Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
Kita sering mengira masalah dalam sebuah kepemimpinan muncul ketika seseorang tidak mampu mengambil keputusan.
Padahal ada persoalan yang jauh lebih sulit terlihat yakni ketika seseorang mampu memimpin, tetapi tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Ia memiliki jabatan. Pendapatnya didengar. Keputusannya berpengaruh terhadap orang lain. Namun perlahan, sesuatu berubah. Kepemimpinan yang seharusnya menjadi amanah mulai digunakan untuk mempertahankan harga diri.
Kritik terasa seperti penghinaan. Perbedaan pendapat dianggap pembangkangan. Kesalahan orang lain mudah terlihat, tetapi kesalahan sendiri selalu memiliki pembenaran.
Di titik tertentu, pertanyaannya bukan lagi “Apakah dia mampu memimpin?”, melainkan “Siapa yang sebenarnya sedang memimpin, akal dan amanahnya, atau egonya?”
Memiliki posisi sering kali membuat seseorang memiliki lebih banyak kendali.
Seorang ayah memiliki pengaruh terhadap keluarganya. Seorang pemimpin memiliki pengaruh terhadap bawahannya. Seorang guru memiliki pengaruh terhadap muridnya. Bahkan seseorang yang tidak memiliki jabatan formal pun dapat memiliki pengaruh dalam lingkungan sosialnya.
Namun pengaruh tidak otomatis berarti keunggulan.
Justru semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula kemungkinan orang lain merasakan akibat dari keputusannya.
Masalah muncul ketika kekuasaan mulai dianggap sebagai bukti bahwa dirinya lebih penting daripada orang lain.
Ia tidak lagi mendengar untuk memahami, tetapi mendengar untuk mencari alasan mengapa dirinya tetap benar.
Ia tidak menerima kritik sebagai bahan evaluasi, tetapi sebagai ancaman terhadap citra dirinya.
Ia ingin dihormati, tetapi lupa bahwa penghormatan tidak dapat dipaksa.
Sebab orang mungkin dapat takut kepada seorang pemimpin, tetapi rasa takut tidak sama dengan rasa hormat.
Salah satu ujian terbesar bagi seseorang yang memiliki posisi adalah bagaimana ia menerima kritik.
Ketika dipuji, hampir semua orang mampu bersikap tenang.
Tetapi ketika seseorang mengatakan, “Anda salah,” di situlah karakter mulai terlihat.
Ego yang besar akan mencari pembelaan.
“Dia tidak memahami saya.”
“Dia tidak tahu apa yang saya lakukan.”
“Dia memang tidak suka kepada saya.”
Akhirnya, persoalan yang seharusnya dapat menjadi bahan perbaikan berubah menjadi persoalan harga diri.
Padahal kritik tidak selalu merupakan bentuk kebencian.
Kadang, kritik adalah cara orang lain menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat dari posisi kita sendiri.
Karena itu, pemimpin yang baik bukan orang yang tidak pernah dikritik.
Pemimpin yang baik adalah orang yang masih mampu mendengarkan ketika kritik itu menyakitkan.
Islam memberikan pandangan yang sangat berbeda tentang kepemimpinan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan kata yang digunakan yaitu dipertanggungjawabkan.
Kepemimpinan bukan terutama tentang berapa banyak orang yang berada di bawah kita.
Ia tentang berapa banyak amanah yang harus kita pertanggungjawabkan.
Seorang ayah tidak hanya memiliki hak untuk didengar oleh keluarganya, tetapi juga tanggung jawab untuk melindungi dan mengayomi.
Seorang atasan tidak hanya memiliki kewenangan memberikan tugas, tetapi juga tanggung jawab memperlakukan orang yang dipimpinnya secara adil.
Seseorang yang diberi pengaruh tidak hanya memperoleh kesempatan untuk menentukan arah, tetapi juga memperoleh kewajiban untuk mempertimbangkan dampak keputusannya.
Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula amanah yang mengikutinya.
Di sinilah pride atau kesombongan menjadi sesuatu yang perlu kita waspadai.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. An-Nisa: 36)
Kesombongan bukan hanya tentang membanggakan harta atau merasa lebih tinggi secara terang-terangan.
Ia dapat muncul ketika seseorang merasa dirinya terlalu penting untuk dikoreksi.
Ketika permintaan maaf terasa merendahkan martabat.
Ketika mengakui kesalahan dianggap sebagai kekalahan.
Ketika orang lain harus terus memahami dirinya, sementara ia tidak merasa perlu memahami orang lain.
Padahal, semakin tinggi seseorang berada dalam sebuah struktur, semakin penting baginya untuk memiliki kemampuan merendahkan ego tanpa merendahkan harga dirinya.

Kita sering berbicara tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik.
Namun mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar tentang bagaimana seseorang dapat memimpin orang lain jika ia bahkan belum mampu memimpin egonya sendiri?
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pengendalian diri adalah bentuk kepemimpinan yang paling dekat dengan kita.
Menahan diri ketika ingin membalas.
Mendengarkan ketika ingin memotong pembicaraan.
Mengakui kesalahan ketika ego meminta kita mencari alasan.
Memberikan kesempatan kepada orang lain ketika kita sebenarnya memiliki kekuasaan untuk memaksakan kehendak.
Hal-hal kecil inilah yang menunjukkan apakah seseorang benar-benar memimpin, atau sekadar memiliki posisi.
Mungkin perubahan terbesar dalam cara memandang kepemimpinan terjadi ketika pusat perhatian bergeser.
Dari “Bagaimana orang memperlakukan saya?” , menjadi “Bagaimana saya memperlakukan orang lain?”.
Dari “Mengapa mereka tidak mengikuti saya?”, menjadi “Apakah saya sudah memberikan alasan yang layak untuk dipercaya?”
Dan dari “Apa yang bisa saya dapatkan dari posisi ini?”, menjadi “Apa manfaat yang dapat saya berikan melalui posisi ini?”
Cara berpikir seperti ini juga selaras dengan semangat berbagai program BAZNAS. Kepedulian dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, maupun keagamaan pada dasarnya mengingatkan kita bahwa kemampuan yang dimiliki manusia dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Begitu pula zakat, infak, dan sedekah. Ia mengajarkan bahwa apa yang berada dalam genggaman kita tidak semata-mata tentang hak untuk memiliki, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk memberi manfaat.
Mungkin kita tidak semuanya memiliki jabatan.
Tetapi hampir setiap orang pernah berada dalam posisi untuk memengaruhi orang lain.
Menjadi orang tua. Menjadi pasangan. Menjadi kakak. Menjadi teman. Menjadi atasan. Bahkan menjadi seseorang yang pendapatnya didengar.
Maka artikel ini bukan hanya tentang pemimpin.
Ini tentang kita.
Sebab kursi kepemimpinan tidak selalu berbentuk jabatan. Kadang ia berbentuk rumah, keluarga, pekerjaan, atau kepercayaan seseorang kepada kita.
Dan ketika suatu hari kita diberi kekuasaan, mungkin yang paling perlu kita takutkan bukan kehilangan posisi.
Melainkan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara memimpin dengan menguasai, antara dihormati dengan ditakuti, dan antara amanah dengan kepentingan ego sendiri.
Karena masalah terbesar bukan ketika seseorang duduk di kursi kepemimpinan.
Masalahnya adalah ketika ego ikut duduk di sana dan tidak pernah mau turun.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :