AWAS! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Membuat Hati Kehilangan Ketenangan
Pernah merasa hidup sebenarnya baik-baik saja, tetapi hati tetap terasa gelisah? Tidak sedang menghadapi masalah besar, tetapi pikiran sulit tenang, mudah membandingkan diri dengan orang lain, dan diam-diam merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan?
Bisa jadi, ada kebiasaan sepele yang tanpa sadar sedang memenuhi hati.
Kebiasaan tersebut adalah terlalu sering membandingkan diri, memikirkan kehidupan orang lain, menyimpan rasa iri, hingga sulit memaafkan kesalahan orang. Jika dibiarkan, hal-hal kecil ini dapat membuat hati semakin jauh dari ketenangan.
Dalam Islam, ketenangan hati bukan hanya tentang memiliki banyak harta atau terbebas dari masalah. Ketenangan berkaitan erat dengan hubungan seorang hamba kepada Allah.
Kita hidup di zaman ketika kehidupan orang lain begitu mudah terlihat. Media sosial membuat kita dapat mengetahui pencapaian, pekerjaan, rumah, kendaraan, perjalanan, bahkan kebahagiaan orang lain hanya dalam hitungan detik.
Tanpa sadar, kita mulai berkata dalam hati:
“Kenapa hidup dia lebih baik?”
“Kapan saya bisa seperti dia?”
“Kenapa rezekinya lebih banyak?”
Jika tidak dikendalikan, kebiasaan membandingkan diri dapat berkembang menjadi iri, dengki, kecewa, bahkan membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Apa yang terlihat indah dari kehidupan seseorang belum tentu menggambarkan seluruh perjuangannya.
Allah mengingatkan agar kita tidak terus-menerus menginginkan kelebihan yang diberikan kepada orang lain.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini mengajarkan kita untuk berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan diri sendiri.

Dengki bukan sekadar merasa ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Dengki juga dapat membuat seseorang tidak senang melihat saudaranya memperoleh kebaikan.
Rasulullah ﷺ bahkan secara tegas melarang umatnya saling membenci dan saling dengki.
لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling dengki, janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Al-Adab Al-Mufrad no. 398)
Selain menghindari dengki, kita juga perlu belajar memaafkan.
Menyimpan dendam mungkin terasa seperti sedang menghukum orang yang pernah menyakiti kita. Padahal, sering kali justru diri sendiri yang terus membawa beban tersebut.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan tersebut terus menguasai hati.
Hati yang dipenuhi dendam akan sulit menikmati nikmat. Sebaliknya, hati yang belajar memaafkan memiliki ruang yang lebih luas untuk bersyukur, mencintai, dan berbuat baik.
Islam memberikan jawaban yang sangat jelas tentang bagaimana mendapatkan ketenangan hati.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan sejati bukan semata-mata berasal dari keadaan hidup yang sempurna. Hati membutuhkan Allah.
Jika ingin hati lebih tenang, kita bisa memulainya dari hal sederhana:
Kita begitu memperhatikan kebersihan rumah, pakaian, kendaraan, bahkan tampilan media sosial. Namun terkadang lupa membersihkan sesuatu yang jauh lebih penting: hati.
Hati perlu dibersihkan dari iri, dengki, dendam, sombong, dan terlalu mencintai dunia.
Salah satu cara membersihkannya adalah dengan berbagi.
Ketika kita menyisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah, kita bukan hanya membantu orang lain. Kita juga sedang belajar melepaskan keterikatan berlebihan kepada harta dan menumbuhkan rasa syukur.
Ada orang yang hari ini sedang kesulitan memenuhi kebutuhan makan. Ada anak yang membutuhkan pendidikan. Ada keluarga yang membutuhkan bantuan kesehatan. Ada saudara kita yang mungkin hanya membutuhkan sedikit uluran tangan untuk kembali bangkit.
Jangan biarkan rezeki berhenti hanya menjadi milik kita.
Mari salurkan sebagian rezeki melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kebaikan yang kita miliki dapat menjadi manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Karena terkadang, ketenangan yang kita cari bukan datang setelah memiliki lebih banyak, tetapi setelah kita belajar berbagi lebih banyak.
Jika hari ini Allah memberikan rezeki kepada kita, mari sisihkan sebagian untuk zakat, infak, atau sedekah.
Kebaikan kecil dari kita mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi penerima manfaat, bisa menjadi harapan yang sangat berarti.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :