Pernahkah kamu merasa baru benar-benar menghargai sesuatu setelah kehilangannya? Misalnya, saat masih sehat kita sering menunda ibadah atau mengeluh karena pekerjaan. Namun ketika sakit datang, kita baru menyadari betapa berharganya tubuh yang sehat.
Begitu juga dengan keluarga, sahabat, waktu luang, rezeki, bahkan kesempatan untuk berbuat baik. Selama semuanya masih ada, kita sering menganggapnya biasa. Tetapi ketika Allah mengambil sebagian nikmat itu, hati kita mulai berkata, “Seandainya dulu aku lebih bersyukur.”
Inilah sifat manusia yang sering kali lupa menghargai nikmat yang ada di depan mata. Padahal Islam mengajarkan kita untuk selalu menyadari bahwa setiap nikmat berasal dari Allah SWT dan layak disyukuri setiap hari.
Setiap pagi kita bisa bangun, bernapas, berjalan, melihat matahari, berkumpul dengan keluarga, makan dengan tenang, dan beribadah. Semua itu adalah nikmat yang luar biasa.
Sayangnya, karena kita menikmatinya setiap hari, kita mulai menganggap semuanya sebagai sesuatu yang “wajar”. Akibatnya, rasa syukur perlahan memudar.
Padahal, di luar sana ada orang yang sedang berjuang di rumah sakit agar bisa bernapas dengan lega. Ada yang rindu bisa berkumpul bersama keluarganya. Ada pula yang bekerja keras hanya untuk mendapatkan makanan yang cukup.
Allah SWT berfirman:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini mengingatkan bahwa nikmat Allah tidak hanya berupa harta yang melimpah. Bahkan hal-hal sederhana yang kita rasakan setiap hari adalah karunia yang tak ternilai.

Otak manusia memang mudah beradaptasi dengan keadaan yang nyaman. Ketika sesuatu terus-menerus kita miliki, kita cenderung berhenti menyadari nilainya.
Contohnya, kita jarang bersyukur karena masih bisa melihat. Padahal bagi seseorang yang kehilangan penglihatannya, melihat wajah orang tua atau anak adalah kebahagiaan yang sangat besar.
Karena itulah, Islam mengajarkan kita untuk selalu mengingat nikmat Allah setiap hari agar hati tidak menjadi lalai.
Di era media sosial, kita sangat mudah membandingkan hidup dengan orang lain. Melihat pencapaian mereka sering membuat kita lupa pada nikmat yang telah Allah berikan kepada diri kita sendiri.
Padahal kebahagiaan tidak selalu datang karena memiliki lebih banyak, tetapi karena mampu mensyukuri apa yang sudah dimiliki.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (tidak memanfaatkannya dengan baik), yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Betapa sering kita menunda kebaikan dengan alasan masih muda, masih sehat, atau masih ada waktu. Padahal tidak ada yang tahu kapan kesempatan itu akan berakhir.
Tidak sedikit orang yang baru rajin menjaga kesehatan setelah sakit.
Ada yang baru menyadari berharganya orang tua setelah mereka tiada.
Ada pula yang baru menghargai waktu setelah kesempatan berlalu.
Kehilangan memang menyakitkan, tetapi sering kali menjadi pelajaran yang mengubah cara pandang kita terhadap hidup.
Allah tidak selalu mengambil nikmat untuk menghukum hamba-Nya. Terkadang Allah ingin membangunkan hati yang mulai lalai agar kembali mengingat-Nya.
Akan jauh lebih indah jika kita belajar bersyukur sebelum kehilangan.
Bersyukur saat tubuh masih sehat.
Bersyukur saat orang tua masih bisa dipeluk.
Bersyukur saat masih memiliki pekerjaan.
Bersyukur saat masih diberi kesempatan salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berbuat baik.
Karena semua itu bisa berubah kapan saja atas kehendak Allah.
Setiap malam, cobalah mengingat tiga nikmat yang kamu rasakan hari itu. Kebiasaan sederhana ini akan membuat hati lebih tenang dan tidak mudah mengeluh.
Fokuslah pada perjalanan hidupmu sendiri. Allah memberikan nikmat kepada setiap hamba dengan cara dan waktu yang berbeda.
Kesehatan, ilmu, harta, dan waktu adalah amanah. Gunakan semuanya untuk mendekat kepada Allah dan membantu sesama agar nikmat tersebut menjadi keberkahan.
Ucapan Alhamdulillah bukan hanya diucapkan ketika mendapatkan rezeki besar, tetapi juga ketika masih diberi kesempatan hidup, bernapas, dan beribadah.
Sering kali kita baru menyadari betapa berharganya sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang. Padahal Allah telah menitipkan begitu banyak karunia dalam kehidupan kita setiap hari.
Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk mencintai keluarga. Jangan menunggu tua untuk memperbanyak ibadah. Dan jangan menunggu kesempatan berlalu untuk mulai berbuat baik.
Mari mulai hari ini dengan lebih banyak bersyukur atas setiap nikmat, sekecil apa pun itu. Karena hati yang pandai bersyukur akan lebih mudah merasakan ketenangan, sementara nikmat yang disyukuri akan menjadi jalan datangnya keberkahan dari Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu bersyukur, mampu menjaga setiap nikmat yang diberikan, dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang diridhai-Nya. Aamiin.
Sering kali kita baru menyadari betapa berharganya sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang. Padahal, salah satu cara terbaik untuk mensyukuri setiap rezeki yang Allah SWT titipkan adalah dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Jangan menunggu kehilangan untuk mulai bersyukur. Jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud rasa syukur atas kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan rezeki yang masih Allah karuniakan hingga hari ini. InsyaAllah, setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi kekayaan, justru menjadi sebab datangnya keberkahan dan pertolongan-Nya.
Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi, lembaga resmi yang mengelola dana umat secara amanah, profesional, dan tepat sasaran. Setiap titipan kebaikan Anda akan membantu mereka yang membutuhkan melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan dakwah.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Anda sekarang melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :