Berapa Banyak Keputusan Buruk yang Sebenarnya Bisa Dicegah oleh Pendidikan?
Kita sering membayangkan pendidikan sebagai jalan menuju satu tujuan yaitu pekerjaan yang lebih baik.
Semakin tinggi pendidikan, semakin besar peluang mendapatkan pekerjaan. Semakin banyak keterampilan, semakin besar kemungkinan memperoleh penghasilan.
Tidak salah.
Tetapi ada sesuatu yang sering luput dari pembicaraan tentang pendidikan yakni pendidikan tidak hanya memengaruhi apa yang seseorang bisa kerjakan, tetapi juga bagaimana ia mengambil keputusan.
Seseorang bisa memiliki penghasilan cukup, tetapi selalu kehabisan uang sebelum akhir bulan.
Seseorang bisa memiliki akses internet, tetapi mudah percaya informasi yang belum terbukti.
Seseorang bisa mendapatkan kesempatan usaha, tetapi tidak mampu menghitung risikonya.
Seseorang bisa mengetahui bahwa kesehatan penting, tetapi tetap mengambil keputusan yang merugikan dirinya.
Maka muncul pertanyaan yang lebih mengganggu yaitu “apakah masalah manusia selalu terjadi karena kita tidak memiliki informasi, atau terkadang karena kita tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan informasi tersebut dengan benar?”
Bayangkan seseorang mengetahui bahwa menabung itu penting.
Ia tahu.
Tetapi setiap kali menerima penghasilan, uang tersebut habis untuk kebutuhan dan keinginan jangka pendek.
Secara pengetahuan, ia memahami pentingnya menabung.
Namun, pengetahuan tersebut belum tentu mengubah perilakunya.
Begitu pula seseorang yang mengetahui bahaya penipuan digital. Informasinya mungkin sudah tersedia di mana-mana. Tetapi ketika menerima pesan yang terlihat meyakinkan, ia tetap dapat mengambil keputusan yang salah.
Artinya, pendidikan yang bermakna tidak berhenti pada kemampuan mengetahui sesuatu.
Ia seharusnya membantu seseorang belajar dalam menganalisis, mempertimbangkan, membandingkan, memperkirakan risiko, dan mengambil keputusan.
Di sinilah pendidikan mulai memiliki pengaruh yang jauh lebih luas terhadap kehidupan.

Keputusan manusia hadir hampir setiap hari.
Apa yang akan dibeli.
Berapa uang yang akan disimpan.
Pekerjaan apa yang akan dipilih.
Informasi mana yang dipercaya.
Apakah sebuah utang benar-benar diperlukan.
Apakah sebuah peluang layak diambil.
Bahkan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Keputusan-keputusan tersebut mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Tetapi ketika dikumpulkan selama bertahun-tahun, keputusan kecil dapat membentuk kualitas kehidupan seseorang.
Seseorang yang terbiasa mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan akan memiliki pola yang berbeda dengan seseorang yang selalu bereaksi terhadap keadaan.
Karena itu, pendidikan bukan hanya investasi untuk mendapatkan pekerjaan.
Pendidikan adalah investasi terhadap kualitas keputusan yang akan dibuat seseorang sepanjang hidupnya.
Islam sendiri tidak menempatkan ilmu sekadar sebagai kumpulan informasi.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)
Pertanyaan dalam ayat tersebut menunjukkan tingginya kedudukan ilmu.
Namun, ilmu juga membawa tanggung jawab.
Apa gunanya seseorang mengetahui sesuatu jika pengetahuan tersebut tidak membantunya memilih yang lebih baik?
Dalam Islam, kemampuan membedakan yang benar dan salah juga merupakan bagian penting dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Pesan tersebut sangat relevan di era digital.
Hari ini kita hidup dalam situasi ketika informasi datang jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memeriksanya.
Maka pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana menilai apa yang kita ketahui.
Contoh paling dekat dapat kita lihat dari cara seseorang memperlakukan uang.
Literasi finansial bukan sekadar mengetahui istilah tabungan, investasi, utang, atau anggaran.
Yang lebih penting adalah kemampuan menggunakannya dalam kehidupan nyata.
Apakah seseorang mampu membedakan kebutuhan dan keinginan?
Apakah ia memahami konsekuensi sebuah pinjaman?
Apakah ia mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum berutang?
Apakah ia mampu membuat prioritas ketika penghasilannya terbatas?
Pengetahuan keuangan menjadi bermakna ketika ia membantu seseorang mengambil keputusan keuangan yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Dan pada akhirnya, kemampuan mengelola harta juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami tanggung jawab sosialnya.
Dalam perspektif Islam, harta tidak hanya berbicara tentang jumlah yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana harta digunakan.
Zakat mengajarkan kewajiban ketika syaratnya terpenuhi. Infak dan sedekah melatih seseorang untuk menggunakan sebagian hartanya bagi kebaikan.
Karena itu, literasi tentang ZIS juga merupakan bagian dari pendidikan.
Seseorang perlu memahami mengenai apa yang wajib, apa yang sunnah, siapa yang berhak menerima, bagaimana menunaikannya, dan mengapa harta memiliki dimensi sosial.
Di sinilah pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang lebih siap bekerja, tetapi juga manusia yang lebih mampu mempertanggungjawabkan keputusan dan sumber daya yang dimilikinya.
Melalui dukungan terhadap pendidikan yang dikelola secara tepat, termasuk melalui zakat, infak, dan sedekah, masyarakat dapat ikut membantu lahirnya generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan menggunakannya.
BAZNAS Kota Sukabumi dapat menjadi salah satu jembatan bagi masyarakat untuk menyalurkan ZIS sekaligus mengambil bagian dalam berbagai upaya sosial dan pendidikan.
Pada akhirnya, ukuran pendidikan mungkin tidak hanya terletak pada berapa banyak ijazah yang dimiliki seseorang.
Tetapi juga pada, seberapa baik ia berpikir sebelum memilih, seberapa bijak ia menggunakan apa yang dimiliki, dan seberapa besar ia memahami konsekuensi dari keputusannya.
Karena satu keputusan buruk mungkin hanya membutuhkan beberapa menit.
Tetapi akibatnya bisa berlangsung bertahun-tahun.
Sebaliknya, satu keputusan yang tepat—untuk belajar, menabung, bekerja dengan jujur, menghindari utang yang tidak perlu, atau menyisihkan harta untuk kebaikan—dapat mengubah arah kehidupan.
Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk membantu seseorang memperoleh pendidikan, mungkin yang sedang kita berikan bukan sekadar buku, biaya sekolah, atau fasilitas belajar.
Kita sedang membantu seseorang membangun kemampuan untuk membuat keputusan yang lebih baik sepanjang hidupnya.
Mari tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta sisihkan infak dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Karena pendidikan yang baik bukan hanya membuat seseorang lebih banyak tahu. Ia membuat seseorang lebih mampu memilih apa yang seharusnya dilakukan dengan apa yang telah ia ketahui.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :