Jangan-Jangan Kita Bukan Generasi yang Kurang Peduli, Melainkan Generasi yang Terlalu Banyak Melihat
Setiap hari, kita melihat begitu banyak penderitaan melalui layar ponsel.
Pagi hari kita melihat berita tentang bencana. Siang hari muncul penggalangan dana untuk biaya pengobatan. Sore hari ada video keluarga yang kehilangan rumah. Malamnya, kita melihat kisah kemiskinan, kelaparan, anak yatim, hingga orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Kita melihat semuanya.
Kita mungkin terkejut. Kita merasa iba. Bahkan terkadang kita ikut membagikan informasi tersebut.
Tetapi setelah beberapa detik, kita scroll ke konten berikutnya.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang mungkin tidak nyaman, jangan-jangan kita bukan generasi yang kurang peduli, melainkan generasi yang terlalu banyak melihat?
Dahulu, kita mungkin hanya mengetahui penderitaan orang lain ketika berita besar muncul di televisi atau ketika seseorang di sekitar kita mengalami musibah.
Sekarang berbeda.
Dalam satu hari, kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan cerita manusia yang sedang menghadapi kesulitan.
Teknologi membuat dunia terasa semakin dekat. Namun, kedekatan informasi ternyata tidak selalu menghasilkan kedekatan emosional.
Terlalu sering melihat penderitaan dapat membuat kita mengalami semacam kelelahan kepedulian. Bukan karena hati kita sepenuhnya menjadi dingin, tetapi karena otak kita terus-menerus menerima informasi yang menguras perhatian dan emosi.
Akibatnya, penderitaan yang seharusnya membuat kita berhenti justru menjadi sesuatu yang biasa.
Kita berkata, “Kasihan.”
Kemudian kita scroll.
Kita berkata, “Semoga segera mendapat bantuan.”
Lalu kita scroll lagi.
Masalahnya bukan lagi apakah kita tahu atau tidak.
Kita tahu. Tetapi apakah pengetahuan itu pernah berubah menjadi tindakan?
Mungkin inilah yang perlu kita renungkan.
Kita tidak mungkin membantu semua orang yang muncul di layar. Penghasilan kita terbatas. Waktu kita terbatas. Kemampuan kita pun berbeda-beda.
Namun, keterbatasan bukan berarti kita tidak dapat melakukan apa pun.
Kemanusiaan tidak selalu membutuhkan tindakan luar biasa. Terkadang, ia membutuhkan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Masalahnya, kita sering menunggu hati tersentuh terlebih dahulu untuk melakukan kebaikan.
Ketika melihat korban bencana, kita ingin berdonasi.
Ketika melihat anak yang kelaparan, kita ingin membantu.
Ketika melihat seseorang menangis karena kehilangan rumah, kita merasa ingin berbagi.
Tetapi ketika cerita itu sudah tidak muncul di beranda, dorongan tersebut ikut menghilang.
Kalau kebaikan selalu menunggu emosi, bagaimana kita bisa konsisten berbuat baik ketika tidak ada cerita yang sedang membuat kita tersentuh?
Media sosial memang dapat menjadi alat yang luar biasa untuk menyebarkan kebaikan. Sebuah unggahan dapat mempertemukan orang yang membutuhkan dengan orang yang memiliki kemampuan untuk membantu.
Namun, jangan sampai algoritma justru menjadi penentu siapa yang pantas mendapatkan perhatian kita.
Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membuat kisah hidupnya viral.
Tidak semua penderitaan memiliki foto yang menyentuh.
Tidak semua keluarga yang membutuhkan bantuan mampu mengunggah cerita mereka.
Padahal, tidak terlihat bukan berarti tidak membutuhkan.
Di sinilah kemanusiaan seharusnya melampaui layar.
Kita perlu membangun kebiasaan untuk peduli bukan hanya ketika penderitaan hadir di depan mata, tetapi juga ketika kita menyadari bahwa di luar lingkaran kehidupan kita, ada banyak orang yang sedang berjuang.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk berbuat baik hanya ketika melihat penderitaan secara langsung.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa satu kebaikan dapat berkembang menjadi manfaat yang jauh lebih besar.
Dalam Islam, berbagi bukan hanya reaksi terhadap keadaan, tetapi bagian dari kehidupan seorang Muslim.
Zakat memiliki sifat wajib bagi mereka yang telah memenuhi syarat. Sementara infak dan sedekah memberikan ruang bagi setiap orang untuk berbagi sesuai kemampuan.
Dengan menjadikan ZIS sebagai kebiasaan, kita tidak perlu menunggu sebuah kisah menjadi viral untuk mengingat bahwa ada orang lain yang membutuhkan.
Mungkin kita tidak mampu membantu semua orang.
Tetapi kita bisa mulai dengan mengubah satu hal sederhana, jangan biarkan rasa peduli berhenti menjadi perasaan.
Jika melihat penderitaan membuat kita tergerak, lakukan sesuatu sesuai kemampuan.
Jika memiliki rezeki lebih, sisihkan sebagian.
Jika belum mampu memberi banyak, berikan sesuai kemampuan.
Jika ingin memastikan bantuan dikelola dan disalurkan secara lebih terarah, kita dapat menyalurkannya melalui lembaga zakat.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menunaikan zakat, infak, dan sedekah untuk turut menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Dengan begitu, kebaikan tidak hanya bergantung pada apa yang sedang muncul di layar kita.

Setiap hari kita mungkin akan terus melihat penderitaan melalui layar.
Bencana baru akan terjadi. Penggalangan dana baru akan muncul. Kisah kesulitan baru akan dibagikan.
Kita tidak mungkin menghentikan semua penderitaan itu.
Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang mengetahui terlalu banyak, tetapi melakukan terlalu sedikit.
Mari ubah scroll menjadi aksi.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Karena kemanusiaan bukan tentang seberapa banyak penderitaan yang mampu kita lihat.
Kemanusiaan adalah tentang berapa banyak kebaikan yang bersedia kita lakukan setelah melihatnya.
Jangan tunggu hati tersentuh oleh cerita berikutnya. Jadikan berbagi sebagai kebiasaan, bukan sekadar reaksi.
Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat
Konfirmasi ZIS: 081111112807
Artikel Lainnya :