BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Kemanusiaan
    • Kesehatan
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Dakwah
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan

27 Aug 2026
Artikel
Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan

Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan

Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia menentukan apa yang layak diperjuangkan.

Suara yang keras lebih mudah didengar. Mereka yang memiliki kuasa lebih mudah mendapatkan perhatian. Mereka yang memiliki akses lebih besar lebih mudah mempertahankan kepentingannya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki semua itu?

Hewan yang kehilangan habitatnya tidak dapat menyampaikan keberatan. Hutan yang ditebang tidak dapat meminta waktu untuk pulih. Masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan mungkin tidak memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan pihak yang jauh lebih berkuasa.

Mereka tetap mengalami dampaknya.

Hanya saja, mereka tidak selalu memiliki suara yang cukup kuat untuk membuat dunia berhenti dan mendengarkan.

Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri bahwa jangan-jangan sesuatu yang paling mudah dikorbankan justru adalah sesuatu yang paling tidak mampu membela dirinya sendiri.

Ketika Kekuatan Menentukan Siapa yang Didengar

Dalam kehidupan, kekuatan tidak selalu berbentuk jabatan atau uang.

Kekuatan dapat berupa akses, pengetahuan, jaringan, status sosial, kepemilikan, bahkan kemampuan untuk membuat suara kita didengar.

Sebaliknya, ketidakberdayaan juga memiliki banyak bentuk.

Ada orang yang tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Ada yang tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan haknya. Ada yang takut berbicara karena khawatir kehilangan pekerjaan atau sumber penghidupan.

Ketika dua pihak memiliki kekuatan yang sangat berbeda, keputusan yang dihasilkan belum tentu mencerminkan keadilan.

Yang lebih kuat bisa menentukan arah.

Yang lebih lemah sering kali hanya menerima akibatnya.

Persoalannya menjadi semakin serius ketika ketimpangan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal.

“Mereka toh tidak bisa berbuat apa-apa.”

Kalimat semacam ini mungkin tidak pernah diucapkan secara terang-terangan. Namun ketika manusia mulai berpikir demikian, di situlah keserakahan menemukan ruang untuk tumbuh.

Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan
Baznas Kota Sukabumi

Yang Tidak Bisa Mengeluh Bukan Berarti Tidak Menderita

Salah satu jebakan terbesar dalam kehidupan adalah mengukur penderitaan berdasarkan kemampuan seseorang untuk mengungkapkannya.

Kita lebih mudah memahami seseorang yang menangis daripada seseorang yang diam.

Lebih mudah memperhatikan orang yang menyampaikan keluhan daripada mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.

Padahal diam tidak selalu berarti tidak terluka.

Ketika lingkungan rusak, dampaknya dapat muncul bertahun-tahun kemudian. Ketika sumber penghidupan hilang, sebuah keluarga mungkin tidak langsung terlihat menderita di hadapan kita. Ketika kelompok rentan kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar, dampaknya mungkin berlangsung jauh lebih panjang daripada pemberitaan tentang peristiwa tersebut.

Karena itu, kepedulian tidak seharusnya menunggu seseorang menjadi cukup kuat untuk meminta pertolongan.

Justru mereka yang paling lemah sering membutuhkan perhatian sebelum mampu meminta.

Islam Menempatkan Kekuatan sebagai Amanah

Islam tidak mengajarkan bahwa yang kuat boleh melakukan apa saja terhadap yang lemah.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)

Keadilan dalam ayat ini bukan sekadar memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.

Keadilan juga berarti menempatkan sesuatu pada haknya dan tidak menggunakan posisi yang dimiliki untuk mengambil keuntungan secara zalim.

Karena itu, kekuatan seharusnya melahirkan tanggung jawab.

Jika kita memiliki lebih banyak kemampuan, seharusnya semakin besar pula kemampuan kita untuk melindungi.

Jika memiliki pengaruh, seharusnya semakin besar keberanian untuk menyuarakan mereka yang tidak terdengar.

Jika memiliki sumber daya, seharusnya semakin besar kesadaran bahwa kehidupan orang lain tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar demi kepentingan kita.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa kepedulian memiliki tingkatan. Tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama, tetapi ketidakmampuan bukan alasan untuk kehilangan kepedulian.

Keserakahan Tidak Selalu Terlihat Seperti Mengambil

Kita sering membayangkan keserakahan sebagai seseorang yang ingin memiliki semakin banyak.

Namun ada bentuk yang lebih berbahaya yakni ketika seseorang menganggap penderitaan pihak lain sebagai biaya yang wajar untuk mencapai kepentingannya.

Ketika keuntungan menjadi lebih penting daripada dampaknya.

Ketika kenyamanan sendiri dianggap lebih penting daripada kehidupan makhluk lain.

Ketika orang yang tidak mampu melawan dianggap sebagai pihak yang paling mudah dikorbankan.

Di titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar tentang memiliki terlalu banyak.

Ini tentang hilangnya batas moral ketika manusia mengejar kepentingannya.

Dan mungkin kita perlu bercermin.

Tidak harus pada persoalan besar.

Apakah kita pernah memanfaatkan orang yang sulit menolak?

Apakah kita pernah mengambil keuntungan dari seseorang karena tahu ia tidak memiliki posisi untuk membantah?

Apakah kita pernah mengabaikan kebutuhan orang lain hanya karena mereka tidak cukup dekat, tidak cukup kuat, atau tidak cukup mampu meminta?

Keserakahan bisa tumbuh dalam keputusan yang sangat kecil sebelum akhirnya menjadi kebiasaan besar.

Menjadi Kuat untuk Melindungi, Bukan Mengeksploitasi

Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang mampu membantu mereka yang membutuhkan.

Ia juga masyarakat yang tidak membiarkan pihak yang lemah semakin kehilangan daya.

Karena itu, kepedulian memiliki makna yang lebih luas daripada rasa kasihan.

Ia adalah kesediaan untuk menyadari bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati, termasuk mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkannya sendiri.

Semangat ini juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial. BAZNAS, melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan, menjadi salah satu wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan.

ZIS dengan demikian bukan hanya tentang memberi kepada mereka yang meminta.

Ia juga menjadi pengingat bahwa ada hak dan kebutuhan orang lain yang mungkin tidak pernah sampai kepada kita dalam bentuk permintaan.

Sebelum Bertanya Siapa yang Pantas Dibantu

Mungkin kita terlalu sering menunggu suara terdengar sebelum memutuskan untuk peduli.

Padahal tidak semua penderitaan memiliki suara.

Tidak semua kehilangan mampu diceritakan.

Tidak semua ketidakadilan memiliki kekuatan untuk diperjuangkan.

Maka, mungkin ukuran kemanusiaan bukan hanya seberapa cepat kita merespons mereka yang mampu meminta pertolongan.

Tetapi juga seberapa peka kita melihat mereka yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk meminta.

Sebab kekuatan yang sebenarnya bukanlah kemampuan untuk membuat yang lemah tunduk.

Kekuatan adalah ketika kita memiliki kemampuan untuk mengambil keuntungan dari kelemahan seseorang, tetapi memilih untuk menggunakan kekuatan itu agar mereka tetap memiliki ruang untuk hidup, tumbuh, dan bermartabat.

Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:

https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat

Konfirmasi ZIS: 081111112807

Artikel Lainnya :

Artikel BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
Dari Zakat dan Sedekah, Tumbuh Harapan untuk Anak Yatim
27 Aug 2026
Artikel
Tak Harus Kaya untuk Jadi Dermawan
27 Aug 2026
Artikel
Zakat Bukan Kuno: Anak Muda Kini Melek Kewajiban lewat BAZNAS
27 Aug 2026
Artikel
Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki
27 Aug 2026
Artikel
Ada Perbedaan Besar antara Ibadah karena Kebiasaan dan Ibadah karena Cinta
27 Aug 2026
Artikel
Antara Cahaya dan Kegelapan: Dua Pilihan Jalan Hidup Manusia
27 Aug 2026
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2026 - Baznas Kota Sukabumi