Kita Sedang Hidup, atau Sedang Mengejar Sensasi agar Merasa Hidup?
Ada masa ketika kebahagiaan terasa sederhana.
Mendapat makanan yang kita sukai sudah cukup menyenangkan. Berkumpul bersama keluarga menjadi sesuatu yang dinantikan. Memiliki waktu untuk beristirahat terasa sebagai kemewahan. Tidak ada yang perlu dibuktikan, tidak ada yang harus dibeli, dan tidak ada kehidupan orang lain yang harus dikejar.
Namun, perlahan cara kita menikmati hidup berubah.
Hari ini, hampir setiap waktu tersedia sesuatu yang bisa membuat kita merasa senang. Dalam hitungan detik, kita bisa memilih hiburan. Dalam beberapa sentuhan, barang yang diinginkan dapat masuk ke keranjang belanja. Kita bisa mencari makanan baru, tempat baru, pengalaman baru, bahkan identitas baru melalui apa yang kita konsumsi dan tampilkan.
Masalahnya bukan karena manusia menikmati hidup.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci kenikmatan. Makanan yang baik, rumah yang nyaman, pakaian yang layak, perjalanan, dan berbagai bentuk kesenangan dunia bukanlah sesuatu yang otomatis salah.
Yang perlu direnungkan adalah hal lain tentang bagaimana jika kita mulai merasa hidup hanya ketika ada sesuatu yang baru untuk dikejar?
Ketika hari yang tenang terasa membosankan.
Ketika tidak membeli apa pun terasa seperti kehilangan.
Ketika tidak ada hiburan membuat kita gelisah.
Ketika kehidupan yang biasa-biasa saja terasa kurang berharga dibandingkan kehidupan yang tampak menarik.
Mungkin masalahnya bukan lagi bahwa kita menikmati kenikmatan.
Mungkin kita mulai bergantung padanya untuk merasa bahwa hidup kita berarti.
Kita hidup dalam dunia yang jarang mengatakan, “Itu sudah cukup.”
Sebaliknya, hampir semuanya mendorong kita untuk menambah.
Sudah memiliki sesuatu? Ada versi yang lebih baru.
Sudah mencoba satu pengalaman? Ada pengalaman lain yang sedang populer.
Sudah mencapai satu tujuan? Segera muncul tujuan berikutnya.
Sudah merasa bahagia? Jangan berhenti di sana, karena ada sesuatu yang katanya bisa membuat kita lebih bahagia lagi.
Tanpa sadar, kehidupan berubah menjadi daftar yang tidak pernah selesai.
Satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya.
Satu kenikmatan didapatkan, lama-kelamaan terasa biasa.
Apa yang dulu dianggap istimewa, perlahan menjadi standar.
Di sinilah manusia dapat terjebak dalam sebuah siklus yaitu mencari, mendapatkan, terbiasa, lalu mencari lagi.
Dalam psikologi, fenomena ini sering dijelaskan melalui konsep hedonic adaptation atau adaptasi hedonis. Manusia memiliki kemampuan untuk terbiasa dengan kondisi baru, termasuk kenikmatan yang sebelumnya terasa luar biasa.
Mobil baru akhirnya menjadi kendaraan biasa.
Pekerjaan impian berubah menjadi rutinitas.
Barang yang dulu sangat diinginkan akhirnya hanya menjadi salah satu benda di rumah.
Liburan yang dinanti berbulan-bulan selesai dalam beberapa hari, lalu kehidupan kembali seperti semula.
Masalahnya bukan karena kenikmatan itu tidak nyata.
Kenikmatan itu nyata. Tetapi kenikmatan tidak selalu bertahan selama yang kita bayangkan.

Ada perbedaan antara menikmati sesuatu dan terus membutuhkan sesuatu agar bisa merasa baik-baik saja.
Seseorang menikmati makanan karena ia bersyukur bisa merasakannya. Tetapi seseorang yang selalu membutuhkan pengalaman baru untuk menghilangkan rasa kosong mungkin sedang menghadapi persoalan yang berbeda.
Seseorang membeli sesuatu karena memang membutuhkannya. Tetapi ada juga pembelian yang dilakukan hanya untuk mendapatkan sensasi singkat: rasa senang ketika memilih, menunggu, menerima, dan membuka sesuatu yang baru.
Setelah itu?
Perasaan tersebut perlahan hilang.
Kemudian kita kembali mencari sesuatu yang lain.
Bukan karena kita selalu kekurangan sesuatu.
Tetapi karena kita mulai terbiasa menggunakan kenikmatan sebagai cara untuk mengusir rasa tidak nyaman.
Merasa lelah, cari hiburan.
Merasa bosan, cari sesuatu yang baru.
Merasa sedih, beli sesuatu.
Merasa tertinggal, ikuti tren.
Merasa kosong, cari pengalaman.
Tidak ada yang salah dengan beristirahat, membeli sesuatu, atau mencari hiburan. Namun kita perlu berhati-hati ketika semua itu menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi kehidupan.
Sebab tidak semua rasa kosong dapat diisi dengan sesuatu yang bisa dibeli.
Tidak semua kesedihan hilang dengan hiburan.
Dan tidak semua kebosanan harus segera dihilangkan.
Terkadang, manusia justru perlu berhenti agar bisa mendengar dirinya sendiri.
Mungkin persoalannya bukan karena hidup kita selalu kurang.
Bisa jadi karena kita terlalu sering melihat kehidupan yang membuat apa yang kita miliki terasa kurang.
Setiap hari kita dapat melihat orang lain berada di tempat yang menarik, membeli sesuatu yang baru, mencapai sesuatu, mencoba pengalaman yang tampak menyenangkan, atau menjalani kehidupan yang terlihat lebih baik.
Kita hanya melihat beberapa detik dari kehidupan mereka.
Tetapi tanpa sadar, beberapa detik itu digunakan untuk mengukur seluruh kehidupan kita.
Di sinilah standar kebahagiaan dapat bergeser.
Kita tidak lagi bertanya “Apakah saya bersyukur dengan apa yang saya miliki?”. Melainkan “Apakah hidup saya cukup menarik dibandingkan hidup orang lain?”
Padahal kehidupan tidak diciptakan untuk terus-menerus dipertandingkan.
Tidak semua orang harus memiliki perjalanan yang sama untuk memiliki kehidupan yang bermakna.
Tidak semua kebahagiaan harus terlihat.
Dan tidak semua hal yang sederhana berarti kehidupan seseorang kurang bernilai.
Allah SWT mengingatkan:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang banyaknya harta. Ia juga dapat menjadi pengingat tentang kecenderungan manusia untuk terus mengejar lebih banyak, sampai lupa bertanya apakah semua yang dikejar benar-benar diperlukan.
Ada perbedaan antara memiliki lebih banyak dan menjadi lebih baik.
Keduanya tidak selalu berjalan bersama.
Sering kali, pembicaraan tentang hedonisme membuat seolah-olah seseorang harus memilih antara menikmati dunia atau menjadi pribadi yang baik.
Padahal Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci dunia.
Allah SWT berfirman:
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qasas: 77)
Ayat ini memberikan keseimbangan.
Ada bagian dunia yang boleh dan perlu kita nikmati.
Kita boleh bekerja untuk kehidupan yang lebih baik. Kita boleh memiliki cita-cita. Kita boleh menikmati rezeki yang halal. Kita boleh merasa bahagia atas pencapaian.
Namun, ayat tersebut juga mengingatkan bahwa dunia bukan satu-satunya tujuan.
Masalah muncul ketika seluruh hidup hanya diarahkan untuk mendapatkan perasaan senang.
Ketika setiap keputusan selalu ditentukan oleh pertanyaan “Apa yang paling menyenangkan bagi saya?”
Pada titik itu, kesenangan dapat berubah dari sesuatu yang kita nikmati menjadi sesuatu yang mengendalikan kita.
Kita menjadi sulit menolak keinginan.
Sulit menunda kepuasan.
Sulit hidup tanpa sesuatu yang baru.
Dan perlahan, keinginan mulai menentukan arah kehidupan kita.
Ada ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh sensasi.
Ketenangan ketika tidak harus membuktikan apa pun.
Ketenangan ketika tidak selalu merasa tertinggal.
Ketenangan ketika mampu melihat sesuatu yang dimiliki tanpa segera membandingkannya dengan milik orang lain.
Ketenangan ketika sebuah hari yang sederhana tetap terasa layak dijalani.
Barangkali salah satu masalah manusia modern adalah kita terlalu takut menjalani hidup yang biasa.
Kita ingin setiap momen menjadi sesuatu yang istimewa.
Setiap perjalanan harus menghasilkan cerita.
Setiap pencapaian harus terlihat.
Setiap pengalaman harus memiliki nilai untuk dibagikan.
Padahal hidup tidak selalu bekerja seperti itu.
Ada hari-hari yang tidak luar biasa.
Ada proses yang membosankan.
Ada pekerjaan yang berulang.
Ada masa ketika kita hanya perlu menjalani hidup dengan tenang.
Dan mungkin justru di situlah kita belajar sesuatu yang semakin sulit dilakukan yaitu merasa cukup tanpa harus terus mendapatkan sesuatu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”
(HR. Muslim)
Rasa cukup bukan berarti berhenti memiliki cita-cita.
Qana’ah bukan berarti menolak perkembangan.
Ia adalah kemampuan untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk terus-menerus merasa miskin, meskipun sebenarnya kita telah memiliki banyak hal.
Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah “Apa lagi yang bisa saya nikmati?”. Tetapi, “Apa yang membuat hidup saya berarti?”
Kenikmatan memberikan perasaan.
Tetapi makna memberikan arah.
Kita mungkin merasa bahagia setelah mendapatkan sesuatu, tetapi kebahagiaan itu dapat cepat berlalu.
Sementara itu, ada kepuasan yang lebih dalam ketika seseorang merasa kehadirannya membawa manfaat.
Ketika ilmunya membantu orang lain.
Ketika waktunya digunakan untuk sesuatu yang baik.
Ketika rezekinya tidak hanya berhenti untuk memenuhi keinginannya sendiri.
Di sinilah seseorang dapat mulai melihat bahwa harta tidak selalu harus berakhir menjadi konsumsi.
Sebagian dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat.
Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya berbicara tentang perpindahan harta dari seseorang kepada orang lain.
Ia juga dapat menjadi latihan batin.
Latihan untuk mengatakan “Tidak semua yang saya miliki harus kembali kepada saya.”
Dalam dunia yang terus berkata “tambahkan untuk dirimu,” memberi mengajarkan sesuatu yang berbeda yaitu “Ada kebahagiaan yang tidak berkurang ketika dibagikan.”
Melalui BAZNAS, zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi salah satu jalan untuk mengubah sebagian rezeki menjadi manfaat bagi masyarakat melalui berbagai program sosial, seperti pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, dan keagamaan.
Dengan demikian, kita tidak hanya bertanya “Apa lagi yang bisa saya dapatkan dari hidup?”
Tetapi juga, “Apa yang bisa hidup dapatkan dari keberadaan saya?”
Hedonisme tidak selalu datang dalam bentuk kehidupan mewah.
Kadang ia hadir lebih halus.
Dalam ketidakmampuan menikmati kesederhanaan.
Dalam kebutuhan untuk terus membeli sesuatu agar merasa senang.
Dalam keinginan untuk selalu mengalami hal baru.
Dalam rasa gelisah ketika kehidupan sedang berjalan biasa-biasa saja.
Dalam ketakutan bahwa kita sedang tertinggal hanya karena hidup orang lain terlihat lebih menarik.
Mungkin kita tidak sedang kekurangan kehidupan.
Mungkin kita hanya terlalu sibuk mencari sesuatu yang membuat kita merasa hidup.
Padahal hidup tidak selalu membutuhkan sensasi.
Kadang ia hadir dalam keluarga yang masih bisa kita temui.
Dalam tubuh yang masih mampu bergerak.
Dalam pekerjaan yang mungkin melelahkan, tetapi memberi kita kesempatan.
Dalam makanan sederhana yang masih bisa dinikmati.
Dalam kesempatan untuk belajar.
Dalam kemampuan untuk membantu.
Maka sesekali, berhentilah.
Tidak untuk menyerah pada kehidupan.
Tetapi untuk bertanya, Apakah saya benar-benar sedang menikmati hidup, atau saya hanya terus mengejar sesuatu agar tidak sempat merasa kosong?
Sebab mungkin, kebahagiaan tidak selalu berada di pengalaman berikutnya, barang berikutnya, atau pencapaian berikutnya.
Kadang, ia dimulai ketika kita berhenti mengejar terlalu banyak hal dan akhirnya menyadari bahwa hidup yang kita miliki hari ini sebenarnya sudah cukup untuk disyukuri, dijalani, dan yang tidak kalah penting, dibagikan manfaatnya kepada sesama.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :