Ada Perjuangan yang Tidak Bisa Dimenangkan Sendirian
Kita hidup di zaman yang sangat mengagungkan kemandirian.
Sejak kecil, kita sering diajarkan untuk tidak bergantung kepada orang lain. Harus bisa berdiri sendiri. Harus bekerja keras. Harus mampu menyelesaikan masalah. Jangan menjadi beban.
Nasihat-nasihat itu tentu tidak salah.
Namun, tanpa sadar, kita bisa membawa gagasan tentang kemandirian terlalu jauh. Kita mulai percaya bahwa selama kita berusaha, semuanya pasti dapat kita kendalikan.
Sampai suatu hari, kehidupan memperlihatkan bahwa manusia memiliki batas.
Dalam sebuah penyaluran bantuan, kita dapat berhadapan dengan keadaan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata “kurang berusaha”. Ada seorang anak yang sedang menghadapi penyakit berat. Ada pula sepasang lansia yang menjalani kehidupan dengan kondisi kesehatan yang membuat aktivitas mereka tidak lagi semudah dahulu.
Di hadapan keadaan seperti itu, kita akhirnya menyadari sesuatu bahwa ada perjuangan yang tidak dapat dimenangkan sendirian.
Ketika sehat, kita jarang memikirkan betapa berharganya kemampuan untuk berjalan.
Ketika memiliki pekerjaan, kita mungkin lupa bahwa kesempatan mencari penghasilan adalah nikmat.
Ketika dapat memenuhi kebutuhan keluarga, kita mungkin menganggapnya sebagai hasil kerja keras semata.
Kita bekerja, mendapatkan penghasilan, membeli kebutuhan, merencanakan masa depan, lalu merasa bahwa kehidupan berada di tangan kita.
Padahal tidak semuanya demikian.
Kita dapat merencanakan, tetapi tidak dapat memastikan.
Kita dapat berusaha menjaga kesehatan, tetapi tidak dapat menjamin tubuh akan selalu sehat.
Kita dapat bekerja keras, tetapi tidak dapat memastikan bahwa kehidupan akan selalu berjalan sesuai rencana.
Di sinilah kerendahan hati seharusnya tumbuh.
Bukan untuk membuat manusia pasrah, melainkan untuk menyadarkan bahwa kemampuan yang kita miliki bukan alasan untuk merasa sepenuhnya berkuasa atas kehidupan.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-Qashash ayat 68 bahwa Allah menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki.
Ada bagian kehidupan yang dapat kita ikhtiarkan.
Ada pula bagian yang berada di luar kendali kita.
Memahami perbedaan keduanya adalah bentuk kedewasaan.
Ada kalimat yang terdengar sederhana yakni “Kalau mau berusaha, pasti bisa.”
Kalimat tersebut mungkin benar dalam beberapa keadaan.
Tetapi menjadi berbahaya ketika digunakan untuk menjelaskan seluruh kehidupan manusia.
Sebab kita tidak pernah benar-benar mengetahui titik awal perjuangan seseorang.
Kita tidak tahu berapa lama seseorang telah berusaha.
Kita tidak tahu berapa banyak kesempatan yang sudah hilang.
Kita tidak tahu keadaan tubuhnya.
Kita tidak tahu beban keluarganya.
Kita tidak tahu berapa banyak hal yang harus ia korbankan hanya untuk mempertahankan kehidupan yang bagi kita terlihat biasa.
Karena itu, Islam mengajarkan manusia untuk berhati-hati dalam menilai orang lain.
Kesulitan seseorang tidak selalu merupakan bukti bahwa ia malas.
Ketidakmampuan seseorang tidak selalu berarti ia tidak mau berusaha.
Dan kebutuhan seseorang terhadap bantuan tidak otomatis menjadikannya lebih rendah daripada orang yang membantu.
Kadang-kadang, seseorang hanya sedang menghadapi keadaan yang memang terlalu berat untuk dipikul seorang diri.

Ada kecenderungan dalam kehidupan modern untuk menganggap ketergantungan sebagai sesuatu yang memalukan.
Padahal manusia sejak awal memang hidup dalam hubungan dengan manusia lain.
Kita lahir karena orang lain merawat kita.
Kita belajar karena orang lain mengajarkan kita.
Kita mendapatkan makanan karena ada orang lain yang bekerja di dalam rantai kehidupan yang panjang.
Kita mendapatkan ilmu dari orang-orang yang bahkan tidak pernah kita temui.
Bahkan keberhasilan yang kita sebut sebagai “hasil usaha sendiri” hampir selalu memiliki kontribusi dari banyak tangan yang tidak terlihat.
Maka ketika seseorang membutuhkan pertolongan, sebenarnya ia sedang mengalami sesuatu yang sangat manusiawi.
Kita semua saling membutuhkan. Hanya bentuk dan waktunya yang berbeda.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang memberi.
Ia menunjukkan bahwa kehidupan seorang muslim seharusnya dibangun dengan semangat ta’awun—saling membantu dalam kebaikan.
