BAZNAS
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Kemanusiaan
    • Kesehatan
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Dakwah
  • ZAKAT
  • INFAK
  • FIDYAH
BAZNAS
  • Infak
  • Zakat
  • Fidyah
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Program
    • Laporan
    • Kontak Kami
    • Pengaduan
  • PPID
  • Layanan
    • Rekening Zakat
    • Kalkulator Zakat
    • Konfirmasi Donasi
    • Channel Pembayaran
    • Jemput Zakat
  • Kabar
    • Semua
    • Artikel
    • Cerita Aksi
    • Press Release
  • Donasi
    • Bantuan Sosial
    • Tunaikan Sedekah Terbaikmu Hari Ini

Apakah Seseorang Berhenti Berharga Ketika Ia Berhenti Produktif?

19 Aug 2026
Artikel
Apakah Seseorang Berhenti Berharga Ketika Ia Berhenti Produktif?

Apakah Seseorang Berhenti Berharga Ketika Ia Berhenti Produktif?

Sejak kecil, kita hampir selalu diajarkan untuk menjadi seseorang yang berguna. Belajar dengan baik, mendapatkan pekerjaan, menghasilkan uang, membangun karier, lalu menjadi mandiri. Hampir seluruh perjalanan hidup kita seperti diarahkan menuju satu kata yakni “produktif.”

Kita bangga ketika mampu bekerja. Kita merasa berhasil ketika penghasilan meningkat. Kita menganggap seseorang hebat ketika ia mampu menghasilkan sesuatu.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, “apa yang terjadi ketika seseorang tidak lagi mampu produktif?”

Ketika seseorang memasuki usia lanjut, mengalami disabilitas, sakit, atau kehilangan kemampuan untuk bekerja, apakah nilai dirinya ikut berkurang?

Tentu tidak. Tetapi tanpa sadar, masyarakat sering kali memperlakukan produktivitas seolah-olah menjadi ukuran dari nilai seorang manusia.

Ketika Produktivitas Menjadi Ukuran Nilai Manusia

Tidak ada yang salah dengan menjadi produktif.

Bekerja, berkarya, memperoleh penghasilan, dan menjadi mandiri merupakan hal yang baik. Persoalannya muncul ketika kemampuan menghasilkan sesuatu mulai dianggap sebagai ukuran utama apakah seseorang berguna atau tidak.

Kita sering mendengar kalimat seperti, “Dia sukses karena penghasilannya besar.” atau “Dia hebat karena mampu mandiri.”, hingga “Dia produktif karena masih bekerja di usia tua.”

Sebaliknya, orang yang tidak bekerja atau tidak mampu menghasilkan pendapatan sering kali dianggap sebagai pihak yang harus terus dibantu.

Padahal, produktivitas ekonomi hanyalah salah satu bentuk kontribusi manusia.

Seorang ibu yang telah menghabiskan puluhan tahun membesarkan anak mungkin tidak memiliki penghasilan. Seorang lansia mungkin sudah tidak mampu bekerja, tetapi pernah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk keluarga. Seseorang dengan disabilitas mungkin memiliki keterbatasan dalam bekerja, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk mencintai, mengajarkan sesuatu, menjaga keluarga, dan memberi makna bagi orang-orang di sekitarnya.

Lalu, apakah semua kontribusi tersebut menjadi tidak berarti hanya karena tidak menghasilkan uang?

Bagaimana Jika “Mereka” Adalah Kemungkinan “Kita”?

Ini mungkin bagian yang paling jarang kita pikirkan.

Hari ini kita mungkin masih sehat.

Kita masih bisa berjalan, bekerja, mencari penghasilan, mengurus diri sendiri, dan memenuhi kebutuhan tanpa bantuan orang lain.

Tetapi apakah kondisi tersebut akan selalu sama?

Usia bertambah.

Tubuh berubah.

Kemampuan dapat berkurang.

Keadaan hidup dapat berubah karena sakit, kecelakaan, atau berbagai keadaan yang tidak pernah kita rencanakan.

Karena itu, kelompok rentan sebenarnya bukan sepenuhnya “mereka” yang berbeda dari “kita”.

Mereka adalah pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Dan suatu hari, bisa saja kita berada pada posisi yang membutuhkan bantuan orang lain.

Apakah Seseorang Berhenti Berharga Ketika Ia Berhenti Produktif?
Baznas Kota Sukabumi

Islam Tidak Mengukur Kemuliaan dari Produktivitas

Islam memberikan perspektif yang jauh lebih luas tentang nilai manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah kekayaan, jabatan, usia, kekuatan fisik, ataupun kemampuan menghasilkan pendapatan.

Nilai manusia tidak hilang hanya karena tubuhnya melemah atau kemampuannya berkurang.

Dalam Islam, manusia memiliki martabat yang harus dijaga.

Karena itu, membantu lansia, penyandang disabilitas, orang sakit, dan kelompok rentan bukan sekadar tindakan karena merasa kasihan. Ia merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan dan martabat sesama manusia.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim).

Pesannya sederhana yakni kemampuan yang kita miliki hari ini seharusnya tidak hanya digunakan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga menjadi jalan bagi kebaikan orang lain.

Kemanusiaan Tidak Boleh Hanya Berpihak kepada yang Mampu

Masyarakat yang manusiawi bukan hanya masyarakat yang memberikan penghargaan kepada mereka yang mampu berkontribusi secara ekonomi.

Masyarakat yang manusiawi adalah masyarakat yang tetap memastikan bahwa seseorang memiliki kehidupan yang layak bahkan ketika ia tidak mampu melakukan semuanya sendiri.

Di sinilah dukungan terhadap kelompok rentan menjadi penting.

Bantuan kebutuhan dasar, makanan, layanan kesehatan, alat bantu, dukungan bagi lansia, penyandang disabilitas, maupun keluarga yang berada dalam kondisi rentan bukan sekadar pemberian.

Di baliknya ada pesan yang berbicara bahwa “Kamu tetap berharga, meskipun saat ini kamu membutuhkan bantuan.”

ZIS sebagai Bentuk Nyata Menjaga Martabat

Keyakinan tersebut tidak akan memiliki arti jika hanya berhenti sebagai pemikiran.

Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memberikan ruang bagi kita untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata.

Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan ZIS untuk membantu masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku, termasuk dukungan kemanusiaan dan kelompok rentan.

Dengan begitu, kita tidak sekadar memberikan uang.

Kita ikut membantu menghadirkan akses, keamanan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.

Jika Suatu Hari Kita Tidak Lagi Produktif

Mungkin suatu hari kita tidak lagi menjadi orang yang mampu memberi.

Mungkin suatu hari kita justru membutuhkan tangan orang lain.

Jika hari itu datang, kita tentu berharap dunia tidak menilai kita dari seberapa banyak yang masih mampu kita hasilkan.

Karena itu, selama hari ini kita masih memiliki kemampuan untuk membantu, mari gunakan sebagian kemampuan tersebut untuk memastikan orang lain tetap merasa berharga.

Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak menjadi berharga karena ia mampu menghasilkan sesuatu.

Manusia berharga karena ia adalah manusia.

Dan mungkin, salah satu bentuk kemanusiaan yang paling nyata adalah memastikan bahwa mereka yang tidak lagi mampu berdiri sendiri tetap memiliki alasan untuk merasa bahwa hidup mereka berarti.

Mari salurkan ZIS melalui BAZNAS Kota Sukabumi melalui:

https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat

Konfirmasi ZIS: 081111112807

Artikel Lainnya :

Artikel BAZNAS Kota Sukabumi
Share

Baca Juga

Artikel
Ketika Rezeki Menjadi Amanah, Sudahkah Kita Membagikannya?
19 Aug 2026
Artikel
Kapan Sebuah Bantuan Berubah Menjadi Ketergantungan?
19 Aug 2026
Artikel
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
19 Aug 2026
Artikel
AWAS! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Membuat Hati Kehilangan Ketenangan
19 Aug 2026
Artikel
Mungkin Masalahnya Bukan Kita Belum Punya Banyak Harta, Tapi Kita Belum Belajar Bertanggung Jawab atas Harta yang Sudah Ada
19 Aug 2026
Artikel
Jangan-Jangan Kita Bukan Generasi yang Kurang Peduli, Melainkan Generasi yang Terlalu Banyak Melihat
19 Aug 2026
BAZNAS Gedung Islamik Center, Jl. Veteran II No.2, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
(0266) 6245222

Kenali Kami

  • Tentang Kami
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Hubungi Kami

Layanan

  • Rekening Zakat
  • Konfirmasi Donasi
  • Kalkulator
  • Channel Pembayaran
  • Jemput Zakat

Donasi

  • Program
  • Zakat
  • Infak
  • Fidyah

Ikuti Kami

  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
  • Baznas Kota Sukabumi
© 2026 - Baznas Kota Sukabumi