Kalau Tidak Viral, Apakah Penderitaan Menjadi Kurang Layak Dibantu?
Hari ini, sebuah bencana dapat menyebar ke seluruh Indonesia hanya dalam hitungan jam. Satu video korban yang menangis, satu unggahan rumah yang hancur, atau satu cerita tentang keluarga yang kehilangan tempat tinggal dapat membuat ribuan orang bergerak memberikan bantuan.
Donasi berdatangan. Informasi dibagikan. Banyak orang menunjukkan kepedulian.
Namun, coba bayangkan jika cerita tersebut tidak masuk beranda kita.
Tidak ada video yang viral. Tidak ada influencer yang membagikannya. Tidak ada unggahan yang mendapatkan jutaan tayangan.
Apakah penderitaan mereka kemudian menjadi kurang layak untuk dibantu?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh persoalan yang semakin relevan di era digital, yaitu apakah kepedulian kita mulai ditentukan oleh apa yang berhasil menarik perhatian algoritma?
Media sosial telah mengubah cara kita mengenal penderitaan orang lain.
Dulu, kita mungkin mengetahui sebuah bencana melalui berita televisi, surat kabar, atau informasi dari lingkungan sekitar. Sekarang, penderitaan dapat muncul di layar ponsel di antara konten hiburan, tren, dan iklan.
Masalahnya, algoritma tidak dirancang untuk menentukan siapa yang paling membutuhkan pertolongan. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian.
Cerita yang emosional lebih mudah mendapatkan tontonan. Gambar yang menyentuh lebih mudah dibagikan. Peristiwa yang ramai diperbincangkan lebih cepat memperoleh perhatian.
Akibatnya, tanpa sadar terbentuk apa yang bisa disebut sebagai “algoritma kepedulian” yaitu sebuah fenomena dimana kita cenderung lebih mudah membantu sesuatu yang lebih sering kita lihat.
Padahal, yang tidak viral bukan berarti tidak membutuhkan bantuan.
Ada keluarga yang tetap kesulitan meskipun kisahnya tidak pernah masuk media sosial. Ada anak yang membutuhkan biaya pendidikan tanpa memiliki cerita dramatis yang dapat menjadi viral. Ada masyarakat yang berjuang keluar dari kemiskinan tanpa kamera yang merekam perjuangan mereka.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Jangan-jangan masalah kemanusiaan hari ini bukan karena manusia semakin tidak peduli, tetapi karena kepedulian kita terlalu bergantung pada apa yang terlihat.
Ketika sebuah bencana viral, kita tergerak.
Ketika pemberitaan berhenti, perhatian ikut berpindah.
Kemudian muncul fenomena compassion fatigue kelelahan emosional karena terlalu sering melihat berbagai penderitaan. Kita terus melihat korban bencana, kemiskinan, kelaparan, dan penggalangan dana hingga akhirnya semua terasa seperti konten yang lewat begitu saja.
Kalau kebaikan hanya muncul ketika emosi kita berhasil disentuh, maka ada pertanyaan yang lebih besar yaitu,
“Bagaimana dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan ketika tidak ada seorang pun yang sedang memperhatikan?”
Kemanusiaan seharusnya tidak bekerja seperti algoritma.
Islam memiliki perspektif yang menarik tentang amal. Kebaikan tidak bergantung pada seberapa banyak orang melihatnya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 274:
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa nilai infak tidak ditentukan oleh apakah perbuatan tersebut menjadi tontonan banyak orang.
Bahkan, dalam banyak keadaan, kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui manusia justru menjadi bentuk keikhlasan yang sangat berharga.
Rasulullah SAW juga menyebutkan salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah seseorang yang bersedekah dengan begitu ikhlas hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesannya jelas yaitu kebaikan tidak membutuhkan penonton untuk menjadi berarti.
Media sosial tentu bukan musuh kemanusiaan. Justru teknologi dapat menjadi sarana luar biasa untuk menyebarkan informasi, menghubungkan orang yang membutuhkan dengan orang yang mampu membantu, dan memperluas jangkauan penggalangan dana.
Yang perlu diubah adalah cara kita menggunakannya.
Jangan menunggu sebuah penderitaan menjadi viral untuk mulai peduli.
Bangun kebiasaan berbagi bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam dan tidak ada cerita yang sedang ramai diperbincangkan.
Sebab kebaikan yang konsisten jauh lebih kuat daripada kepedulian yang hanya muncul sesekali.
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memiliki peran penting.
Kita tidak harus menunggu sebuah bencana muncul di beranda untuk mengeluarkan sebagian harta. ZIS dapat menjadi bagian dari kebiasaan berbagi yang dilakukan secara rutin.
Melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat dapat dihimpun dan dikelola untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan ketentuan dan program yang tersedia.
Dengan demikian, kepedulian tidak hanya diarahkan kepada mereka yang paling terlihat, tetapi juga dapat menjangkau mereka yang mungkin tidak pernah memiliki kesempatan untuk menceritakan penderitaannya kepada dunia.
Mungkin kita tidak bisa membantu semua orang.
Tetapi kita selalu bisa memilih untuk tidak menjadi orang yang hanya peduli ketika penderitaan seseorang masuk ke layar kita.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban. Sisihkan infak dan sedekah secara rutin sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Jadikan kebaikan sebagai kebiasaan, bukan reaksi terhadap viralitas.
Karena orang yang membutuhkan pertolongan tidak menjadi lebih layak dibantu hanya karena kisahnya viral.
Dan penderitaan yang tidak terlihat tetap merupakan penderitaan.
Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Jangan menunggu sebuah kisah menjadi viral untuk membuat kebaikan menjadi nyata.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807