Rp50 Ribu Terasa Kecil Saat Belanja, Tapi Terasa Besar Saat Bersedekah. Kenapa?
Pernahkah kita membeli kopi seharga Rp50 ribu tanpa terlalu banyak berpikir? Atau mengeluarkan nominal yang sama untuk ongkos, makanan, langganan aplikasi, skincare, bahkan sekadar jajan karena sedang ingin sesuatu?
Anehnya, ketika nominal Rp50 ribu yang sama ditawarkan untuk disedekahkan, kita tiba-tiba berhenti dan berpikir, “Nanti dulu, masih banyak kebutuhan lain.”
Padahal nominalnya sama.
Lalu, sebenarnya apa yang membuat Rp50 ribu terasa kecil ketika digunakan untuk diri sendiri, tetapi terasa besar ketika diberikan kepada orang lain?
Pertanyaan ini mungkin sedikit mengganggu. Sebab, bisa jadi persoalannya bukan karena kita benar-benar tidak memiliki uang untuk bersedekah. Kita hanya lebih terbiasa memberikan uang kepada sesuatu yang manfaatnya dapat kita rasakan secara langsung.
Ketika membeli makanan, kita kenyang. Ketika membeli pakaian, kita bisa memakainya. Ketika membeli hiburan, kita mendapatkan kesenangan.
Sementara ketika bersedekah, hasilnya tidak selalu bisa kita lihat. Uang yang kita keluarkan mungkin berubah menjadi makanan untuk keluarga yang membutuhkan, biaya pendidikan seorang anak, bantuan kesehatan, atau dukungan bagi seseorang agar dapat bangkit dari kesulitan.
Di sinilah cara kita memandang uang perlu dipertanyakan.
Apakah nilai uang hanya ditentukan oleh apa yang bisa kita beli untuk diri sendiri, atau juga oleh seberapa besar manfaat yang bisa dihadirkannya untuk orang lain?
Sering kali kita tidak benar-benar menolak untuk berbuat baik. Kita hanya menundanya.
“Nanti kalau gaji sudah naik.”
“Nanti kalau kebutuhan sudah terpenuhi.”
“Nanti kalau punya uang lebih.”
Masalahnya, kata “nanti” dapat menjadi kebiasaan. Ketika penghasilan bertambah, kebutuhan dan keinginan pun ikut bertambah. Apa yang dulu dianggap cukup, perlahan terasa kurang.
Akibatnya, berbagi selalu ditempatkan setelah semua keinginan terpenuhi.
Padahal, jika kebaikan selalu menunggu sisa, mungkin kita akan terus mencari alasan bahwa belum ada yang tersisa.
Karena itu, sedekah seharusnya tidak selalu diposisikan sebagai pengeluaran setelah kebutuhan selesai. Ia dapat menjadi kebiasaan yang memang sengaja disisihkan sejak awal.

Islam tidak mengajarkan bahwa harta harus dijauhi. Harta boleh dimiliki, digunakan, dan dinikmati. Namun, harta juga memiliki dimensi sosial dan tanggung jawab di dalamnya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 92:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya berbicara tentang memberikan sesuatu yang sudah tidak kita inginkan.
Justru ada penekanan pada apa yang kita cintai.
Artinya, berbagi bukan sekadar memindahkan uang dari tangan kita kepada orang lain. Ada proses belajar melepaskan keterikatan terhadap harta.
Mungkin Rp50 ribu tidak akan membuat kita kaya. Tetapi kebiasaan menyisihkannya dapat mengubah cara kita memandang kekayaan.
Tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama. Karena itu, membandingkan nominal sedekah bukanlah tujuan.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan.
Kita dapat mulai dengan menyisihkan sebagian rezeki secara rutin. Ketika menerima penghasilan, sisihkan untuk kebutuhan, tabungan, dan juga kebaikan.
Dengan begitu, sedekah tidak lagi menunggu hati tergerak setelah melihat sebuah video viral atau kisah yang menyentuh. Kebaikan menjadi bagian dari cara kita mengelola rezeki.
Dan ketika kemampuan finansial meningkat, ruang untuk berbagi pun dapat diperluas.
Bagi yang telah memenuhi syarat, zakat bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban yang harus ditunaikan. Sementara infak dan sedekah dapat menjadi ruang untuk memperluas manfaat dari rezeki yang kita miliki.
Bayangkan jika kebiasaan kecil dilakukan oleh banyak orang.
Satu orang mungkin hanya mampu menyisihkan Rp50 ribu. Namun ketika banyak orang melakukan hal yang sama secara konsisten, nominal tersebut dapat dikumpulkan dan dikelola menjadi manfaat yang jauh lebih besar.
Di sinilah lembaga zakat memiliki peran. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk dalam bidang pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan pemberdayaan. BAZNAS Kota Sukabumi juga menyatakan komitmennya terhadap pengelolaan ZIS yang terukur, transparan, akuntabel, serta keterlibatan dalam kondisi bencana dan krisis.
Jadi, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaannya.
Bukan lagi, “Rp50 ribu ini terlalu besar untuk disedekahkan?”
Tetapi,
“Dari seluruh uang yang saya keluarkan bulan ini, mengapa tidak ada sebagian yang sengaja saya sisihkan untuk menjadi manfaat bagi orang lain?”
Karena pada akhirnya, persoalannya mungkin bukan tentang seberapa banyak harta yang kita punya.
Tetapi tentang ke mana harta yang kita punya diarahkan.
Mari mulai dari kemampuan yang kita miliki hari ini. Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta perbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar menghadirkan manfaat bagi sesama.
Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi secara mudah melalui kanal pembayaran resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu tersisa untuk berbuat baik. Sisihkan hari ini, karena kebaikan yang kecil ketika dilakukan dengan ikhlas dan konsisten dapat menjadi manfaat yang besar.
Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807