Kita Terlalu Sibuk Menghitung Kekayaan, Sampai Lupa Menghitung Berapa Banyak Kebaikan yang Bisa Dilakukan
Setiap bulan kita terbiasa menghitung banyak hal. Berapa gaji yang masuk, berapa jumlah tabungan, berapa cicilan yang harus dibayar, berapa harga investasi yang dimiliki, bahkan berapa banyak barang yang berhasil dibeli. Kita diajarkan untuk mengelola keuangan dengan baik agar kehidupan semakin aman dan terencana.
Namun, pernahkah kita menghitung sesuatu yang berbeda?
Dari seluruh harta yang kita miliki, berapa banyak kebaikan yang sudah berhasil kita hasilkan?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi mungkin justru lebih sulit dijawab daripada menghitung jumlah saldo di rekening.
Tidak ada yang salah dengan memiliki tabungan, kendaraan, rumah, investasi, atau barang yang kita inginkan. Memiliki harta bukan sesuatu yang harus dianggap buruk. Justru, kemampuan mengelola keuangan merupakan bagian penting dari kehidupan.
Namun, persoalannya muncul ketika ukuran keberhasilan finansial hanya berhenti pada seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Kita merasa berhasil ketika tabungan bertambah. Merasa aman ketika aset semakin banyak. Merasa maju ketika penghasilan meningkat.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput yaitu,
“Setelah semua kebutuhan saya terpenuhi, apakah harta yang saya miliki juga memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain?”
Sebab harta dapat menjadi dua hal sekaligus, yaitu sesuatu yang kita miliki dan sesuatu yang kita manfaatkan.
Ketika harta hanya berhenti sebagai angka, nilainya mungkin hanya terasa bagi pemiliknya. Tetapi ketika sebagian harta berubah menjadi makanan bagi yang lapar, biaya pendidikan bagi anak yang membutuhkan, modal bagi seseorang untuk bangkit, atau bantuan bagi korban bencana, harta tersebut mulai memiliki nilai sosial yang jauh lebih luas.

Di sinilah cara kita memandang kekayaan perlu diperluas.
Kita sering bertanya, “Berapa banyak yang sudah saya punya?”
Mungkin sudah saatnya pertanyaan tersebut diubah menjadi:
“Berapa banyak manfaat yang bisa saya ciptakan dari apa yang saya punya?”
Perubahan pertanyaan ini bukan berarti kita harus memberikan seluruh harta yang dimiliki. Bukan pula berarti kita tidak boleh menikmati hasil kerja keras sendiri.
Justru, kita diajak untuk menyadari bahwa dalam rezeki yang kita miliki terdapat ruang untuk kepentingan orang lain.
Masalahnya, berbagi sering ditempatkan sebagai aktivitas yang dilakukan jika masih ada sisa.
Setelah kebutuhan terpenuhi, setelah keinginan tercapai, setelah tabungan aman, barulah kebaikan dipertimbangkan.
Padahal, jika kebaikan selalu menunggu sisa, kita mungkin akan selalu merasa belum memiliki cukup.
Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan. Harta merupakan amanah yang di dalamnya terdapat tanggung jawab.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 7:
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari apa yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dan amanah dari Allah SWT.
Karena itu, keberkahan harta tidak hanya dapat dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari bagaimana harta tersebut digunakan.
Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dari tanggung jawab tersebut. Ia bukan sekadar memberikan sebagian harta kepada orang lain, tetapi merupakan kewajiban bagi orang yang telah memenuhi syarat untuk menunaikannya.
Sementara infak dan sedekah membuka ruang yang lebih luas untuk berbagi sesuai kemampuan.
Kita mungkin sudah memiliki anggaran untuk makan, transportasi, hiburan, tabungan, investasi, dan kebutuhan lainnya.
Mengapa tidak mulai menyediakan ruang untuk anggaran kebaikan?
Tidak harus menunggu memiliki penghasilan besar.
Kita dapat mulai dari jumlah yang mampu diberikan secara rutin. Ketika menerima penghasilan, sebagian digunakan untuk kebutuhan, sebagian disimpan untuk masa depan, dan sebagian disisihkan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Dengan cara tersebut, zakat, infak, dan sedekah tidak lagi menjadi keputusan spontan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. Berbagi berubah menjadi kebiasaan dalam mengelola rezeki.
Dan ketika dilakukan bersama-sama, sesuatu yang tampak kecil dari satu orang dapat menjadi kekuatan besar bagi banyak orang.
Di sinilah peran lembaga zakat menjadi penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang mau memberi, tetapi juga membutuhkan pengelolaan dana yang dapat menghubungkan kebaikan para pemberi dengan kebutuhan masyarakat secara lebih terarah.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menunaikan zakat, infak, dan sedekah serta berkontribusi dalam menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara menghitung kekayaan.
Jangan hanya menghitung berapa rupiah yang berhasil kita kumpulkan.
Mulailah menghitung, “Berapa banyak orang yang bisa terbantu? Berapa banyak kehidupan yang bisa menjadi lebih baik? Berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari rezeki yang Allah titipkan kepada kita?”
Sebab pada akhirnya, ukuran kekayaan tidak hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan melalui apa yang kita miliki.
Tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk mulai berbagi. Tidak perlu menunggu memiliki kelebihan untuk melakukan kebaikan.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta perbanyak infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Mari ubah sebagian harta yang kita miliki menjadi manfaat yang dapat dirasakan orang lain.
Karena harta yang hanya tersimpan mungkin menambah angka, tetapi harta yang dibagikan dapat menambah kebermanfaatan.
Sisihkan sebagian dari apa yang kita miliki hari ini. Sebab bisa jadi, kebaikan yang kita berikan bukan hanya mengubah kehidupan orang lain, tetapi juga menjadi salah satu cara kita mempertanggungjawabkan rezeki yang telah Allah titipkan.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807