Karena Islam tidak membentuk manusia yang hanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Ada sesuatu yang perlu kita ubah dari cara memandang bantuan.
Ketika seseorang memberikan bantuan, mudah bagi hati untuk merasa “Saya yang menolong.”
Kemudian tanpa sadar muncul jarak berupa “Saya mampu, dia membutuhkan.”
Padahal posisi tersebut tidak pernah bersifat permanen.
Hari ini seseorang berada dalam keadaan mampu.
Besok mungkin ia berada dalam keadaan membutuhkan.
Hari ini seseorang memberikan bantuan kesehatan.
Suatu hari mungkin keluarganya sendiri membutuhkan pertolongan.
Hari ini seseorang memiliki penghasilan yang cukup.
Besok mungkin keadaan ekonomi berubah.
Karena itu, memberi seharusnya tidak melahirkan kesombongan.
Ia justru seharusnya melahirkan syukur.
Kita bersyukur karena Allah memberikan kemampuan untuk menjadi perantara kebaikan.
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memberikan sejumlah uang.
ZIS merupakan salah satu bentuk bagaimana masyarakat dapat membangun kepedulian secara nyata.
Ada orang yang Allah berikan kelebihan harta.
Ada orang lain yang sedang menghadapi keterbatasan.
Kemudian sebagian harta tersebut menjadi jalan untuk membantu meringankan kesulitan.
Ini bukan sekadar perpindahan uang dari satu tangan ke tangan lain.
Ada nilai solidaritas di dalamnya.
Ada kesadaran bahwa kehidupan tidak seharusnya hanya berbicara tentang “Apa yang bisa saya dapatkan?”
Tetapi juga, “Apa yang bisa saya lakukan dengan apa yang Allah titipkan kepada saya?”
Dan pertanyaan kedua inilah yang mengubah harta menjadi sesuatu yang memiliki makna sosial.
Rasa iba dapat muncul hanya dalam beberapa detik.
Kita melihat seseorang kesulitan, merasa kasihan, kemudian melanjutkan kehidupan.
Tetapi kepedulian membutuhkan sesuatu yang lebih.
Ia membutuhkan tindakan.
Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kepedulian para muzaki dan donatur dengan masyarakat yang membutuhkan.
Dalam konteks kesehatan dan kemanusiaan, bantuan dapat diberikan kepada mereka yang sedang menghadapi kondisi sulit.
Namun yang lebih penting dari sekadar nominal bantuan adalah pesan yang dibawanya yakni “Kesulitanmu tidak harus kamu hadapi sendirian.”
Pesan itu mungkin tidak menghilangkan penyakit.
Tidak mengubah seluruh keadaan.
Tidak membuat semua persoalan selesai dalam satu hari.
Tetapi ia dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk meringankan beban seseorang.
Dan terkadang, itulah yang mampu kita lakukan.
Tidak semua masalah dapat kita selesaikan.
Tetapi kita selalu dapat memilih untuk tidak membiarkan seseorang menghadapinya seorang diri.
Ada pelajaran yang seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Jangan terlalu bangga karena hari ini kita mampu.
Jangan terlalu cepat menghakimi mereka yang membutuhkan.
Jangan menganggap kemampuan kita sebagai bukti bahwa kita lebih baik.
Sebab manusia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cerita hidupnya akan berubah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 286:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ayat ini mengajarkan tentang batas kemampuan manusia sekaligus keluasan rahmat Allah.
Kita mungkin tidak dapat memahami seluruh ujian yang dialami seseorang.
Tetapi kita dapat memilih untuk tidak menambah bebannya dengan penilaian yang tidak kita ketahui kebenarannya.
Dan ketika Allah memberikan kita kemampuan untuk membantu, jangan sia-siakan kemampuan tersebut.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu mendefinisikan kembali apa arti menjadi kuat.
Kuat bukan berarti tidak pernah membutuhkan bantuan.
Kuat bukan berarti mampu menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri.
Dan menjadi mandiri bukan berarti menutup pintu bagi pertolongan orang lain.
Terkadang, kekuatan justru terlihat ketika seseorang mampu mengatakan “Aku membutuhkan bantuan.”
Dan terkadang, keberkahan hidup terlihat ketika kita dapat menjawab “Aku akan membantumu.”
Hari ini mungkin kita berada di sisi yang memberi.
Maka bersyukurlah.
Bukan karena kita lebih tinggi daripada mereka yang menerima, tetapi karena Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi jalan kebaikan.
Sebab kehidupan manusia tidak pernah hanya tentang siapa yang mampu berdiri paling lama.
Ada masa ketika seseorang harus ditopang.
Ada masa ketika seseorang menjadi penopang.
Dan mungkin, di antara kedua keadaan itulah kita belajar menjadi manusia yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, tidak semua perjuangan harus kita menangkan sendirian. Ada perjuangan yang memang Allah izinkan untuk menjadi lebih ringan karena tangan manusia lain ikut hadir di dalamnya.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :