BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Kemanusiaan
    • Kesehatan
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Dakwah
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Kalau Pendidikan Adalah Hak, Mengapa Kesempatan Belajar Masih Terasa Seperti Kemewahan bagi Sebagian Orang?

24 Aug 2026
Artikel
Kalau Pendidikan Adalah Hak, Mengapa Kesempatan Belajar Masih Terasa Seperti Kemewahan bagi Sebagian Orang?

Kalau Pendidikan Adalah Hak, Mengapa Kesempatan Belajar Masih Terasa Seperti Kemewahan bagi Sebagian Orang?

Dua Anak yang Sama-Sama Pintar, tetapi Tidak Memulai dari Tempat yang Sama

Bayangkan ada dua anak yang duduk di kelas yang sama.

Keduanya sama-sama cerdas. Nilai mereka tidak jauh berbeda. Keduanya memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sama-sama bercita-cita melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.

Tetapi ketika pulang sekolah, kehidupan mereka berbeda.

Anak pertama pulang ke rumah dengan akses internet, buku yang cukup, perangkat belajar, dan lingkungan yang mendukung. Ketika ada tugas yang sulit, ia bisa mencari informasi. Ketika membutuhkan buku tambahan, orang tuanya berusaha membelikan. Ketika harus mengikuti kegiatan pendidikan, transportasi dan biaya bukan persoalan yang terlalu besar.

Anak kedua mungkin harus memikirkan hal yang berbeda.

Apakah uang transportasi cukup untuk besok? Apakah buku yang dibutuhkan bisa dibeli? Apakah ia harus membantu orang tua bekerja? Apakah ia memiliki perangkat untuk mengikuti pembelajaran?

Keduanya mungkin memiliki kemampuan yang sama. Tetapi, apakah mereka benar-benar memiliki kesempatan yang sama?

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apakah Anak yang Pintar Selalu Memiliki Masa Depan yang Sama?

Kita sering percaya bahwa pendidikan adalah jalan bagi siapa saja yang mau berusaha.

Nasihatnya sederhana, “Belajarlah yang rajin, maka masa depanmu akan baik.”

Tentu, kerja keras dan kesungguhan belajar sangat penting. Namun, persoalannya tidak selalu berhenti pada kemauan.

Bagaimana jika seseorang memiliki keinginan untuk belajar, tetapi tidak memiliki biaya?

Bagaimana jika ia memiliki kemampuan, tetapi harus membagi waktunya antara sekolah dan membantu keluarga?

Bagaimana jika ia ingin melanjutkan pendidikan, tetapi akses transportasi, perangkat, atau kebutuhan dasar menjadi hambatan?

Maka muncul pertanyaan yang lebih mengganggu, yakni “apakah kita terlalu sering menilai kemampuan seseorang dari hasil akhirnya, tanpa melihat seberapa besar kesempatan yang ia miliki untuk sampai ke sana?”

Dua anak dapat mengerjakan soal yang sama. Namun, mereka belum tentu mempersiapkannya dengan sumber daya yang sama.

Karena kemampuan dan kesempatan adalah dua hal yang berbeda.

Kalau Pendidikan Adalah Hak, Mengapa Kesempatan Belajar Masih Terasa Seperti Kemewahan bagi Sebagian Orang?
Baznas Kota Sukabumi

Kesetaraan Tidak Selalu Berarti Keadilan

Ada perbedaan penting antara equality dan equity.

Equality berarti setiap orang diberikan hal yang sama.

Sedangkan equity berusaha memahami bahwa setiap orang memulai dari kondisi yang berbeda, sehingga dukungan yang dibutuhkan untuk mencapai kesempatan yang setara pun dapat berbeda.

Bayangkan tiga anak yang sama-sama diminta mengikuti perlombaan.

Mereka semua diberikan aturan yang sama.

Tetapi satu anak memiliki sepatu yang layak, satu anak tidak memiliki perlengkapan yang cukup, dan satu lainnya bahkan harus berjalan jauh sebelum mencapai tempat perlombaan.

Apakah perlombaan tersebut benar-benar dimulai secara setara?

Begitu pula dengan pendidikan.

Memberikan kesempatan belajar yang sama di atas kertas belum tentu berarti setiap anak benar-benar memiliki kemampuan yang sama untuk memanfaatkannya.

Sebab pendidikan tidak hanya membutuhkan kecerdasan.

Ia juga membutuhkan waktu, biaya, kesehatan, fasilitas, lingkungan, akses informasi, dan dukungan.

Ketika salah satu dari hal tersebut tidak tersedia, kemampuan seseorang dapat berhenti bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena kesempatan untuk berkembang semakin sempit.

Jangan Terlalu Cepat Menilai Hasil Akhir

Ketika melihat seseorang tidak melanjutkan sekolah atau tertinggal dalam pendidikan, kita mungkin tergoda untuk membuat kesimpulan sederhana yaitu “mungkin dia memang tidak cukup berusaha.”

Padahal, kita tidak selalu mengetahui cerita yang terjadi di belakangnya.

Mungkin ia harus membantu orang tua.

Mungkin keluarganya menghadapi kesulitan ekonomi.

Mungkin biaya pendidikan terasa lebih besar daripada kemampuan yang dimiliki.

Atau mungkin, ia hanya membutuhkan satu kesempatan kecil untuk terus melangkah.

Inilah mengapa pendidikan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan siapa yang paling pintar, tetapi juga sebagai persoalan siapa yang memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Allah SWT berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu. Namun, jika ilmu memiliki kedudukan yang begitu penting, maka membantu seseorang memperoleh dan mempertahankan akses terhadap pendidikan juga merupakan bagian dari menghadirkan kemaslahatan.

Pendidikan tidak seharusnya menjadi pintu yang hanya mudah dibuka oleh mereka yang lahir dengan lebih banyak sumber daya.

Membantu Pendidikan Berarti Menjaga Sebuah Kemungkinan

Ketika seorang anak menghadapi keterbatasan biaya pendidikan, bantuan mungkin terlihat sederhana.

Seragam, biaya sekolah, transportasi, hingga beasiswa.

Namun, yang sebenarnya sedang dijaga bukan hanya kebutuhan hari ini.

Yang sedang dijaga adalah kemungkinan.

Kemungkinan bahwa seorang anak dapat tetap belajar.

Kemungkinan bahwa keterbatasan ekonomi tidak memaksanya menghentikan pendidikan.

Kemungkinan bahwa kemampuan yang dimilikinya tidak berhenti hanya karena ia tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengembangkannya.

Dalam hal inilah, kepedulian terhadap pendidikan tidak seharusnya dipandang sebagai sekadar bentuk belas kasihan.

Ia adalah bentuk kesadaran bahwa potensi manusia dapat hilang ketika kesempatan untuk mengembangkannya tidak tersedia.

ZIS dan Kesempatan untuk Terus Melangkah

Zakat, infak, dan sedekah memiliki dimensi sosial yang memungkinkan harta tidak hanya berhenti pada kepemilikan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Allah SWT mengingatkan pada QS. Adz-Dzariyat: 19 bahwa pada harta yang dimiliki terdapat perhatian terhadap mereka yang membutuhkan.

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”
(QS. Adz-Dzariyat: 19)

Melalui pengelolaan ZIS, dukungan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya membantu mereka yang menghadapi keterbatasan, termasuk dalam menjaga akses terhadap pendidikan.

Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dapat menjadi jembatan antara kemampuan masyarakat untuk berbagi dan kebutuhan mereka yang memerlukan dukungan untuk terus berkembang.

Karena bantuan pendidikan bukan sekadar tentang membayar biaya.

Kadang, ia adalah tentang memastikan bahwa seorang anak tidak harus menyerah sebelum sempat menunjukkan kemampuannya.

Mungkin Mereka Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Kemampuan, tetapi Lebih Banyak Kesempatan

Tidak semua orang membutuhkan motivasi tambahan.

Tidak semua orang kekurangan kemauan.

Mungkin ada yang sebenarnya sudah berusaha, sudah belajar, dan sudah memiliki kemampuan.

Mereka hanya belum memiliki kesempatan yang cukup.

Karena itu, jangan terlalu cepat menilai seseorang dari sejauh apa ia telah berhasil. Kita tidak pernah benar-benar tahu dari titik mana ia memulai perjalanannya.

Jika hari ini kita memiliki kemampuan untuk membantu, zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas kesempatan tersebut.

Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.

Karena mungkin, sebuah bantuan yang kita anggap kecil hari ini bukan hanya membantu seseorang membayar kebutuhan pendidikan. Ia mungkin sedang menjaga masa depan yang hampir kehilangan kesempatan untuk tumbuh.

Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:

https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat

Konfirmasi ZIS: 081111112807

Artikel Lainnya :

Artikel BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
Banyak yang Dicari, Satu yang Sering Dilupakan: Rahasia Menemukan Ketenangan
24 Aug 2026
Artikel
Dari Tangan Muzaki, Tumbuh Harapan bagi Pelaku Usaha Kecil
24 Aug 2026
Artikel
Berapa Harga yang Harus Dibayar Ketika Seorang Anak Berhenti Sekolah?
24 Aug 2026
Artikel
Kalau Kita Tahu Mana yang Benar, Mengapa Kita Tetap Sering Memilih yang Salah?
24 Aug 2026
Artikel
Berapa Banyak Keputusan Buruk yang Sebenarnya Bisa Dicegah oleh Pendidikan?
24 Aug 2026
Artikel
FOMO Sama Dunia? 7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
24 Aug 2026
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2026 - Baznas Kota Sukabumi