BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Kemanusiaan
    • Kesehatan
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Dakwah
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Mengapa Hati Semakin Kosong Saat Dunia Semakin Digenggam?

22 Jun 2026
Artikel
Mengapa Hati Semakin Kosong Saat Dunia Semakin Digenggam?

Mengapa Hati Semakin Kosong Saat Dunia Semakin Digenggam?

Pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang aneh dalam hidupmu?

Target demi target berhasil dicapai. Penghasilan meningkat. Barang yang dulu hanya bisa dilihat di etalase kini bisa dibeli dengan mudah. Kehidupan terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Namun, entah mengapa, hati justru terasa semakin kosong.

Mengapa Hati Semakin Kosong Saat Dunia Semakin Digenggam
BAZNAS Kota Sukabumi

Jika kamu pernah merasakan hal itu, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian.

Banyak orang menghabiskan hidupnya untuk mengejar dunia dengan harapan akan menemukan kebahagiaan. Mereka berpikir bahwa ketika memiliki lebih banyak uang, jabatan, atau popularitas, maka hati akan merasa puas. Namun kenyataannya, semakin banyak yang digenggam, semakin besar pula rasa hampa yang dirasakan.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Karena Hati Diciptakan untuk Mengenal Allah

Ada satu hal yang sering dilupakan manusia. Hati bukan hanya membutuhkan kesenangan dunia, tetapi juga membutuhkan kedekatan dengan Allah.

Dunia memang bisa membuat kita nyaman, tetapi tidak bisa memberikan ketenangan yang sejati. Sebab ketenangan hati memiliki sumber yang berbeda.

Allah SWT berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menjelaskan sebuah fakta yang sering tidak disadari. Hati manusia tidak akan benar-benar tenang hanya dengan harta, kesuksesan, atau pujian manusia. Semua itu mungkin menyenangkan sesaat, tetapi tidak mampu mengisi ruang kosong yang ada di dalam jiwa.

Karena ruang itu memang diciptakan untuk diisi dengan iman dan kedekatan kepada Allah.

Dunia Tidak Pernah Membuat Manusia Merasa Cukup

Pernah merasa setelah mencapai satu keinginan, muncul keinginan yang lain?

Setelah memiliki motor ingin mobil. Setelah memiliki rumah ingin rumah yang lebih besar. Setelah mencapai satu target ingin target berikutnya.

Begitulah sifat dunia. Ia selalu menawarkan sesuatu yang baru untuk dikejar.

Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ

Artinya:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah emas.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan bahwa jika hati hanya bergantung pada dunia, maka ia tidak akan pernah merasa puas. Selalu ada sesuatu yang kurang. Selalu ada sesuatu yang ingin dimiliki.

Akibatnya, hidup menjadi lelah karena terus mengejar tanpa pernah benar-benar merasa cukup.

Kesibukan Dunia Kadang Menjauhkan Kita dari Allah

Salah satu penyebab hati terasa kosong adalah karena terlalu sibuk mengurus dunia hingga lupa merawat hubungan dengan Allah.

Jadwal penuh. Pikiran sibuk. Target terus bertambah.

Tanpa disadari, waktu untuk berdoa berkurang. Al-Qur’an mulai jarang dibaca. Shalat dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Padahal hati juga membutuhkan “makanan”. Jika tubuh membutuhkan makan dan minum, maka hati membutuhkan dzikir, doa, dan ibadah.

Ketika hati terlalu lama jauh dari sumber ketenangannya, maka yang muncul adalah rasa hampa meskipun kehidupan terlihat sempurna dari luar.

Kebahagiaan Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Kepemilikan

Menariknya, banyak orang sederhana yang hidupnya biasa-biasa saja justru terlihat lebih bahagia daripada mereka yang memiliki segalanya.

Mengapa?

Karena kebahagiaan bukan soal berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dekat hati kita kepada Allah dan seberapa besar rasa syukur yang kita miliki.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya:

“Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika hati kaya, seseorang tetap bisa tersenyum meski hidup sederhana. Sebaliknya, ketika hati miskin, seseorang bisa merasa kurang meski memiliki banyak hal.

Saatnya Kembali Mengisi Hati

Tidak salah bekerja keras. Tidak salah memiliki cita-cita besar. Islam bahkan mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat.

Namun jangan sampai perjalanan mengejar dunia membuat kita lupa tujuan utama kehidupan.

Jika akhir-akhir ini hati terasa kosong, mungkin bukan karena kurangnya harta atau pencapaian. Bisa jadi hati sedang merindukan sesuatu yang lebih penting: kedekatan dengan Allah.

Mulailah dengan memperbaiki shalat. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Perbanyak dzikir dan doa. Sisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah. Dekatkan diri kepada Allah sedikit demi sedikit.

Karena pada akhirnya, dunia hanya mampu membuat kita senang sementara. Tetapi Allah-lah yang mampu memberikan ketenangan yang sesungguhnya.

Jadi, jika hari ini dunia terasa semakin dalam genggamanmu tetapi hati justru semakin kosong, mungkin itu bukan pertanda bahwa kamu membutuhkan lebih banyak dunia. Mungkin itu adalah panggilan agar kamu lebih dekat kepada Allah, Sang Pemilik seluruh dunia dan isi langit.

Semakin banyak yang dimiliki, belum tentu semakin tenang yang dirasakan. Kadang kita berhasil mengejar berbagai target dunia, tetapi hati tetap terasa hampa. Salah satu sebabnya adalah karena hati diciptakan bukan hanya untuk menerima, tetapi juga untuk memberi.

Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar mengurangi harta. Justru di sanalah Allah membersihkan hati dari rasa sempit, menumbuhkan syukur, dan menghadirkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan materi. Ketika sebagian rezeki yang Allah titipkan kita salurkan kepada mereka yang membutuhkan, kita sedang membuka pintu keberkahan untuk diri sendiri.

Mari isi kekosongan hati dengan berbagi. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, lembaga resmi yang menghimpun dan menyalurkan ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah) kepada masyarakat yang membutuhkan secara amanah dan sesuai syariat.

Salurkan kebaikan Anda sekarang melalui:

BAZNAS Kota Sukabumi – Bayar Zakat Online

Konfirmasi ZIS: 081111112807

Artikel Lainnya :

Artikel BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
Sehat Itu Nikmat, Berbagi Itu Rahmat
17 Jul 2026
Artikel
Setiap Rupiah yang Dititipkan, Setiap Senyum yang Dihadirkan
17 Jul 2026
Artikel
Program BAZNAS yang Mengubah Bantuan Menjadi Kemandirian Masyarakat
17 Jul 2026
Artikel
Satu Donasi, Banyak Perubahan: Begini Cara BAZNAS Memberdayakan Masyarakat
16 Jul 2026
Artikel
Ke Mana Uang Zakat Disalurkan? Ini Kisah Nyata yang Jarang Diketahui
15 Jul 2026
Artikel
Mengapa Banyak Orang Memilih Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS?
15 Jul 2026
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2026 - Baznas Kota Sukabumi