BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Kemanusiaan
    • Kesehatan
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Dakwah
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Ketika yang Benar Mulai Terasa Asing

31 Aug 2026
Artikel
Ketika yang Benar Mulai Terasa Asing

Ketika yang Benar Mulai Terasa Asing

Dunia Berubah, tetapi Tidak Semua Hal Harus Ikut Berubah

Kita hidup di zaman yang bergerak begitu cepat.

Apa yang hari ini dianggap biasa, mungkin beberapa tahun lalu masih terasa aneh. Cara manusia berkomunikasi berubah. Cara bekerja berubah. Cara mencari informasi berubah. Bahkan cara seseorang melihat kesuksesan, kebahagiaan, hubungan, dan kehidupan juga ikut berubah.

Perubahan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Islam pun tidak mengajarkan manusia untuk menolak perkembangan zaman. Teknologi boleh berkembang, ilmu pengetahuan boleh semakin maju, dan kehidupan manusia boleh menjadi semakin modern.

Namun ada sesuatu yang perlu kita waspadai bahwa jangan sampai yang berubah bukan hanya cara kita hidup, tetapi juga ukuran kita tentang benar dan salah.

Sebab ketika sesuatu dilakukan oleh banyak orang, dipertontonkan berulang kali, lalu diterima sebagai hal yang biasa, manusia perlahan dapat kehilangan kepekaan terhadap nilai yang dahulu ia yakini.

Yang salah tidak selalu langsung terlihat sebagai kesalahan.

Kadang ia hanya perlu diulang berkali-kali sampai hati berhenti merasa terganggu.

Ketika yang Salah Terlalu Sering Dilihat

Kita mungkin pernah melihat sesuatu yang dahulu membuat kita merasa tidak nyaman, tetapi sekarang tidak lagi.

Perkataan yang kasar menjadi hiburan.

Membuka aib orang lain menjadi konten.

Pamer kehidupan menjadi ukuran keberhasilan.

Kecurangan dianggap sebagai kecerdikan.

Kebohongan kecil dianggap tidak masalah selama tidak ketahuan.

Menunda ibadah dianggap wajar karena kesibukan.

Mengabaikan orang tua dianggap konsekuensi dari kehidupan modern.

Berbuat baik tanpa keuntungan bahkan kadang dianggap sebagai sesuatu yang naif.

Pertanyaannya bukan sekadar, “Mengapa manusia melakukan semua itu?”

Yang lebih penting adalah “Apa yang terjadi pada diri kita ketika sesuatu yang salah terlalu sering kita lihat sampai akhirnya terasa normal?”

Di sinilah manusia perlu berhati-hati.

Sebab hati tidak selalu kehilangan arah dalam satu langkah besar. Terkadang ia bergeser sedikit demi sedikit.

Hari ini kita membiarkan.

Besok kita terbiasa.

Lusa kita membenarkan.

Dan suatu hari kita mungkin tidak lagi menyadari bahwa kita telah berjalan terlalu jauh dari nilai yang dahulu kita anggap penting.

Ketika yang Benar Mulai Terasa Asing
Baznas Kota Sukabumi

Popularitas Tidak Pernah Menjadi Ukuran Kebenaran

Salah satu jebakan terbesar zaman modern adalah mengira bahwa sesuatu yang populer berarti sesuatu itu benar.

Jika banyak orang melakukannya, kita merasa tidak perlu mempertanyakannya.

Jika banyak orang menyetujuinya, kita merasa pasti tidak ada yang salah.

Jika sesuatu terus muncul di media sosial, kita menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan.

Padahal jumlah orang yang melakukan sesuatu tidak pernah otomatis menjadikannya benar.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan manusia untuk tidak menjadikan banyaknya pengikut sebagai ukuran kebenaran. Dalam QS. Al-An’am: 116, Allah memperingatkan bahwa mengikuti kebanyakan manusia dapat membawa seseorang jauh dari jalan Allah apabila mereka hanya mengikuti dugaan.

Ini adalah pengingat yang sangat relevan di tengah dunia yang digerakkan oleh angka seperti jumlah pengikut, jumlah tayangan, jumlah suka, jumlah komentar, dan jumlah orang yang melakukan hal yang sama.

Kebenaran tidak ditentukan oleh algoritma.

Dan nilai sebuah perbuatan tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang menyukainya.

Islam Boleh Terasa Asing, tetapi Jangan Sampai Kita Membuatnya Asing dalam Diri Sendiri

Rasulullah SAW bersabda:

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana ia bermula.”
(HR. Muslim)

Hadis ini tidak seharusnya digunakan untuk membuat kita merasa lebih suci daripada orang lain.

Sebaliknya, ia dapat menjadi bahan introspeksi.

Sebab mungkin ada saat ketika nilai-nilai Islam terasa asing bukan karena Islam berubah, melainkan karena lingkungan kita sudah terlalu jauh dari nilai tersebut.

Menjaga lisan terasa sulit.

Jujur ketika berbohong lebih menguntungkan terasa berat.

Menolak sesuatu yang haram ketika semua orang melakukannya terasa sendirian.

Bersikap sederhana ketika dunia memamerkan kemewahan terasa seperti tertinggal.

Memberi ketika kita sendiri ingin terus memiliki terasa berat.

Tetapi menjadi seorang Muslim memang bukan tentang mengikuti apa yang paling mudah dilakukan oleh lingkungan.

Ia adalah tentang memiliki keberanian untuk tetap memegang kebenaran meskipun kebenaran itu tidak selalu populer.

Yang Perlu Dijaga Bukan Hanya Identitas, tetapi Kompas

Kita sering merasa sudah cukup menjadi Muslim karena identitas.

Kita memiliki nama Muslim.

Kita mengenal beberapa ayat.

Kita tahu mana yang halal dan haram.

Kita pernah belajar tentang akhlak.

Tetapi Islam tidak berhenti pada apa yang kita ketahui.

Pengetahuan seharusnya menjadi kompas bagi keputusan.

Ketika berhadapan dengan uang, ia mengajarkan kejujuran.

Ketika memiliki kekuasaan, ia mengajarkan keadilan.

Ketika memiliki kelebihan, ia mengajarkan berbagi.

Ketika melihat penderitaan, ia mengajarkan kepedulian.

Ketika marah, ia mengajarkan pengendalian diri.

Ketika mendapatkan kesuksesan, ia mengajarkan kerendahan hati.

Dengan kata lain, Islam seharusnya tidak hanya terlihat ketika kita sedang beribadah, tetapi juga ketika kita sedang memilih bagaimana memperlakukan kehidupan.

Karena ukuran keberagamaan tidak hanya berada di tempat ibadah.

Ia juga terlihat dalam cara kita menggunakan uang, berbicara kepada orang lain, memperlakukan keluarga, menjalankan pekerjaan, mengambil keputusan, dan merespons orang yang membutuhkan.

Jangan Sampai Kita Lebih Takut Berbeda dari Manusia daripada Salah di Hadapan Allah

Mungkin inilah salah satu tantangan terbesar seorang Muslim hari ini.

Kita takut dianggap aneh.

Takut dianggap terlalu idealis.

Takut dianggap tidak mengikuti zaman.

Takut kehilangan kesempatan.

Takut tidak diterima lingkungan.

Akhirnya, tanpa sadar kita mulai menyesuaikan prinsip agar sesuai dengan keadaan.

Padahal yang seharusnya terjadi adalah sebaliknya yaitu kita memahami zaman tanpa kehilangan prinsip.

Menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan adab.

Menjadi sukses tidak berarti harus menghalalkan segala cara.

Menjadi kaya tidak berarti harus hidup berlebihan.

Mengikuti perkembangan teknologi tidak berarti harus mengikuti semua perilaku yang muncul bersamanya.

Dan menjadi bagian dari masyarakat modern tidak berarti harus kehilangan kemampuan untuk mengatakan bahwa “Ini tidak benar, meskipun semua orang melakukannya.”

Dari Mengetahui Nilai Islam Menjadi Menghidupkannya

Di sinilah nilai Islam harus bergerak dari teori menjadi tindakan.

Zakat, infak, dan sedekah misalnya, bukan hanya persoalan memberikan sebagian harta. Di dalamnya terdapat latihan untuk mengingat bahwa kehidupan kita tidak berdiri sendiri.

Ada manusia lain yang hidupnya mungkin jauh lebih berat.

Ada anak yang membutuhkan pendidikan.

Ada keluarga yang menghadapi persoalan ekonomi.

Ada orang sakit yang membutuhkan pertolongan.

Ada masyarakat yang membutuhkan kesempatan untuk bangkit.

Melalui berbagai program pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, dan keagamaan, BAZNAS menjadi salah satu ruang bagi nilai kepedulian tersebut untuk diwujudkan secara nyata.

Dengan demikian, keberagamaan tidak berhenti pada “Saya tahu bahwa membantu sesama itu baik.”

Tetapi bergerak menjadi “Saya memilih untuk menjadi bagian dari kebaikan itu.”

Sebab nilai yang hanya kita ketahui belum tentu mengubah kehidupan. Nilai baru memiliki makna ketika ia memengaruhi cara kita bertindak.

Zaman Boleh Berubah, Kompas Jangan Hilang

Kita tidak bisa menghentikan zaman.

Teknologi akan terus berkembang. Budaya akan terus bergerak. Cara manusia berinteraksi akan terus berubah.

Dan kita tidak perlu memusuhi semua perubahan itu.

Namun di tengah dunia yang terus bergerak, seorang Muslim tetap membutuhkan sesuatu yang membuatnya mampu membedakan mana yang baru dan mana yang benar, mana yang populer dan mana yang baik, mana yang menguntungkan dan mana yang diridhai Allah.

Sebab mungkin tantangan terbesar kita bukan lagi tidak mengetahui ajaran Islam.

Kita hidup ketika informasi tentang agama begitu mudah ditemukan.

Tantangannya adalah tetap menjadikan nilai tersebut sebagai pedoman ketika dunia menawarkan pilihan yang berlawanan.

Jangan sampai kita begitu pandai mengikuti zaman, tetapi lupa ke mana seharusnya kita berjalan.

Jangan sampai kita begitu takut dianggap berbeda oleh manusia, tetapi tidak lagi takut ketika hati mulai terbiasa dengan sesuatu yang salah.

Dan jangan sampai sesuatu yang benar menjadi terasa asing hanya karena terlalu lama kita hidup di tengah sesuatu yang salah.

Zaman boleh berubah. Dunia boleh bergerak. Tetapi selama kita masih menjadikan Allah sebagai tujuan, kebenaran tidak perlu mengikuti apa yang sedang populer.

Karena pada akhirnya, menjadi Muslim bukan tentang menjadi manusia yang paling berbeda dari dunia.

Ia adalah tentang tetap memiliki kompas ketika dunia tidak lagi tahu ke mana harus berjalan.

Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:

https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat

Konfirmasi ZIS: 081111112807

Artikel Lainnya :

Artikel BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
Tidak Semua yang Membutuhkan Akan Meminta, dan Tidak Semua yang Diam Berarti Baik-Baik Saja
31 Aug 2026
Artikel
Zakat Meets AI: Ketika Kecerdasan Buatan Bertemu Kebaikan Manusia
31 Aug 2026
Artikel
Ada Perjuangan yang Tidak Bisa Dimenangkan Sendirian
31 Aug 2026
Artikel
Angka di Laporan, Wajah di Lapangan: Memahami Makna Sesungguhnya dari Penyaluran Zakat
31 Aug 2026
Artikel
Ketakutan Bisa Membuat Kita Bergerak, tetapi Harapan Menentukan ke Mana Kita Pergi
31 Aug 2026
Artikel
7 Pelajaran Sabar dari Sejarah Islam Saat Menghadapi Ketidakadilan
31 Aug 2026
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2026 - Baznas Kota Sukabumi