Memberi Tidak Pernah Membuat Kita Lebih Mulia dari Orang yang Menerima
Ada sesuatu yang aneh dalam cara kita memandang kebaikan.
Ketika memiliki lebih, kita merasa mampu memberi. Ketika melihat seseorang membutuhkan, kita merasa terpanggil untuk membantu. Lalu tanpa sadar, sebuah jarak terbentuk yakni ada yang memberi dan ada yang menerima.
Padahal, jarak antara keduanya seharusnya hanya jarak keadaan, bukan jarak kemuliaan.
Hari ini seseorang mungkin menjadi pemberi. Besok, keadaan dapat berubah dan ia sendiri membutuhkan pertolongan. Hari ini seseorang menerima bantuan karena kehilangan pekerjaan, sakit, atau berada dalam kesulitan ekonomi. Namun kondisi tersebut tidak pernah membuatnya kehilangan harga diri sebagai manusia.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, dan bertanya, apakah ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain, kita juga merasa memperoleh kedudukan yang lebih tinggi darinya?
Jika iya, mungkin ada sesuatu yang perlu diluruskan dari cara kita memahami kebaikan.
Kita sering menganggap orang yang memberi sebagai pihak yang lebih beruntung.
Ia memiliki harta. Ia memiliki kemampuan. Ia memiliki sesuatu yang bisa dibagikan.
Sementara penerima ditempatkan sebagai pihak yang kekurangan.
Cara pandang ini tidak sepenuhnya salah jika digunakan untuk menjelaskan kondisi ekonomi. Tetapi menjadi masalah ketika perbedaan kondisi tersebut berubah menjadi perbedaan nilai manusia.
Orang yang memiliki lebih bukan berarti lebih mulia.
Orang yang sedang membutuhkan bukan berarti lebih rendah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini mengubah ukuran kemuliaan manusia.
Bukan kekayaan.
Bukan jabatan.
Bukan seberapa besar kemampuan seseorang memberi.
Dan bukan pula seberapa sering seseorang tampil sebagai penolong.
Kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaan.
Maka ketika seseorang memberikan zakat, infak, atau sedekah, ia sebenarnya sedang menjalankan sebuah kewajiban atau amal yang Allah amanahkan kepadanya. Ia tidak sedang membeli kedudukan yang lebih tinggi di hadapan manusia.
Memberi adalah bentuk ketaatan, bukan tiket untuk merasa lebih mulia.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih halus.
Seseorang dapat memberikan bantuan dengan tulus, tetapi kemudian perlahan merasa bahwa dirinya memiliki jasa besar atas kehidupan orang lain.
Kalimat seperti “Kalau bukan saya, mungkin dia tidak bisa makan.” atau “Saya sudah banyak membantu dia.”
Mungkin terdengar sederhana.
Tetapi jika terus dipelihara, cara berpikir seperti ini dapat mengubah hubungan antara pemberi dan penerima.
Bantuan yang semestinya menjadi bentuk kasih sayang berubah menjadi alat untuk mengingatkan seseorang bahwa ia pernah berada di posisi membutuhkan.
Padahal Allah justru memperingatkan manusia agar tidak merusak sedekah dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti penerimanya.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti…”
(QS. Al-Baqarah: 264)
Perhatikan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang memberikan.
Al-Qur’an juga berbicara tentang apa yang terjadi setelah pemberian dilakukan.
Sebab seseorang bisa saja kehilangan manfaat dari sebuah kebaikan bukan karena tidak memberikan sesuatu, tetapi karena cara pemberian tersebut disertai dengan tindakan yang menyakitkan.
Dengan kata lain, yang membuat sebuah pemberian bernilai bukan hanya apa yang berpindah dari tangan kita, tetapi juga sikap yang menyertai perpindahan itu.
Bayangkan seseorang yang sedang berada dalam kesulitan.
Ia mungkin tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ia mungkin sedang sakit.
Ia mungkin kehilangan pekerjaan.
Ia mungkin berada dalam kondisi yang membuatnya harus menerima bantuan.
Namun satu hal tidak berubah bahwa ia tetap manusia yang memiliki martabat.
Ia tetap memiliki nama yang layak disebut dengan baik.
Ia memiliki perasaan yang bisa terluka.
Ia memiliki privasi.
Ia memiliki rasa malu.
Ia memiliki keluarga yang mungkin tidak ingin kondisi hidupnya diketahui banyak orang.
Karena itu, menerima bantuan tidak sama dengan kehilangan hak untuk dihormati.
Justru ketika seseorang berada dalam posisi paling rentan, seharusnya semakin besar kehati-hatian kita dalam memperlakukannya.
Sebab orang yang sedang berada di bawah tidak membutuhkan kita untuk mengingatkan bahwa ia sedang berada di bawah.
Ia membutuhkan seseorang yang membantunya berdiri.
Persoalan ini menjadi semakin relevan di era digital.
Sekarang, bantuan dapat didokumentasikan dalam hitungan detik.
Foto diambil.
Video direkam.
Cerita ditulis.
Kemudian dipublikasikan agar masyarakat mengetahui bahwa sebuah bantuan telah disalurkan.
Tentu, dokumentasi dapat memiliki tujuan yang baik. Ia dapat menjadi bentuk transparansi, laporan, edukasi, sekaligus cara untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa dana yang dipercayakan telah memberikan manfaat.
Tetapi ada batas yang perlu kita sadari, transparansi tidak harus berarti mengekspos seluruh penderitaan seseorang.
Ada perbedaan antara menunjukkan bahwa bantuan telah memberikan dampak dan menjadikan penderitaan seseorang sebagai tontonan.
Ada perbedaan antara memperlihatkan manfaat program dan memperlihatkan seseorang dalam kondisi yang membuat harga dirinya terekspos.
Di sinilah etika kepedulian diuji.
Sebelum mengunggah foto seseorang yang menerima bantuan, mungkin kita perlu bertanya jika saya berada di posisi mereka, apakah saya rela kondisi ini dilihat banyak orang?
Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah cara kita mendokumentasikan kebaikan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa sedekah memiliki nilai yang sangat besar ketika dilakukan dengan ikhlas.
Bahkan dalam hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, Rasulullah ﷺ menyebutkan salah satunya adalah seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikan sedekahnya sedemikian rupa sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan penting dari hadis tersebut bukan semata-mata bahwa setiap sedekah harus selalu dirahasiakan.
Lebih jauh, hadis itu mengajarkan tentang keikhlasan dan tidak menjadikan pemberian sebagai panggung untuk membesarkan diri.
Sebab semakin besar keinginan kita untuk terlihat sebagai orang baik, semakin mudah kebaikan berubah menjadi pencarian pengakuan.
Dan ketika penerima bantuan harus diperlihatkan agar pemberi terlihat baik, kita perlu berhenti sejenak dan memeriksa kembali mengenai siapa sebenarnya yang sedang kita utamakan, apakah orang yang membutuhkan atau citra diri kita sebagai penolong?

Zakat memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar memberikan sebagian harta.
Di dalamnya terdapat pengakuan bahwa kehidupan sosial tidak dibangun hanya oleh mereka yang sedang memiliki kemampuan.
Allah memberikan rezeki kepada manusia dengan keadaan yang berbeda-beda.
Ada yang diberi kelapangan.
Ada yang diuji dengan keterbatasan.
Dan ada kalanya seseorang berpindah dari satu keadaan ke keadaan lainnya.
Karena itu, zakat bukan hubungan antara manusia “lebih tinggi” dengan manusia “lebih rendah”.
Zakat adalah bagian dari mekanisme yang Allah tetapkan agar harta tidak hanya berputar pada mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.
Allah berfirman:
“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Ada pesan sosial yang sangat kuat di dalamnya.
Harta tidak seharusnya menjadi tembok yang membuat sebagian manusia terus berada di atas sementara sebagian lainnya tidak memiliki kesempatan untuk bangkit.
Maka ketika zakat disalurkan, yang berpindah bukan hanya uang.
Yang sedang dibangun adalah hubungan sosial yang lebih adil.
Dalam konteks tersebut, keberadaan lembaga pengelola zakat memiliki peran penting.
BAZNAS tidak hanya menjadi tempat masyarakat menunaikan zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga menjadi bagian dari proses memastikan dana yang dihimpun dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang berhak.
Namun keberhasilan pengelolaan ZIS tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa besar dana yang terkumpul atau berapa banyak bantuan yang diberikan.
Ada ukuran lain yang tidak kalah penting yaitu apakah penerima manfaat tetap diperlakukan dengan bermartabat?
Karena bantuan yang baik bukan hanya bantuan yang sampai.
Ia adalah bantuan yang tepat sasaran, bermanfaat, dan diberikan dengan memperhatikan manusia yang menerimanya.
Di sinilah kepedulian perlu bertemu dengan profesionalitas.
Data perlu dikelola.
Penyaluran perlu dipertanggungjawabkan.
Dampak perlu diperhatikan.
Tetapi di balik seluruh proses tersebut, jangan sampai kita lupa bahwa yang sedang kita layani bukan sekadar “data penerima manfaat”.
Yang sedang kita hadapi adalah manusia.
Pada akhirnya, menjadi pemberi bukan alasan untuk berdiri lebih tinggi.
Justru kemampuan memberi seharusnya membuat kita semakin rendah hati.
Sebab harta yang kita miliki bukan sepenuhnya hasil dari kekuatan kita sendiri.
Kesehatan yang membuat kita mampu bekerja bukan seluruhnya kita ciptakan sendiri.
Kesempatan yang membuat kita memperoleh penghasilan juga tidak selalu berada sepenuhnya dalam kendali kita.
Ada begitu banyak hal yang memungkinkan kita berada dalam posisi mampu memberi.
Maka ketika Allah menitipkan kelapangan, barangkali yang seharusnya tumbuh bukan rasa superioritas, melainkan rasa syukur.
Dan ketika suatu hari kita berada dalam posisi menerima, semoga kita menemukan manusia lain yang membantu tanpa membuat kita merasa kehilangan harga diri.
Sebab pada akhirnya, kita semua hanya sedang melewati keadaan yang berbeda.
Hari ini tangan kita mungkin berada di atas. Esok bisa jadi tangan kita yang membutuhkan pertolongan.
Karena itu, mari belajar bahwa kebaikan tidak membutuhkan seseorang untuk merasa lebih tinggi.
Berikan zakat karena ia adalah kewajiban.
Berikan infak dan sedekah karena Allah memberikan kita kesempatan untuk berbagi.
Salurkan melalui lembaga yang amanah agar manfaatnya dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.
Tetapi ketika memberi, jangan lupa satu hal yang sering luput dari perhatian bahwa orang yang menerima mungkin sedang membutuhkan harta kita, tetapi ia tidak pernah membutuhkan kita untuk mengambil kehormatannya.
Sebab kebaikan yang paling utuh bukan hanya membuat seseorang mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Kebaikan yang paling utuh adalah ketika seseorang mendapatkan pertolongan tanpa kehilangan martabatnya.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :