BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Kemanusiaan
    • Kesehatan
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Dakwah
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Ego yang Tidak Dikendalikan Selalu Mencari Seseorang untuk Dikendalikan

27 Aug 2026
Artikel
Ego yang Tidak Dikendalikan Selalu Mencari Seseorang untuk Dikendalikan

Ego yang Tidak Dikendalikan Selalu Mencari Seseorang untuk Dikendalikan

Tidak semua keinginan untuk mengendalikan orang lain dimulai dari kekuasaan.

Kadang, ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih dekat yaitu ego yang tidak pernah belajar dikendalikan.

Seseorang merasa pendapatnya harus selalu didengar. Ketika dikritik, ia menganggapnya sebagai serangan. Ketika orang lain mengambil keputusan sendiri, ia merasa tidak dihargai. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, ia marah atau membuat orang lain merasa bersalah.

Tanpa sadar, hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar kasih sayang berubah menjadi ruang untuk mengendalikan.

Dalam keluarga, seorang ayah dapat merasa bahwa kepemimpinannya berarti semua orang harus tunduk pada keinginannya. Dalam hubungan, seseorang dapat menganggap cinta sebagai hak untuk mengatur kehidupan pasangannya. Dalam pekerjaan, jabatan dapat digunakan untuk merendahkan, bukan membimbing.

Di titik itulah kita perlu berhenti sejenak, dan bertanya tentang “Apakah kita sedang memimpin, atau hanya sedang berusaha memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan kita?”

Ego yang Tidak Dikendalikan Selalu Mencari Seseorang untuk Dikendalikan
Baznas Kota Sukabumi

Ego yang Merasa Selalu Benar

Ego tidak selalu tampil dalam bentuk kesombongan yang mudah dikenali.

Ia tidak selalu berbicara dengan suara keras atau menunjukkan diri sebagai orang yang paling hebat. Kadang, ego hadir dalam bentuk yang lebih halus melalui ketidakmampuan untuk menerima bahwa kita bisa salah.

Setiap kritik dianggap penghinaan.

Setiap nasihat dianggap campur tangan.

Setiap perbedaan pendapat dianggap sebagai bentuk pembangkangan.

Ketika seseorang selalu merasa dirinya benar, ia perlahan berhenti mendengarkan. Dan ketika ia berhenti mendengarkan, orang lain tidak lagi dipandang sebagai manusia yang memiliki pikiran dan perasaan, melainkan hanya sebagai pihak yang harus menyetujui dirinya.

Inilah salah satu bahaya ego yang tidak dikendalikan bahwa ia tidak hanya membuat seseorang sulit berubah, tetapi juga dapat membuatnya merasa berhak mengatur kehidupan orang lain.

Padahal kemampuan untuk mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan.

Justru dibutuhkan keberanian untuk mengatakan “Mungkin saya salah. Mungkin saya perlu belajar.”

Ketika Pengakuan Berubah Menjadi Kebutuhan

Setiap manusia tentu ingin dihargai. Kita ingin didengar, dipercaya, dan dianggap berarti. Itu adalah kebutuhan yang wajar.

Namun masalah muncul ketika penghargaan berubah menjadi kebutuhan untuk selalu menjadi pusat.

Kita ingin pendapat kita yang paling didengar.

Pengorbanan kita yang paling diingat.

Keberadaan kita yang selalu diutamakan.

Akibatnya, kita mulai mengukur hubungan berdasarkan satu pertanyaan yaitu “Apa yang saya dapatkan dari orang lain?”

Ketika orang lain tidak memberikan pengakuan yang kita harapkan, kita merasa kecewa. Ketika mereka memiliki pilihan sendiri, kita merasa ditinggalkan. Ketika mereka tidak mengikuti keinginan kita, kita merasa kehilangan kendali.

Padahal hubungan yang sehat tidak dibangun agar satu orang menjadi pusat dari kehidupan semua orang.

Setiap manusia memiliki kehendak, batas, perasaan, dan tanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Mencintai tidak selalu berarti menguasai.

Memimpin tidak selalu berarti menentukan semuanya.

Dan dihormati tidak berarti semua orang harus selalu setuju.

Ketika Kepemimpinan Berubah Menjadi Dominasi

Di sinilah kita perlu memahami kembali makna kepemimpinan.

Memiliki posisi sebagai orang tua, suami, kakak, atasan, atau pemimpin tidak otomatis memberikan hak untuk memperlakukan orang lain sesuka hati.

Kekuasaan dapat membuat seseorang mampu mengendalikan orang lain. Tetapi kemampuan untuk mengendalikan bukanlah bukti bahwa seseorang layak memimpin.

Dalam Islam, kepemimpinan berkaitan dengan tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengubah cara kita memandang kekuasaan.

Menjadi pemimpin bukan berarti memiliki orang lain.

Menjadi pemimpin berarti memiliki tanggung jawab terhadap mereka.

Ada perbedaan besar antara seseorang yang berkata, “Mereka harus mengikuti saya,” dengan seseorang yang bertanya, “Apa yang menjadi tanggung jawab saya terhadap mereka?”

Yang pertama berpusat pada kekuasaan.

Yang kedua berpusat pada amanah.

Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Kepemilikan

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini mengingatkan bahwa amanah selalu berkaitan dengan keadilan.

Apa pun yang berada dalam posisi kita seperti jabatan, harta, pengaruh, bahkan kepercayaan dari keluarga, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.

Sebab sesuatu yang dititipkan kepada kita bukan berarti sepenuhnya menjadi milik kita untuk digunakan sesuka hati.

Ketika seorang manusia lupa bahwa kekuasaan adalah amanah, ia mulai merasa dirinya sebagai pusat. Ia ingin didengar, tetapi tidak mendengar. Ia ingin dihormati, tetapi tidak menghormati. Ia ingin ditaati, tetapi tidak merasa perlu memahami.

Di situlah kepemimpinan berubah menjadi dominasi.

Mengendalikan Diri Lebih Sulit daripada Mengendalikan Orang Lain

Mungkin kita terlalu sering melihat kekuatan dari kemampuan seseorang menguasai keadaan.

Padahal Rasulullah SAW memberikan ukuran yang berbeda:

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kekuatan sejati tidak selalu terlihat dari seberapa banyak orang yang dapat kita kendalikan.

Terkadang, kekuatan justru terlihat ketika kita mampu menahan keinginan untuk selalu benar, selalu menang, dan selalu menjadi pusat.

Muhasabah kemudian menjadi penting.

Sebelum bertanya mengapa orang lain sulit memahami kita, mungkin kita perlu bertanya, “Apakah saya sudah berusaha memahami mereka?”

Sebelum menuntut penghargaan, apakah kita sudah menghargai?

Sebelum meminta orang lain berubah, apakah kita sendiri bersedia berubah?

Keluar dari Pusat Diri dan Mulai Menjadi Manfaat

Salah satu cara untuk melatih diri agar tidak terus hidup dalam pusat ego adalah belajar melihat kehidupan di luar diri kita sendiri.

Bahwa ada kebutuhan yang tidak kita alami. Ada kesulitan yang tidak kita rasakan. Ada orang-orang yang membutuhkan dukungan tanpa pernah kita kenal secara pribadi.

Di sinilah kepedulian sosial memiliki makna yang lebih dalam.

Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar aktivitas memindahkan sebagian harta dari satu tangan ke tangan lain. Ia juga dapat menjadi latihan untuk mengingatkan diri bahwa apa yang kita miliki tidak seharusnya hanya berputar di sekitar diri kita sendiri.

Melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan keagamaan, BAZNAS menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengubah kepedulian menjadi manfaat yang lebih luas.

Pada akhirnya, melawan ego bukan berarti kita harus menghilangkan harga diri.

Melainkan belajar memahami bahwa harga diri tidak perlu dibangun dengan merendahkan, mengendalikan, atau menjadikan orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita.

Sebab mungkin bentuk kepemimpinan yang paling sulit bukanlah memimpin banyak orang.

Melainkan memimpin diri sendiri, sebelum mencoba mengendalikan kehidupan orang lain.

Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:

https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat

Konfirmasi ZIS: 081111112807

Artikel Lainnya :

Artikel BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
Dari Zakat dan Sedekah, Tumbuh Harapan untuk Anak Yatim
27 Aug 2026
Artikel
Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan
27 Aug 2026
Artikel
Tak Harus Kaya untuk Jadi Dermawan
27 Aug 2026
Artikel
Zakat Bukan Kuno: Anak Muda Kini Melek Kewajiban lewat BAZNAS
27 Aug 2026
Artikel
Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki
27 Aug 2026
Artikel
Ada Perbedaan Besar antara Ibadah karena Kebiasaan dan Ibadah karena Cinta
27 Aug 2026
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2026 - Baznas Kota Sukabumi