
Kalau pernah, tenang. Kamu nggak sendirian.
Banyak orang mengalami hal yang sama. Dari luar terlihat baik-baik saja, bahkan mungkin terlihat bahagia. Tapi ketika sendirian, ada rasa kosong, cemas, dan tidak tenang yang sulit dijelaskan.
Yang menarik, sering kali penyebab hati tidak tenang bukan karena kurangnya harta, jabatan, atau kesuksesan. Justru ada hal-hal yang lebih dalam yang sering luput dari perhatian kita.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat hati sulit tenang?
Coba jujur pada diri sendiri.
Berapa kali dalam sehari kita memikirkan apa yang belum kita punya?
Ingin gaji lebih besar.
Ingin rumah lebih bagus.
Ingin hidup seperti orang lain yang terlihat lebih sukses.
Tanpa sadar, kita menghabiskan banyak energi untuk melihat kekurangan hidup sendiri.
Akibatnya, nikmat yang sudah ada di depan mata menjadi tidak terlihat.
Padahal, bisa jadi apa yang kita anggap biasa hari ini adalah impian besar bagi orang lain.
Ketika fokus hanya pada apa yang belum dimiliki, hati akan sulit merasa cukup.
Dan ketika hati tidak pernah merasa cukup, ketenangan akan semakin sulit ditemukan.
Di era media sosial, godaan ini semakin besar.
Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain.
Ada yang baru beli rumah.
Ada yang baru menikah.
Ada yang liburan ke luar negeri.
Ada yang kariernya melesat.
Padahal yang kita lihat hanyalah cuplikan terbaik dari kehidupan mereka.
Kita membandingkan seluruh hidup kita dengan potongan kecil kehidupan orang lain.
Tidak heran jika akhirnya hati merasa tertinggal.
Padahal Allah memberikan jalan hidup yang berbeda untuk setiap hamba-Nya.
Apa yang Allah berikan kepada orang lain belum tentu baik untuk kita. Dan apa yang Allah berikan kepada kita belum tentu dimiliki orang lain.
Inilah penyebab yang paling sering tidak disadari.
Kadang kita begitu sibuk dengan urusan dunia hingga lupa memberi “makanan” untuk hati.
Tubuh diberi makan setiap hari.
Pikiran diberi hiburan setiap hari.
Tapi hati?
Sering kali justru dibiarkan kosong.
Padahal hati memiliki kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh uang, hiburan, atau popularitas.
Hati membutuhkan kedekatan dengan Allah.
Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini begitu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.
Banyak orang mencari ketenangan ke mana-mana, padahal Allah sudah menjelaskan sumber ketenangan yang sesungguhnya.
Tidak sedikit orang yang terlihat kuat di depan semua orang, tetapi sebenarnya sedang lelah.
Mereka memendam masalah.
Menyimpan kesedihan.
Menutupi kekecewaan.
Berusaha terlihat baik-baik saja.
Padahal hati juga punya batas.
Islam mengajarkan bahwa kita boleh mengadu kepada Allah. Kita boleh menangis dalam doa. Kita boleh mengakui bahwa kita sedang lemah.
Bahkan para nabi pun mengadukan kesulitannya kepada Allah.
Mengadu kepada Allah bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda bahwa kita sadar siapa tempat bergantung yang sebenarnya.
Kadang hati gelisah karena terlalu banyak urusan dunia yang memenuhi pikiran.
Target pekerjaan.
Tagihan.
Bisnis.
Pencapaian.
Popularitas.
Semuanya terus berputar di kepala.
Padahal dunia memang tidak pernah selesai untuk dikejar.
Jika kebahagiaan hanya digantungkan pada urusan dunia, maka hati akan terus merasa kurang.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan urusannya menjadi teratur.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa ketenangan bukan dimulai dari banyaknya harta, tetapi dari hati yang memiliki tujuan yang benar.
Mulailah dengan hal-hal sederhana.
Luangkan waktu beberapa menit untuk berzikir.
Perbanyak membaca Al-Qur’an.
Kurangi membandingkan diri dengan orang lain.
Belajar mensyukuri hal-hal kecil.
Perbaiki shalat dan nikmati setiap sujud.
Karena sering kali yang lelah bukan tubuh kita, melainkan hati kita.
Dan hati tidak membutuhkan lebih banyak dunia untuk tenang.
Hati membutuhkan lebih banyak kedekatan dengan Allah.
Banyak orang berpikir bahwa mereka akan tenang jika sudah kaya, sukses, atau memiliki semua yang diinginkan.
Padahal kenyataannya, tidak sedikit orang yang memiliki semuanya tetapi tetap merasa kosong.
Ketenangan sejati bukan berasal dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa yang kita dekatkan dalam hidup ini.
Maka jika akhir-akhir ini hati terasa gelisah, jangan langsung menyalahkan keadaan.
Coba lihat kembali hubungan kita dengan Allah.
Karena bisa jadi, yang kurang bukan uangnya.
Bukan jabatannya.
Bukan hartanya.
Tetapi waktu yang kita luangkan untuk mengingat-Nya.
Dan saat hati kembali dekat kepada Allah, kita akan menemukan sesuatu yang selama ini dicari banyak orang: ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun di dunia.
Salah satu penyebab hati sulit tenang adalah terlalu sibuk memikirkan apa yang kita miliki, tetapi jarang memikirkan apa yang bisa kita berikan. Padahal, dalam banyak kesempatan Allah SWT mengajarkan bahwa kebahagiaan dan ketenangan justru lahir dari kepedulian kepada sesama.
Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga menjadi sarana membersihkan hati dari sifat kikir, cinta dunia yang berlebihan, dan kegelisahan yang sering menghantui kehidupan.
Allah SWT berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. InsyaAllah, setiap rupiah yang dititipkan akan menjadi manfaat bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan melalui berbagai program pemberdayaan dan bantuan sosial. BAZNAS Kota Sukabumi menyediakan layanan pembayaran ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah) secara online yang aman dan mudah diakses.
Tunaikan sekarang melalui:
BAZNAS Kota Sukabumi – Bayar Zakat Online
Konfirmasi ZIS: 081111112807