BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Kemanusiaan
    • Kesehatan
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Dakwah
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Kenapa Uang Tambahan Selalu Terasa Seperti Uang yang Boleh Dihabiskan?

21 Aug 2026
Artikel
Kenapa Uang Tambahan Selalu Terasa Seperti Uang yang Boleh Dihabiskan?

Kenapa Uang Tambahan Selalu Terasa Seperti Uang yang Boleh Dihabiskan?

Pernahkah kita memperhatikan bahwa tidak semua uang terasa sama?

Rp100.000 dari gaji mungkin kita pikirkan berkali-kali sebelum digunakan. Kita menghitungnya untuk makan, transportasi, tagihan, atau kebutuhan lain. Namun, Rp100.000 yang datang dari cashback, bonus, hadiah, atau rezeki tak terduga sering terasa berbeda. Karena tidak masuk dalam rencana awal, uang itu terasa seperti memiliki satu fungsi khusus yaitu boleh dinikmati.

“Lumayan, buat jajan.”

“Anggap saja bonus.”

“Karena ini uang tambahan, tidak apa-apa dipakai.”

Padahal, jika dilihat secara nominal, uang tetaplah uang. Rp100.000 dari gaji memiliki nilai yang sama dengan Rp100.000 dari bonus. Namun, mengapa sumber datangnya uang dapat mengubah cara kita memperlakukannya?

Mungkin masalahnya bukan pada uang yang kita miliki, melainkan pada cara pikiran kita memberikan makna kepada uang tersebut.

Kita Memberi Label yang Berbeda pada Uang

Dalam perilaku ekonomi, terdapat konsep yang dikenal sebagai mental accounting. Secara sederhana, manusia sering membuat “rekening” di dalam pikirannya sendiri.

Ada uang gaji yang harus dijaga. Ada uang tabungan yang tidak boleh disentuh. Ada uang untuk kebutuhan. Ada pula uang bonus yang terasa lebih bebas digunakan.

Tanpa sadar, kita tidak hanya menghitung uang berdasarkan jumlahnya, tetapi juga berdasarkan asal dan label yang kita berikan kepadanya.

Di sinilah muncul pertanyaan yang menarik yaitu ketika uang tambahan datang, mengapa label pertama yang sering muncul adalah “uang untuk dinikmati”, bukan “uang yang memiliki banyak kemungkinan untuk dimanfaatkan”?

Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil dari apa yang kita peroleh. Memberi penghargaan kepada diri sendiri juga bukan sesuatu yang harus dipandang buruk. Namun, persoalannya muncul ketika setiap tambahan rezeki selalu otomatis diterjemahkan menjadi tambahan keinginan.

Bonus datang, standar konsumsi bertambah.

Pendapatan naik, pengeluaran ikut naik.

Ada uang tambahan, selalu ada sesuatu yang baru untuk dibeli.

Seolah-olah setiap rezeki yang bertambah harus segera diikuti oleh sesuatu yang juga bertambah untuk diri sendiri.

Kenapa Uang Tambahan Selalu Terasa Seperti Uang yang Boleh Dihabiskan?
Baznas Kota Sukabumi

Mengapa yang Terasa Sekarang Lebih Menggoda?

Selain mental accounting, ada kecenderungan lain yang dapat membantu menjelaskan fenomena ini, yaitu present bias. Manusia cenderung memberikan nilai lebih besar pada sesuatu yang manfaatnya dapat dirasakan sekarang dibandingkan manfaat yang mungkin terasa di masa depan.

Membeli makanan yang kita inginkan memberikan kepuasan hari ini.

Membeli barang baru bisa langsung digunakan.

Memanfaatkan bonus untuk liburan memberikan pengalaman yang segera terasa.

Sementara itu, menggunakan sebagian rezeki untuk membantu orang lain mungkin tidak memberikan manfaat yang langsung terlihat oleh kita. Kita tidak selalu melihat siapa yang menerima, bagaimana kehidupannya berubah, atau kapan dampaknya benar-benar dirasakan.

Karena itulah, pilihan yang memberikan kepuasan saat ini sering terasa lebih menarik.

Bukan berarti manusia tidak peduli. Bisa jadi, kita hanya lebih mudah tertarik pada sesuatu yang hasilnya langsung dapat kita rasakan.

Namun, di tengah kebiasaan tersebut, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan yakni “ketika rezeki kita bertambah, mengapa yang pertama kali bertambah sering kali hanya daftar keinginan kita?”

Rezeki Tambahan Tidak Harus Selalu Berarti Konsumsi Tambahan

Setiap orang tentu memiliki hak untuk menentukan bagaimana hartanya digunakan. Tidak semua bonus harus diberikan kepada orang lain, dan tidak semua rezeki tambahan harus dihabiskan untuk kebutuhan sosial.

Namun, mungkin kita dapat mulai melihat uang tambahan dengan perspektif yang lebih luas.

Jika selama ini sebuah bonus selalu berarti kesempatan untuk membeli sesuatu, bagaimana jika sesekali kita bertanya, yaitu selain memberi sesuatu kepada diri sendiri, dampak apa yang bisa lahir dari sebagian rezeki tambahan ini?

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
(QS. Az-Zariyat: 19)

Ayat ini mengingatkan bahwa harta tidak hanya berkaitan dengan apa yang dapat kita nikmati sendiri. Di dalamnya terdapat dimensi sosial dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Mungkin inilah yang sering terlupakan ketika rezeki datang secara tidak terduga. Kita terlalu cepat bertanya, “mau beli apa?”. Padahal ada pertanyaan lain yang juga bisa kita ajukan berupa “Dengan sebagian rezeki ini, kebaikan apa yang bisa ikut terjadi?”.

Ketika Rezeki Berubah Menjadi Dampak

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat dilihat bukan sekadar sebagai pengeluaran, tetapi sebagai salah satu kemungkinan penggunaan harta.

Sebagian rezeki yang bagi kita hanya terasa sebagai “uang tambahan” dapat memiliki arti yang jauh berbeda bagi orang lain. Ketika dihimpun dan dikelola secara kolektif, dana ZIS dapat disalurkan untuk membantu berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari bantuan kemanusiaan, kesehatan, pendidikan, hingga kelompok rentan.

Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat memiliki salah satu saluran untuk mengubah sebagian rezekinya menjadi manfaat yang lebih luas. Bukan karena setiap uang tambahan harus diberikan, tetapi karena setiap tambahan rezeki selalu memberi kita lebih banyak pilihan tentang bagaimana harta tersebut akan digunakan.

Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan tentang seberapa besar bonus yang kita terima atau seberapa banyak yang mampu kita berikan.

Pertanyaannya justru lebih sederhana yaitu “ketika rezeki datang lebih dari yang kita rencanakan, apakah yang bertambah hanya apa yang kita inginkan, atau juga ruang yang kita berikan untuk kebaikan?”

Karena mungkin, uang tambahan memang boleh dinikmati. Tetapi tidak ada salahnya jika sebagian darinya juga menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap memiliki harapan.

Mari jadikan setiap rezeki sebagai kesempatan untuk menciptakan lebih banyak manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi, dan ubah sebagian dari apa yang kita terima menjadi kebaikan yang dapat dirasakan oleh sesama.

Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:

https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat

Konfirmasi ZIS: 081111112807

Artikel Lainnya :

Artikel BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
Siap Jadi Pahlawan Masa Kini? Satu Langkah Kecil untuk Selamatkan Ribuan Jiwa
21 Aug 2026
Artikel
Saat Jabatan, Harta, dan Pujian Tak Lagi Membuat Bahagia, Apa yang Sebenarnya Kita Cari?
21 Aug 2026
Artikel
Jangan Merasa Aman! Bisa Jadi Nikmat yang Kita Punya Sedang Menjadi Ujian
21 Aug 2026
Artikel
Zakat di Era AI: Makin Mudah Berzakat, Tapi Makin Percayakah Masyarakat?
21 Aug 2026
Artikel
Mengapa Kita Bisa Percaya Membeli Barang Online, tetapi Masih Ragu Berdonasi Online?
21 Aug 2026
Artikel
Mengapa Tidak Semua Orang yang Meminta Bantuan Bisa Langsung Menerimanya?
21 Aug 2026
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2026 - Baznas Kota Sukabumi