Berapa Banyak Harta yang Sanggup Kita Pertanggungjawabkan?
Kita sering bertanya, “Berapa banyak harta yang ingin saya miliki?”
Ingin punya rumah sendiri. Ingin memiliki tabungan yang cukup. Ingin punya kendaraan yang nyaman. Ingin memiliki investasi, usaha, atau penghasilan yang terus bertambah.
Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut. Bekerja, mencari penghasilan, membangun usaha, dan memperbaiki keadaan ekonomi adalah bagian dari ikhtiar manusia.
Namun, mungkin ada satu pertanyaan yang jauh lebih jarang kita ajukan tentang, “Berapa banyak harta yang sanggup saya pertanggungjawabkan?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya mengubah cara kita melihat kekayaan.
Sebab dalam Islam, harta bukan hanya sesuatu yang dikumpulkan. Harta juga sesuatu yang akan ditanyakan.
Setiap bulan kita mungkin menghitung berapa penghasilan yang diterima, berapa uang yang tersimpan, berapa cicilan yang harus dibayar, dan berapa yang masih tersisa.
Kita terbiasa menghitung harta dari sisi jumlah.
Semakin banyak, sering kali semakin terasa aman.
Tetapi Islam mengajarkan bahwa harta tidak berhenti pada persoalan “berapa banyak yang kita punya?”
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.”
(HR. Tirmidzi)
Perhatikan satu bagian yang sering luput dari perhatian kita yaitu harta akan ditanyakan dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.
Artinya, persoalan harta dalam Islam bukan hanya tentang jumlah.
Ada dua pertanyaan besar di belakangnya mulai dari mana ia datang? dan ke mana ia pergi?
Di dunia, mungkin kita hanya melihat angka di rekening.
Di akhirat, angka itu memiliki cerita.
Memiliki harta bukanlah kesalahan.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi miskin agar dianggap lebih dekat kepada Allah. Islam juga tidak melarang seseorang menjadi kaya selama kekayaan tersebut diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan sesuai dengan ketentuan Allah.
Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah harta berada di tangan kita.
Sebab semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak pula hal yang perlu kita jaga.
Bayangkan seseorang memiliki penghasilan yang besar. Ia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, membeli sesuatu yang ia inginkan, menyimpan sebagian hartanya, mengembangkan usaha, dan menikmati hasil kerja kerasnya.
Tetapi di tengah semua itu, ada pertanyaan yang tidak terlihat yakni apakah seluruh harta itu sudah digunakan sebagaimana mestinya?
Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti orang yang memiliki banyak harta.
Justru sebaliknya, pertanyaan ini mengajarkan bahwa kekayaan adalah ruang yang lebih luas untuk berbuat baik sekaligus tanggung jawab yang lebih besar.
Kita hidup dalam budaya yang sangat takut kehilangan.
Ketika harga kebutuhan naik, kita khawatir.
Ketika pendapatan berkurang, kita gelisah.
Ketika tabungan menipis, kita merasa tidak aman.
Ketika kehilangan sejumlah uang, kita bisa mengingatnya berhari-hari.
Semua itu manusiawi.
Namun, pernahkah kita merasa gelisah karena ada harta yang belum kita tunaikan haknya?
Pernahkah kita bertanya, “Apakah dari penghasilan saya ada kewajiban yang belum saya keluarkan?”
Pernahkah kita memikirkan, “Berapa banyak dari apa yang saya miliki yang benar-benar membawa manfaat bagi orang lain?”
Inilah perubahan cara berpikir yang penting.
Kita sering takut harta kita berkurang, tetapi Islam mengajarkan kita untuk memikirkan apakah harta kita sudah berada di tempat yang benar.
Sebab tidak semua harta yang berhasil kita pertahankan adalah harta yang berhasil kita manfaatkan.

Ada perbedaan antara memiliki harta dan memahami tanggung jawab atas harta.
Seseorang dapat memiliki tabungan yang besar, tetapi belum tentu memahami bagaimana harta tersebut seharusnya digunakan.
Seseorang dapat memiliki penghasilan yang tinggi, tetapi belum tentu memperhatikan apakah di dalam hartanya terdapat kewajiban yang harus ditunaikan.
Seseorang juga dapat bekerja keras sepanjang hidupnya, tetapi lupa bahwa kehidupan tidak berakhir ketika seluruh harta berhasil dikumpulkan.
Allah SWT berfirman:
“Kemudian pada hari itu kamu benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)
Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Sebab nikmat bukan hanya sesuatu yang harus disyukuri dengan ucapan.
Nikmat juga membawa pertanyaan tentang bagaimana ia digunakan.
Rumah yang kita tempati, makanan yang kita makan, penghasilan yang kita terima, fasilitas yang kita nikmati, dan harta yang kita simpan—semuanya merupakan bagian dari kehidupan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Maka persoalannya bukan lagi “Bolehkah saya memiliki banyak?”
Tetapi, “Sudahkah saya belajar bertanggung jawab atas apa yang saya miliki?”
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih dalam.
Keduanya bukan sekadar aktivitas mengeluarkan uang.
Zakat mengajarkan bahwa dalam kondisi tertentu, ada kewajiban yang melekat pada harta yang kita miliki.
Infak dan sedekah mengajarkan bahwa harta tidak harus selalu berakhir pada diri sendiri.
Ketika sebagian harta diberikan kepada orang lain, sebenarnya kita sedang belajar satu hal penting bahwa memiliki bukan berarti menggenggam semuanya.
Ada kalanya harta menjadi lebih berarti justru ketika ia berpindah dari tangan kita dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Allah SWT berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali ‘Imran: 92)
Ayat ini tidak berbicara tentang memberikan sesuatu yang sudah tidak kita sukai atau tidak kita butuhkan.
Ada proses batin di dalamnya: melepaskan sebagian dari sesuatu yang kita cintai demi sesuatu yang lebih bernilai di hadapan Allah.
Karena itu, zakat, infak, dan sedekah juga dapat menjadi latihan bagi hati.
Kita belajar bahwa keamanan hidup tidak selalu berasal dari semakin banyak yang kita simpan.
Kadang, ketenangan justru tumbuh ketika kita tahu bahwa sebagian dari apa yang Allah titipkan telah kita arahkan kepada kebaikan.
Kita sering bertanya tentang “Bagaimana supaya saya bisa mendapatkan lebih banyak?”
Itu bukan pertanyaan yang salah.
Tetapi sebagai seorang Muslim, pertanyaan tersebut seharusnya dilengkapi dengan pertanyaan lain, “Untuk apa saya ingin memiliki lebih banyak?”
Karena bertambahnya harta seharusnya tidak hanya memperbesar kemampuan kita untuk membeli.
Ia juga seharusnya memperbesar kemampuan kita untuk memberi.
Bukan berarti setiap orang harus memiliki jumlah yang sama untuk bersedekah.
Bukan pula berarti orang yang memiliki sedikit tidak memiliki kesempatan untuk berbuat baik.
Yang penting adalah kesadaran bahwa setiap harta memiliki konsekuensi.
Sedikit atau banyak, semuanya mengandung tanggung jawab sesuai dengan keadaan dan ketentuannya.
Maka jangan hanya bercita-cita meninggalkan banyak harta untuk keluarga.
Bercita-citalah pula meninggalkan banyak kebaikan melalui harta yang Allah titipkan kepada kita.
Kesadaran tersebut membutuhkan tindakan nyata.
Di sinilah BAZNAS hadir sebagai salah satu lembaga yang membantu masyarakat menunaikan zakat serta menyalurkan infak dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan.
Melalui pengelolaan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah, harta yang sebelumnya berada di tangan seseorang dapat menjadi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya, “Berapa banyak harta yang akan saya miliki?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah “Ketika semua harta itu ditanya, apa yang akan saya jawab?”
Berapa yang diperoleh dengan cara yang halal?
Berapa yang digunakan untuk kebutuhan?
Berapa yang diberikan kepada keluarga?
Berapa yang ditunaikan sebagai kewajiban?
Dan berapa yang pernah menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan manfaat?
Karena pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah saldo rekening.
Yang kita bawa adalah pertanggungjawaban atas apa yang pernah Allah titipkan.
Maka, selagi kesempatan masih ada, mari belajar memandang harta bukan hanya sebagai sesuatu yang ingin kita miliki, tetapi sebagai sesuatu yang ingin kita pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.
Sebab pertanyaan terpenting tentang harta bukanlah “seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan”, melainkan “seberapa banyak kebaikan yang berhasil kita lahirkan darinya.”
Jika Anda memiliki kewajiban zakat atau ingin menyalurkan infak dan sedekah, tunaikan melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kebaikan yang Anda titipkan dapat dikelola dan disalurkan secara tepat kepada mereka yang membutuhkan.
Karena harta yang kita miliki mungkin akan berakhir di dunia, tetapi kebaikan yang lahir darinya dapat menjadi bekal menuju akhirat.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :