Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang Setelah Melihat Hidup Orang Lain?
Pernahkah kita merasa hidup baik-baik saja sampai membuka media sosial?
Hari itu mungkin tidak ada masalah besar. Pekerjaan masih berjalan, keluarga baik-baik saja, kebutuhan masih terpenuhi. Kita bahkan sempat merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Lalu beberapa menit kemudian, kita melihat seseorang membeli rumah baru.
Orang lain mendapat pekerjaan yang selama ini kita inginkan.
Teman sebaya sudah menikah, punya anak, membuka bisnis, pergi ke berbagai tempat, atau menunjukkan pencapaian yang belum kita miliki.
Tiba-tiba muncul satu perasaan yang sulit dijelaskan, “Kok hidupku begini-begini saja?”
Padahal, lima menit sebelumnya tidak ada yang berubah.
Penghasilan kita tetap sama. Rumah kita masih sama. Keluarga kita masih ada. Makanan di meja masih tersedia.
Yang berubah hanya satu, kita baru saja melihat kehidupan orang lain.
Di sinilah kita perlu bertanya lebih dalam. Jangan-jangan selama ini yang membuat kita merasa kekurangan bukan semata-mata karena hidup kita kurang, tetapi karena kita terlalu sering menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.
Membandingkan diri dengan orang lain sebenarnya merupakan bagian dari sifat manusia.
Kita melihat orang lain untuk mengetahui apakah kita sudah cukup baik, sudah berhasil, atau masih perlu berkembang. Dalam batas tertentu, hal ini bisa menjadi motivasi.
Masalah muncul ketika perbandingan tersebut membuat kita tidak lagi menilai hidup berdasarkan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan kita sendiri.
Standar kita perlahan berpindah.
Awalnya kita ingin memiliki rumah karena memang membutuhkannya. Setelah melihat orang lain memiliki rumah lebih besar, rumah yang kita punya mulai terasa kecil.
Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Setelah melihat orang lain memiliki penghasilan lebih tinggi, penghasilan yang sebelumnya terasa cukup tiba-tiba dianggap tidak memadai.
Kita membeli sesuatu karena memang membutuhkannya. Setelah melihat orang lain memiliki versi yang lebih mahal, barang kita sendiri terasa tidak lagi membanggakan.
Kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya menemukan bahwa ada orang yang memiliki lebih banyak.
Namun anehnya, pengetahuan tersebut sering kali cukup untuk membuat kita merasa miskin.
Inilah jebakan perbandingan.
Ada masalah lain yang lebih besar.
Kita sering membandingkan seluruh kehidupan kita dengan sebagian kecil kehidupan orang lain.
Kita tahu kegagalan kita sendiri.
Kita tahu berapa kali kita menangis.
Kita tahu masalah keluarga yang sedang dihadapi.
Kita tahu kecemasan tentang masa depan.
Kita tahu berapa banyak rencana yang belum berhasil.
Tetapi ketika melihat orang lain, kita biasanya hanya melihat apa yang mereka tampilkan.
Foto wisuda, bukan perjuangannya.
Foto pernikahan, bukan masalah dalam rumah tangganya.
Foto liburan, bukan beban pekerjaan setelah pulang.
Foto keberhasilan bisnis, bukan kegagalan yang mungkin pernah terjadi sebelumnya.
Media sosial membuat fenomena ini semakin kuat. Kita melihat hasil akhir orang lain secara terus-menerus, sementara kita menjalani proses diri sendiri setiap hari.
Maka tidak mengherankan jika hidup orang lain terlihat lebih indah.
Pertanyaannya bukan apakah kehidupan mereka benar-benar lebih baik.
Kita hanya tidak memiliki seluruh informasinya.
Karena itu, membandingkan diri secara terus-menerus adalah permainan yang hampir pasti melelahkan.
Selalu akan ada orang yang lebih kaya.
Lebih cantik.
Lebih pintar.
Lebih sukses.
Lebih terkenal.
Lebih cepat mencapai sesuatu.
Jika ukuran kebahagiaan kita adalah “harus lebih baik daripada orang lain”, maka kita sedang menetapkan sebuah perlombaan yang tidak memiliki garis akhir.
Di sinilah persoalan menjadi lebih serius.
Apa sebenarnya arti cukup?
Apakah cukup berarti memiliki sebanyak orang lain?
Jika demikian, berapa jumlah yang harus kita miliki agar berhenti merasa kurang?
Ketika penghasilan Rp5 juta terasa cukup, mungkin kita akan merasa kurang setelah mengetahui orang lain mendapat Rp10 juta.
Ketika Rp10 juta terasa cukup, mungkin kita akan membandingkannya dengan orang yang mendapat Rp20 juta.
Begitu seterusnya.
Artinya, masalahnya bukan selalu terletak pada jumlah.
Masalahnya bisa terletak pada standar yang terus bergerak.
Islam memiliki konsep yang sangat penting untuk menghadapi persoalan ini yaitu sifat qana’ah.
Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha. Bukan pula berarti tidak boleh memiliki cita-cita atau menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Qana’ah adalah kemampuan untuk menerima dan menghargai apa yang Allah berikan tanpa menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai alasan untuk terus merasa tidak cukup.
Seseorang tetap boleh mengejar kehidupan yang lebih baik.
Tetapi ia tidak harus membenci kehidupan yang sedang dijalaninya.
Menariknya, Islam tidak meminta kita menutup mata terhadap kelebihan orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua hal: seseorang yang Allah beri harta lalu ia menginfakkannya di jalan kebenaran, dan seseorang yang Allah beri hikmah lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa melihat kelebihan orang lain tidak selalu menghasilkan sesuatu yang buruk.
Kita bisa melihat seseorang yang lebih sukses lalu bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari?”
Bukan, “Mengapa dia punya itu sementara aku tidak?”
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.
Yang pertama melahirkan motivasi.
Yang kedua bisa melahirkan iri dan ketidakpuasan.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar seberapa sering kita melihat kehidupan orang lain.
Persoalannya adalah apa yang terjadi di dalam hati kita setelah melihatnya.
Sering kali kita memahami syukur secara sederhana dengan mendapatkan nikmat lalu mengucapkan alhamdulillah.
Tentu itu bagian dari syukur.
Tetapi syukur seharusnya lebih dalam daripada ucapan.
Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur berarti menyadari bahwa sesuatu yang kita miliki bukan sekadar hasil dari usaha kita sendiri, tetapi juga merupakan nikmat yang Allah izinkan hadir dalam kehidupan kita.
Kesehatan yang masih kita miliki.
Orang tua yang masih bisa kita temui.
Teman yang masih menemani.
Pekerjaan yang masih memberi penghasilan.
Kesempatan belajar.
Kemampuan untuk makan, beribadah, bekerja, dan memperbaiki diri.
Sering kali semua itu menjadi tidak terlihat bukan karena nikmatnya hilang, tetapi karena perhatian kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki.
Kita begitu sibuk menghitung apa yang belum ada sampai lupa menghitung apa yang sudah Allah berikan.
Membandingkan diri dengan orang lain juga sering membuat kita melihat satu arah saja: ke atas.
Kita melihat orang yang lebih kaya, lalu merasa miskin.
Melihat orang yang lebih sukses, lalu merasa gagal.
Melihat orang yang lebih terkenal, lalu merasa tidak berarti.
Padahal kehidupan tidak sesederhana itu.
Bisa jadi sesuatu yang kita anggap biasa merupakan sesuatu yang sangat diharapkan orang lain.
Rumah sederhana yang kita keluhkan mungkin adalah tempat yang diimpikan seseorang.
Pekerjaan yang kita anggap melelahkan mungkin adalah kesempatan yang sedang dicari orang lain.
Penghasilan yang menurut kita belum cukup mungkin sudah menjadi sumber kehidupan bagi keluarga lain.
Ini bukan berarti kita harus berhenti memiliki cita-cita.
Justru sebaliknya.
Kita boleh melihat ke atas untuk belajar, tetapi sesekali perlu melihat sekitar untuk menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini kita anggap biasa.

