirat. Bekerja keras boleh, memiliki rumah boleh, mengejar pendidikan boleh, bahkan menikmati hasil kerja juga boleh.
Yang perlu dijaga adalah hati: jangan sampai dunia berada di tangan, tetapi justru menguasai hati.

Bagaimana jika kita tidak lagi takut tertinggal tren dunia, tetapi takut tertinggal dalam kebaikan?
Takut kehilangan kesempatan bersedekah. Takut melewatkan kesempatan membantu sesama. Takut memiliki rezeki tetapi lupa berbagi.
Inilah saatnya mengubah FOMO sama dunia menjadi semangat mengejar amal yang membawa manfaat.
Jangan biarkan seluruh perhatian kita habis untuk mengejar apa yang sementara. Sisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah agar manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Bersama BAZNAS, mari ubah sebagian rezeki menjadi makanan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, dan harapan.
Karena dunia boleh dikejar, tetapi akhirat jangan sampai dilupakan. Dan kebaikan yang kita tanam hari ini, semoga menjadi bekal yang menyelamatkan kita kelak.
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :