BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Kemanusiaan
    • Kesehatan
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Dakwah
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki

27 Aug 2026
Artikel
Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki

Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki

Ada satu kesalahan cara berpikir yang sering tidak kita sadari yaitu menganggap kemampuan sebagai bukti kepemilikan.

Karena kita mampu membeli, kita merasa berhak memiliki.

Karena kita memiliki kekuasaan, kita merasa berhak menentukan.

Karena orang lain tidak mampu melawan, kita menganggap mengambil dari mereka adalah sesuatu yang bisa dilakukan.

Padahal ada perbedaan besar antara “bisa mengambil” dan “berhak memiliki.”

Di antara keduanya terdapat sesuatu yang sering dilupakan manusia yaitu moralitas.

Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki
Baznas Kota Sukabumi

Ketika Kemampuan Mengambil Disalahartikan sebagai Hak

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin jarang melihat keserakahan dalam bentuk yang ekstrem.

Namun pola pikirnya bisa dimulai dari hal yang sederhana, “Kalau saya bisa mendapatkannya, kenapa tidak?”

Masalahnya, tidak semua yang dapat kita ambil memang menjadi hak kita.

Seseorang dapat memiliki modal besar, tetapi modal tidak memberinya hak untuk mengambil mata pencaharian orang lain dengan cara yang tidak adil.

Seseorang dapat memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan tidak memberinya hak untuk membungkam mereka yang berada di bawahnya.

Seseorang dapat memiliki akses dan pengaruh, tetapi hal itu tidak otomatis memberinya hak untuk menggunakan kelemahan orang lain demi kepentingannya sendiri.

Ketika kemampuan mengambil mulai dianggap sebagai hak untuk memiliki, keserakahan tidak lagi berhenti pada diri sendiri. Ia mulai mengambil ruang kehidupan orang lain.

Harga yang Tidak Pernah Terlihat dalam Sebuah Keuntungan

Kita sering melihat hasil akhir dari sebuah keuntungan.

Bangunan berdiri. Usaha berkembang. Aset bertambah. Produksi meningkat.

Namun, pernahkah kita bertanya tentang “Apa yang harus hilang agar keuntungan itu bisa terjadi?”. 

Pertanyaan ini menjadi penting ketika kepentingan manusia mulai berhadapan dengan kehidupan manusia lain dan lingkungan.

Ketika hutan dibakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada habitat satwa yang lenyap, sumber pangan masyarakat yang berubah, dan ekosistem yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.

Ketika ruang hidup masyarakat diambil tanpa keadilan, yang hilang bukan sekadar tanah. Bisa jadi ada pekerjaan, sumber penghasilan, bahkan tempat seseorang membangun masa depan keluarganya.

Yang lebih menyedihkan, pihak yang menanggung akibatnya belum tentu pihak yang menikmati keuntungannya.

Di sinilah kita perlu belajar melihat sesuatu bukan hanya dari pertanyaan, “Berapa banyak yang saya dapat?”. Tetapi juga, “Siapa yang harus kehilangan karena saya mendapatkannya?”

Islam Tidak Memisahkan Kepemilikan dari Tanggung Jawab

Islam tidak melarang manusia memiliki harta.

Islam juga tidak mengajarkan bahwa menjadi kaya adalah sesuatu yang harus dicurigai.

Yang perlu dijaga adalah bagaimana manusia memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan apa yang dimilikinya.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil…”
(QS. Al-Baqarah: 188)

Ayat ini memberikan batas yang sangat penting.

Tidak semua keuntungan dapat dibenarkan hanya karena menghasilkan keuntungan.

Tidak semua sesuatu yang berhasil kita kuasai otomatis halal untuk kita manfaatkan.

Ada hak orang lain yang harus dihormati.

Ada batas yang tidak boleh dilampaui.

Ada amanah yang harus dijaga.

Karena dalam perspektif Islam, manusia bukan pemilik mutlak atas segala sesuatu yang berada di tangannya. Manusia diberikan amanah untuk mengelolanya dengan benar.

Ketimpangan Kekuasaan Menguji Akhlak Manusia

Mungkin ujian terbesar bukan ketika kita tidak memiliki kekuatan.

Justru ketika kita memiliki kekuatan tetapi memilih untuk tidak menyalahgunakannya.

Sebab sangat mudah menjadi adil ketika kita tidak memiliki kesempatan untuk berbuat zalim.

Tetapi bagaimana ketika kita memiliki uang, jabatan, koneksi, pengaruh, atau posisi yang membuat orang lain sulit mengatakan “tidak”?

Di situlah karakter diuji.

Apakah kita menggunakan kekuatan untuk mengambil lebih banyak?

Atau menggunakan kekuatan untuk melindungi mereka yang memiliki lebih sedikit?

Rasulullah SAW bersabda:

“Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)

Kezaliman tidak selalu berbentuk tindakan besar yang langsung terlihat.

Ia dapat tumbuh ketika manusia mulai menganggap kelemahan orang lain sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.

Mungkin Keserakahan Tidak Selalu Berawal dari Hal Besar

Karena itu, renungan ini sebenarnya bukan hanya untuk mereka yang memiliki kekuasaan besar.

Ia juga untuk kita.

Apakah kita pernah mengambil sesuatu yang bukan hak kita karena merasa tidak akan ada yang mempermasalahkan?

Apakah kita pernah memanfaatkan kebaikan seseorang karena tahu ia sulit menolak?

Apakah kita pernah mengambil lebih banyak karena berpikir, “Toh, kalau bukan saya yang mengambil, orang lain juga akan mengambilnya”?

Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini penting karena karakter tidak terbentuk hanya dari keputusan besar.

Ia dibentuk dari kebiasaan kecil yang terus kita benarkan.

Dari Mengambil Menjadi Memberi

Di sinilah kita dapat melihat kembali makna zakat, infak, dan sedekah.

ZIS bukan sekadar tentang memberikan sebagian harta setelah kebutuhan pribadi terpenuhi.

Ia juga dapat menjadi latihan untuk mengubah cara kita memandang kepemilikan.

Bahwa apa yang kita punya tidak selalu harus berakhir pada diri sendiri.

Bahwa kemampuan memiliki dapat diubah menjadi kemampuan memberi.

Bahwa keberhasilan tidak harus membuat ruang hidup kita semakin besar dengan mengorbankan ruang hidup orang lain.

Melalui BAZNAS, zakat, infak, dan sedekah masyarakat dihimpun dan dikelola untuk mendukung berbagai program sosial, kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan keagamaan. Dengan demikian, kepedulian dapat diarahkan menjadi manfaat yang lebih luas bagi mereka yang membutuhkan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah manusia boleh memiliki. Tentu boleh.

Persoalannya adalah apakah keinginan untuk memiliki membuat kita lupa bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar memiliki yaitu hal yang berkaitan dengan hak orang lain yang harus dihormati.

Sebab tidak semua yang dapat kita ambil layak kita ambil.

Tidak semua yang mampu kita kuasai pantas kita kuasai.

Dan tidak semua keuntungan layak dirayakan jika di baliknya terdapat kehidupan lain yang harus kehilangan.

Mungkin kedewasaan manusia bukan ketika ia mampu mendapatkan sebanyak-banyaknya.

Melainkan ketika ia memiliki kekuatan untuk mengambil, tetapi memilih untuk tidak mengambil apa yang bukan haknya.

Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:

https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat

Konfirmasi ZIS: 081111112807

Artikel Lainnya :

Artikel BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
Dari Zakat dan Sedekah, Tumbuh Harapan untuk Anak Yatim
27 Aug 2026
Artikel
Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan
27 Aug 2026
Artikel
Tak Harus Kaya untuk Jadi Dermawan
27 Aug 2026
Artikel
Zakat Bukan Kuno: Anak Muda Kini Melek Kewajiban lewat BAZNAS
27 Aug 2026
Artikel
Ada Perbedaan Besar antara Ibadah karena Kebiasaan dan Ibadah karena Cinta
27 Aug 2026
Artikel
Antara Cahaya dan Kegelapan: Dua Pilihan Jalan Hidup Manusia
27 Aug 2026
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2026 - Baznas Kota Sukabumi