Ada satu hal yang sering luput ketika kita berbicara tentang syukur.
Syukur bukan hanya tentang merasa senang karena mendapatkan sesuatu. Syukur juga seharusnya mengubah cara kita memperlakukan sesuatu yang telah kita terima.
Ketika Allah memberi kesehatan, kita menjaganya.
Ketika Allah memberi ilmu, kita menggunakannya untuk kebaikan.
Ketika Allah memberi waktu, kita tidak menghabiskannya seluruhnya untuk hal yang sia-sia.
Dan ketika Allah memberi harta, pertanyaannya bukan hanya “apa yang bisa aku beli dengan ini?”, tetapi juga “apa yang bisa aku lakukan dengan ini?”
Di sinilah rasa syukur mulai memiliki dimensi yang lebih luas.
Sebab nikmat yang hanya kita rasakan sendiri akan berhenti pada diri kita. Tetapi nikmat yang kita alirkan kepada orang lain dapat berubah menjadi kemanfaatan yang lebih panjang.
Maka semakin seseorang menyadari bahwa apa yang dimilikinya adalah nikmat, seharusnya semakin tumbuh kesadaran untuk berbagi.
Bukan karena hidupnya sudah sempurna.
Bukan pula karena ia sudah tidak membutuhkan apa-apa.
Tetapi karena ia menyadari bahwa di antara begitu banyak hal yang Allah berikan, ada sebagian yang memang harus ditunaikan dan ada sebagian yang dapat dibagikan.
Menariknya, rasa cukup tidak selalu membuat seseorang berhenti memberi.
Justru sebaliknya.
Orang yang merasa cukup biasanya lebih mudah berbagi karena ia tidak terus-menerus merasa harus mengumpulkan semuanya untuk dirinya sendiri.
Sebaliknya, seseorang yang selalu merasa kurang akan lebih mudah berkata, “Nanti saja kalau sudah lebih banyak.”
Masalahnya, standar “lebih banyak” itu bisa terus bergeser.
Hari ini merasa harus punya Rp10 juta dulu.
Besok merasa harus punya Rp20 juta.
Setelah itu ingin memiliki lebih banyak lagi.
Akhirnya, kesempatan untuk berbagi selalu menunggu “nanti”.
Padahal Islam tidak mengajarkan kita menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbuat baik.
Dalam kehidupan seorang Muslim, harta memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memenuhi keinginan pribadi. Ada kewajiban zakat bagi mereka yang memenuhi syarat, dan ada kesempatan memperbanyak infak serta sedekah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.
Allah berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali ‘Imran: 92)
Ayat ini menarik karena Allah tidak berbicara tentang harta yang sudah tidak kita sukai.
Justru tentang “sebagian harta yang kamu cintai.”
Artinya, berbagi bukan selalu tentang memberikan sesuatu yang sudah tidak kita butuhkan.
Kadang berbagi adalah latihan untuk mengatakan, “Aku memiliki sesuatu yang aku sukai, tetapi aku juga tahu bahwa ada nilai yang lebih besar ketika sebagian darinya menjadi manfaat bagi orang lain.”
Di titik inilah perspektif kita terhadap harta mulai berubah.
Sebelumnya kita bertanya, “Apa yang belum aku punya?”
Sekarang kita mulai bertanya, “Apa yang sudah aku punya, dan siapa yang bisa merasakan manfaatnya?”
Perubahan pertanyaan ini sederhana, tetapi dampaknya besar.
Kita tidak lagi hanya melihat harta sebagai simbol keberhasilan pribadi. Kita mulai melihatnya sebagai sesuatu yang dapat menjadi jalan bagi kehidupan orang lain.
Namun ada persoalan lain.
Keinginan untuk berbagi saja belum cukup.
Kita juga perlu memastikan bahwa pemberian tersebut sampai kepada orang yang tepat, dikelola dengan baik, dan memberikan manfaat sebagaimana mestinya.
Sebab kepedulian yang besar membutuhkan pengelolaan yang baik.
Di sinilah peran lembaga pengelola zakat menjadi penting.
Bayangkan jika setiap orang ingin membantu, tetapi semuanya berjalan sendiri-sendiri.
Ada yang memberikan bantuan kepada orang yang ditemuinya.
Ada yang membantu berdasarkan cerita yang didengar.
Ada yang ingin menolong suatu kelompok, tetapi tidak mengetahui kebutuhan sebenarnya.
Niatnya mungkin sama-sama baik.
Tetapi, kebaikan juga membutuhkan pengetahuan, pengelolaan, dan ketepatan sasaran.
Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya persoalan memindahkan harta dari orang yang memiliki kepada orang yang membutuhkan.
Di dalamnya ada amanah yang lebih besar: bagaimana dana yang terkumpul dapat dikelola dan disalurkan sehingga benar-benar memberi manfaat kepada masyarakat.
Karena itu, kepedulian pribadi dapat menjadi lebih kuat ketika bertemu dengan sistem yang amanah.
BAZNAS hadir sebagai lembaga yang mengelola zakat, infak, dan sedekah agar dana yang dihimpun dapat disalurkan dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat.
Dengan adanya pengelolaan tersebut, seseorang tidak harus mengetahui sendiri siapa yang paling membutuhkan, bagaimana mekanisme penyalurannya, atau bagaimana memastikan dana dapat dikelola secara tepat.
Ada lembaga yang menjalankan proses tersebut.
Dengan begitu, masyarakat dapat mengambil bagian dalam sebuah rantai kebaikan yang lebih luas.
Seseorang menunaikan zakatnya.
Zakat tersebut dikelola.
Kemudian disalurkan kepada mereka yang berhak.
Pada akhirnya, sesuatu yang awalnya hanya berupa sejumlah uang di tangan seorang muzaki dapat berubah menjadi manfaat yang dirasakan orang lain.
Di sinilah hubungan antara syukur dan kepedulian sosial menjadi nyata.
Kita menerima nikmat dari Allah.
Kita menyadari bahwa nikmat itu bukan hanya untuk dinikmati sendiri.
Kita menunaikan kewajiban dan menyisihkan sebagian harta untuk kebaikan.
Kemudian melalui pengelolaan yang amanah, sebagian dari nikmat tersebut mengalir kepada mereka yang membutuhkan.
Jadi, berbagi bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita keluarkan.
Ia juga tentang seberapa jauh manfaat dari apa yang kita keluarkan dapat dirasakan.
Pada akhirnya, persoalan membandingkan diri dengan orang lain bukan hanya tentang rasa iri.
Ada persoalan yang lebih mendasar mengenai ke mana kita mengarahkan perhatian.
Jika mata terus diarahkan kepada apa yang dimiliki orang lain, hidup kita akan selalu menemukan alasan untuk merasa kurang.
Tetapi ketika kita mulai melihat apa yang telah Allah berikan, kita menemukan sesuatu yang berbeda: ternyata ada banyak nikmat yang selama ini terlalu biasa bagi kita sampai lupa untuk disyukuri.
Dan ketika rasa syukur itu tumbuh, ia seharusnya tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah.
Ia bergerak menjadi kesadaran.
Kesadaran berubah menjadi tanggung jawab.
Dan tanggung jawab melahirkan tindakan.
Salah satunya adalah menunaikan zakat dan memperbanyak infak serta sedekah sesuai kemampuan.
Sebab mungkin pertanyaan yang lebih penting daripada “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?”
adalah “Dengan apa yang sudah Allah berikan kepadaku, apa yang sudah aku lakukan untuk menjadi lebih dekat kepada-Nya dan lebih bermanfaat bagi orang lain?”
Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk memiliki sebanyak-banyaknya.
Kita hanya sedang menjalani amanah dengan nikmat yang berbeda-beda.
Dan ketika nikmat itu kita syukuri, lalu sebagian darinya kita alirkan menjadi manfaat melalui jalan yang baik dan amanah, kita tidak hanya sedang membantu orang lain.
Kita sedang belajar menggunakan apa yang Allah berikan sesuai dengan tujuan-Nya.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :