3 Sikap Mulia yang Rasulullah Ajarkan Saat Melihat Musibah Orang Lain
Ketika sebuah bencana terjadi, perhatian kita biasanya tertuju pada mereka yang menjadi korban. Kita melihat rumah yang rusak, jalan yang terendam, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, atau seseorang yang harus meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya.
Namun, ada satu hal yang sering luput kita sadari.
Musibah bukan hanya menguji orang yang mengalaminya. Musibah juga menguji orang yang melihatnya.
Ketika melihat seseorang kehilangan rumah karena banjir, apa yang muncul dalam diri kita? Apakah keinginan untuk membantu? Rasa iba? Keinginan untuk mendoakan? Atau justru dorongan untuk mencari tahu apa kesalahan yang dilakukan korban hingga musibah itu menimpanya?
Di zaman ketika informasi bergerak begitu cepat, penderitaan orang lain dapat muncul hanya dalam beberapa detik di layar ponsel. Kita bisa melihat video bencana, membaca berita tentang korban, bahkan mengetahui kondisi seseorang yang sedang mengalami kesulitan tanpa pernah bertemu dengannya.
Tetapi semakin mudah kita melihat penderitaan, bukan berarti semakin mudah pula kita memahami bagaimana seharusnya bersikap.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah ketika keadaan baik, tetapi juga tentang bagaimana hati kita merespons ketika melihat orang lain berada dalam keadaan sulit.
Ada setidaknya tiga sikap yang penting untuk kita tumbuhkan.
Salah satu respons manusia ketika melihat suatu kejadian adalah mencari penjelasan.
Kita ingin tahu mengapa banjir terjadi. Mengapa kebakaran terjadi. Mengapa seseorang kehilangan pekerjaannya. Mengapa sebuah keluarga mengalami kesulitan.
Mencari sebab tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan, mencari penyebab adalah bagian penting agar kesalahan dapat diperbaiki dan bencana serupa dapat dicegah.
Yang menjadi masalah adalah ketika mencari sebab berubah menjadi mencari kesalahan korban.
Di media sosial, misalnya, sebuah kabar tentang bencana terkadang segera diikuti komentar yang menghubungkan penderitaan seseorang dengan dosa, kesalahan pribadi, atau kualitas keagamaannya.
Padahal, kita tidak mengetahui seluruh keadaan seseorang.
Kita hanya melihat beberapa detik kehidupannya, lalu merasa memiliki cukup informasi untuk memberikan kesimpulan tentang hidupnya.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-Isra ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi sangat penting yaitu tidak mengetahui adalah alasan untuk berhati-hati, bukan alasan untuk berspekulasi.
Sebagai Muslim, kita perlu belajar membedakan antara mengambil pelajaran dan menghakimi seseorang.
Kita boleh melihat sebuah bencana lalu bertanya, “Apa yang harus diperbaiki agar kejadian seperti ini tidak terulang?”
Kita boleh mengevaluasi tata ruang, lingkungan, perilaku manusia, sistem penanganan bencana, maupun kesiapan masyarakat.
Tetapi kita perlu berhati-hati ketika pertanyaannya berubah menjadi, “Dosa apa yang dilakukan mereka sampai Allah menimpakan ini?”
Pertanyaan tersebut membawa kita memasuki wilayah yang tidak selalu kita ketahui.
Karena itu, salah satu bentuk kemuliaan seorang Muslim adalah kemampuan untuk menahan lidah ketika pengetahuan kita terbatas.
Tidak semua hal harus segera kita komentari. Tidak semua penderitaan membutuhkan penjelasan dari kita.
Kadang-kadang, mengatakan “Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, tetapi saya ingin membantu” justru menunjukkan kedewasaan iman.
Kita sering lupa bahwa di balik kata “korban bencana” terdapat manusia dengan kehidupan yang utuh.
Ada seorang ibu yang sedang memikirkan bagaimana memberi makan anaknya.
Ada seorang ayah yang kehilangan alat untuk mencari nafkah.
Ada seorang anak yang mungkin tidak lagi bisa tidur dengan tenang setelah mengalami bencana.
Ada seorang pedagang yang bukan hanya kehilangan barang dagangan, tetapi juga kehilangan modal untuk memulai kembali kehidupannya.
Ketika sebuah musibah diberitakan, angka dan gambar memang membantu kita memahami besarnya kejadian. Tetapi angka tidak pernah sepenuhnya mampu menggambarkan penderitaan manusia.
Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk tidak kehilangan rasa kemanusiaan ketika melihat kesulitan orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman.”
(HR. Tirmidzi)
Pesannya sangat dalam, yaitu rahmat kepada manusia bukan sekadar perasaan lembut di dalam hati. Ia adalah sikap yang membuat kita memperlakukan penderitaan orang lain dengan penuh kasih.
Empati berarti kita mampu berhenti sejenak dari sudut pandang kita sendiri dan mencoba memahami bahwa apa yang bagi kita hanya sebuah berita, bagi orang lain mungkin merupakan titik paling berat dalam hidupnya.
Karena itu, sebelum berkomentar, kita bisa belajar bertanya, “Jika aku berada di posisi mereka, kata-kata seperti apa yang ingin kudengar?”
Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita berbicara.
Mungkin kita tidak dapat mengembalikan rumah mereka.
Mungkin kita tidak dapat menghapus kehilangan mereka.
Mungkin kita bahkan tidak mampu datang langsung ke lokasi.
Tetapi setidaknya, kita tidak menambah luka yang sudah mereka rasakan.
Inilah bentuk empati yang sering kali sederhana, tetapi justru semakin dibutuhkan di tengah derasnya informasi.
Merasa kasihan adalah hal yang manusiawi.
Melihat berita bencana lalu merasa sedih adalah hal yang wajar.
Namun, kepedulian akan kehilangan makna apabila ia hanya berhenti sebagai perasaan.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi penonton atas kesulitan sesamanya.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
Ayat tersebut memberikan cara pandang yang lebih luas tentang kepedulian.
Kebaikan bukan hanya sesuatu yang kita rasakan, tetapi sesuatu yang dikerjakan bersama.
Karena itu, ketika melihat orang lain tertimpa musibah, pertanyaan kita seharusnya tidak berhenti pada perkataan “Kasihan sekali.”
Tetapi berkembang menjadi pertanyaan, “Apa yang bisa aku lakukan?”
Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama.
Ada yang dapat datang langsung ke lokasi. Ada yang dapat menjadi relawan. Ada yang dapat memberikan kebutuhan pokok. Ada yang dapat membantu menyebarkan informasi yang benar. Dan ada pula yang mungkin hanya mampu memberikan sebagian hartanya.
Semua memiliki ruang untuk berbuat.
Dalam konteks inilah zakat, infak, dan sedekah menjadi salah satu bentuk nyata dari kepedulian sosial.
Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki salah satu sarana untuk menyalurkan kepeduliannya melalui pengelolaan dana ZIS agar dapat dimanfaatkan bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk dalam berbagai kondisi kemanusiaan.
Artinya, ketika kita memberikan sebagian harta melalui lembaga pengelola zakat, kita tidak sekadar “memberikan uang”.
Kita sedang mengubah sesuatu yang awalnya hanya ada di dalam hati berupa rasa peduli menjadi tindakan yang memiliki kemungkinan untuk dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Dan di sinilah kepedulian menjadi lebih bermakna.

Kita tidak selalu mengetahui mengapa sebuah musibah terjadi.
Kita tidak mengetahui seluruh hikmah yang Allah simpan di balik suatu kejadian.
Kita juga tidak memiliki kewenangan untuk dengan mudah menentukan bahwa penderitaan seseorang merupakan azab atau hukuman atas dosa tertentu.
Tetapi kita mengetahui satu hal bahwa ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, ia membutuhkan manusia lain untuk tidak berpaling darinya.
Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara memandang musibah orang lain.
Bukan tentang “Mengapa mereka sampai mengalami ini?”. Tetapi, pada “Apa yang bisa aku lakukan ketika mereka sedang mengalami ini?”
Bukan, “Apa kesalahan mereka?”. Tetapi, “Apa pelajaran yang bisa aku ambil tanpa merendahkan mereka?”
Dan bukan hanya perkataan “Kasihan.”
Tetapi, “Bagaimana rasa kasihan ini bisa berubah menjadi kebaikan?”
Sebab, kualitas seorang Muslim tidak hanya terlihat ketika ia berada dalam keadaan lapang. Ia juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain yang sedang berada dalam keadaan sempit.
Ketika Allah memperlihatkan penderitaan seseorang kepada kita, mungkin yang sedang diuji bukan hanya mereka yang berada di tengah musibah.
Bisa jadi, kita yang menyaksikannya juga sedang diuji.
Diuji apakah kita akan memilih untuk menghakimi atau memahami.
Diuji apakah kita akan memilih untuk sekadar menonton atau membantu.
Diuji apakah kita akan membiarkan kepedulian berhenti sebagai rasa iba, atau mengubahnya menjadi amal nyata.
Karena pada akhirnya, kita mungkin tidak mampu mencegah setiap musibah yang terjadi.
Tetapi kita selalu memiliki pilihan tentang manusia seperti apa kita setelah melihatnya.
Dan mungkin, salah satu bentuk kemuliaan yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah ketika penderitaan orang lain tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari mereka, tetapi justru membuat kita semakin rendah hati, semakin penyayang, dan semakin terdorong untuk berbuat baik.
Jangan jadikan musibah orang lain sebagai bahan untuk merasa lebih suci. Jadikan ia sebagai kesempatan untuk menjadi lebih manusiawi.
Jika hari ini ada saudara kita yang sedang tertimpa musibah, mungkin mereka sedang membutuhkan lebih dari sekadar ucapan belasungkawa.
Mungkin mereka membutuhkan kita untuk hadir.
Mungkin mereka membutuhkan doa.
Mungkin mereka membutuhkan bantuan.
Dan mungkin, melalui kesempatan itu, Allah sedang membuka jalan bagi kita untuk melakukan kebaikan.
Salurkan kepedulian melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS. Karena kepedulian yang paling berarti bukan hanya yang kita rasakan, tetapi yang akhirnya sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :