Hidup terasa berat? Islam mengajarkan makna ujian, kekuatan jiwa, sabar, tawakal, serta solusi nyata menghadapi masalah menurut Al-Qur’an dan hadits.
Setiap manusia pasti pernah berada pada titik terendah dalam hidupnya. Ada masa ketika hati terasa sesak tanpa sebab yang jelas, langkah terasa berat meski tubuh masih mampu berjalan, dan doa seolah keluar dengan suara paling pelan. Masalah datang bertubi-tubi—urusan ekonomi yang tak kunjung selesai, konflik keluarga, kegagalan rencana hidup, kehilangan orang tercinta, hingga luka batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dalam kondisi seperti ini, manusia sering bertanya: “Mengapa hidup terasa begitu berat?”
Islam, sebagai agama yang sempurna, tidak pernah menutup mata terhadap realitas penderitaan manusia. Justru Islam hadir dengan pemahaman yang sangat manusiawi: hidup memang berat, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya tanpa kekuatan jiwa. Islam mengajarkan keseimbangan antara menerima ujian dan membangun ketangguhan batin agar manusia tidak runtuh oleh beban hidup.
Dalam Islam, ujian bukanlah sesuatu yang bersifat insidental, melainkan bagian dari ketetapan Allah yang melekat pada kehidupan manusia. Allah ﷻ berfirman:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa ujian hidup memiliki banyak bentuk—fisik, emosional, sosial, maupun spiritual. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ujian-ujian tersebut adalah alat pendidikan ruhani, agar manusia tidak bergantung sepenuhnya pada dunia dan kembali menyadari keterbatasannya sebagai hamba.
Dengan ujian, manusia belajar rendah hati, mengenali dirinya, dan memahami bahwa hanya Allah tempat bergantung yang sejati.
Allah ﷻ menegaskan bahwa ujian adalah bukti keimanan:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan berkata, ‘Kami beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)
Menurut Imam Al-Ghazali, iman yang tidak pernah diuji ibarat pedang yang tidak pernah diasah—tampak kuat, tetapi rapuh ketika digunakan. Ujian membuat iman menjadi hidup, bernapas, dan berakar kuat dalam jiwa.
Orang beriman bukanlah mereka yang bebas dari masalah, melainkan mereka yang tetap memegang nilai kebenaran saat hidup mengguncang.
Salah satu ketakutan terbesar manusia saat diuji adalah merasa tidak mampu. Namun Islam menenangkan kegelisahan ini dengan prinsip yang sangat fundamental:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini adalah puncak kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Setiap ujian sudah diukur dengan sangat presisi—sesuai kapasitas akal, kekuatan jiwa, dan potensi spiritual seseorang.
Artinya, ketika hidup terasa berat, sejatinya Allah sedang mempercayakan kepada kita kekuatan yang mungkin belum kita sadari sepenuhnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosanya karenanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa penderitaan seorang mukmin tidak pernah sia-sia. Setiap rasa sakit memiliki nilai di sisi Allah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan bahwa ujian adalah obat bagi jiwa, meski rasanya pahit. Jika jiwa tidak diuji, ia mudah terjerumus pada kesombongan, kelalaian, dan ketergantungan pada dunia.
Islam tidak mengajarkan ekstremitas. Ketika hidup berat, Islam tidak menyuruh manusia menyerah total, tetapi juga tidak memerintahkan mengandalkan diri sendiri sepenuhnya.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menyerahkan hasil kepada Allah setelah ikhtiar maksimal. Imam Hasan Al-Bashri mengatakan:
“Orang yang bertawakal adalah orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi hatinya bergantung penuh kepada Allah.”
Inilah keseimbangan yang menjaga jiwa tetap kuat dan tidak rapuh.
Dalam banyak kasus, yang membuat hidup terasa berat bukanlah masalah itu sendiri, tetapi jauh dari Allah. Allah ﷻ berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia diciptakan dengan kebutuhan spiritual. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, jiwa akan gelisah, meski dunia tampak lengkap.
Dzikir, doa, dan ibadah bukan pelarian, melainkan penguatan jiwa dari dalam.
Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang paling berat ujiannya. Beliau kehilangan orang tua sejak kecil, dihina, disakiti, diusir, bahkan hampir dibunuh. Namun beliau bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, jika tertimpa kesulitan ia bersabar.”
(HR. Muslim)
Beliau mengajarkan bahwa ketenangan jiwa tidak datang dari kondisi, tetapi dari sikap hati.
Agar nilai Islam benar-benar hidup, berikut langkah nyata yang bisa diamalkan:
Perbaiki kualitas salat, hadirkan hati, dan jadikan sujud sebagai tempat mengadu.

Istighfar, shalawat, dan dzikir pagi-petang menjaga stabilitas jiwa.

Catat pelajaran dari setiap kesulitan agar jiwa tumbuh, bukan terluka.
Berbagi kebaikan menguatkan jiwa dan mengingatkan bahwa kita tidak sendirian.
Dekat dengan orang saleh dan ilmu agama menenangkan batin.
Ketika hidup terasa berat, Islam mengajarkan bahwa setiap ujian bukanlah beban tanpa makna, melainkan sarana pembentukan jiwa agar semakin kuat, sabar, dan dekat dengan Allah ﷻ. Ujian hidup adalah bagian dari perjalanan iman, sementara kekuatan jiwa lahir dari keseimbangan antara sabar, ikhtiar, dan tawakal. Dengan memahami bahwa Allah tidak pernah membebani hamba-Nya di luar kemampuan, hati menjadi lebih tenang dan langkah hidup pun kembali terarah.
Islam juga menegaskan bahwa ketenangan dan kelapangan jiwa tidak hanya dibangun melalui ibadah personal, tetapi juga melalui amal sosial yang menumbuhkan empati dan kepedulian. Salah satu bentuk aksi nyata yang dianjurkan ketika hidup terasa berat adalah bersedekah. Sedekah bukan hanya membantu meringankan beban orang lain, tetapi juga menjadi wasilah bagi Allah untuk melapangkan hati, membersihkan jiwa, dan mendatangkan pertolongan-Nya.
Sebagai wujud nyata pengamalan nilai-nilai Islam dalam menghadapi ujian hidup, kita diajak untuk memperbanyak amal kebaikan, salah satunya dengan bersedekah. Saat ini, bersedekah dapat dilakukan dengan lebih mudah dan aman melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Sukabumi.
Mari salurkan sedekah terbaik kita melalui website resmi: https://baznaskotasukabumi.com/
Semoga dengan kesabaran dalam menghadapi ujian, kekuatan jiwa yang terus kita bangun, serta keikhlasan dalam bersedekah, Allah ﷻ menganugerahkan keberkahan hidup, kelapangan rezeki, ketenangan hati, dan pahala yang terus mengalir hingga akhirat kelak.
Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Ketika Hidup Terasa Berat: Islam Mengajarkan Keseimbangan antara Ujian dan Kekuatan Jiwa
